Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Panti Mulia Dharma Kini jadi Satu-satunya Panti Jompo Pemerintah

Misbahul Munir S • Minggu, 29 Mei 2022 | 10:39 WIB
BERAKTIVITAS: Beberapa penghuni Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma Jalan Adi Sucipto, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, saat melakoni aktivitasnya sehari-hari. HARYADI/PONTIANAK POST
BERAKTIVITAS: Beberapa penghuni Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma Jalan Adi Sucipto, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, saat melakoni aktivitasnya sehari-hari. HARYADI/PONTIANAK POST
Penghuni Bertambah, Pengelola Berharap Perbaikan Bangunan

Panti Sosial Rahabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma kini menjadi satu-satunya panti jompo milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat (Kalbar), setelah Panti Sosial Rehablitasi Mustika Dharma di Ketapang ditutup awal tahun lalu. Para pengelola panti pun harus kembali bekerja ekstra lantaran penghuni panti dari Ketapang kini digabung menjadi satu di panti jompo yang terletak di Jalan Adisucipto, Km. 12,6 Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya itu.

Ashri Isnaini, Sungai Raya

WAKTU menunjukkan pukul 9.30 WIB, Jumat (27/5), para lansia penghuni panti jompo baru selesai mengikuti senam yang digelar pengelola panti. Dari kejauhan beberapa di antaranya tampak duduk bersandar di kursi teras wisma sembari saling bersenda gurau dengan sesama penghuni panti.

“Biasanya memang setiap Jumat pagi kami berikan olahraga ringan seperti senam lansia. Jadi bagi lansia yang masih mampu ikut, kami ajak untuk sama-sama berolahraga. Namun bagi yang sudah tidak mampu kadang mereka lihat saja ada juga yang sambil berjemur di bawah sinar matahari pagi,” papar Kepala UPT Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma, Dinas Sosial Kalimantan Barat, Syarif Mussadiq kepada Pontianak  Post.

Semula Panti Sosial Rahabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma dihuni 44 lansia. Namun sejak awal Januari 2022, ketika Panti Rehabilitasi Lanjut Usia Mustika Dharma di Ketapang tutup membuat semua kliennya digabung untuk menetap di Panti Mulia Dharma.

“Seingat saya 5 Januari lalu semua penghuni Panti Jompo di Ketapang diberangkatkan untuk bergabung di Panti Jompo Mulia Dharma ini,” ujarnya.

Sebelumnya total penghuni panti Mustika Dharma di Ketapang sebanyak 50 lansia, namun ketika akan diberangkatkan ke Sungai Raya tepatnya di Panti Mulia Dharma, terdapat 25 orang lansia yang memutuskan dan diambil kembali pihak keluarga, 2 lansia meninggal, dan sebanyak 23 lansia memutuskan ikut pindah ke Panti Mulia Dharma Sungai Raya.

“Jika digabung, jadi jumlah semua lansia yang tinggal Panti Mulia Dharma saat ini sebanyak 67 lansia. Semua lansia ini berasal dari kabupaten/kota di Kalbar beberapa di antaranya ada juga yang dari luar Kalbar dengan usia mulai sekitar 60 tahun hingga 103 tahun,” terangnya.

Panti Sosial Rahabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma sendiri memiliki 10 wisma dan masing-masing wisma ditempati sekitar 6 hingga 7 lansia, sesuai dengan kapasitas wisma.

Digabungnya Panti Mustika Dharma dengan Panti Mulia Dharma ini dinilai Mussaddiq sebagai salah satu upaya pemerintah mengefeketifkan dan mengefesiensikan Standar Pelayanan Minimal (SPM) di bidang sosial, terutama bagi para penghuni panti jompo. Seperti diketahui, di Pemprov khususnya di bidang sosial memiliki pelayanan penanganan lansia terlantar, anak telantar, penyandang disablitas telantar, tuna sosial, dan korban bencana baik benca alam maupun bencana sosial. Panti Mulia Dharma ini nantinya, kata dia, mengampu dua tugas pokok dan fungsi yakni memberikan pelayanan lansia telantar dan penyandang disablitas telantar.

“Jadi di sini sudah mulai berjalan, khususnya lansia telantar dan disabilitas juga ada di sini dan Insya Allah pelayanan ini akan terus kami optimalkan,” imbuhnya.

Agar para lansia baru dari Panti Mustika Dharma Ketapang bisa beradaptasi baik dengan para penghuni Panti Mulia Dharma Sungai Raya, setiap harinya dia mengintruksikan dengan para perawat dan petugas panti untuk mengedukasi dan memberikan motivasi bagi para penghuni panti. Para petugas diarahkan dia untuk mengajak para penghuni panti memupuk rasa persaudaraan, kebersamaan, rasa saling menghargai, dan menghormati. “Dan Alhamadulillah secara bertahap mereka semua bisa saling beradaptasi dan berbaur satu sama lain. Untuk masalah kecil seperti salah paham antarsesama lansia itu biasa ada terjadi, namun bersyukurnya petugas kita sigap dan bisa menjadi penengah yang baik, sehingga bisa kembali membuat mereka saling akur satu sama lain,” ungkapnya.

Mussadiq tidak memungkiri menghadapi para lansia memang membutuhkan kesabaran. Terlebih, para perawat dan pelatih di sana sudah terbiasa dan terlatih menghadapi tingkah laku lansia yang kadang kala membuat jengkel. “Ya, kita anggap saja mereka sebagai orang tua sendiri, otomatis jadi wadah buat belajar utk lebih sabar juga buat kita,” katanya.

Mussadiq menerangkan, dari 67 lansia yang menetap di panti, terdapat beberapa lansia yang masuk dalam kategori disabilitas baik fisik dan mental, gangguan sensorik seperti penglihatan dan pendengaran. “Mengenai anggarannya penggabungan penghuni atau klien panti ini dilakukan di awal tahun, maknya anggarannya juga sudah disesuaikan oleh pemeirntah. Jadi untuk anggaran untuk pengelolaannya sehari-hari kami nilai masih mencukupi,” jelasnya.

Kendati demikian, Mussadiq mengaku saat ini terdapat sejumlah kerusakan-kerusakan kecil  pada sejumlah wisma. Dia memisalkan, kerusakan pada dinding, atap dan pagar utama keliling wisma. Mussadiq memaklumi jika terdapat kerusakan-kerusakan kecil pada sejumlah wisma, pasalnya sejak di bangun sekitar tahun 1977 lalu, panti jompo ini memang belum pernah di rehab total. “Sekadar direnovasi untuk perbaikan-perbaikan ringan ada, namun untuk yang rehab total itu sepertinya memang belum ada,” jelasnya.

Dia pun berharap ke depan, ada upaya pemerintah untuk membangun pagar utama keliling panti. Pasalnya dengan kondisi pagar yang memprihatinkan saat ini dinilai dia berpotensi membuat rasa tidak aman dan nyaman bagi para penghuni panti. “Karena pagar utamanya sudah tidak baik, belum lama ini ada lansia yang kabur dari panti itu kami dapatnya di Siantan. Ada juga karena ada gangguan mental terdapat lansia lainnya yang lari ke hutan, beruntung segera dikethuai dan petugas kami bisa berhasil membawanya ke panti. Makanya kami berharap ke depan pagar utama di panti ini bisa kembali dibangun sehingga kian memberikan rasa aman dan nyaman bagi para penghuni panti,” ungkapnya.

Ditanya jumlah petugas yang selalu siap memberikan pelayanan, kata Mussadiq, saat ini terdapat 13 tenaga honorer, di mana empat di antaranya perawat dan 16 Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di panti jompo ini. Mereka diharapkan memberikan pelayanan maksimal semua personel yang bertugas tersebut diberikan jadwal  piket setiap harinya.

“Untuk lansia yang sehat atau mandiri tidak ada masalah dalam mengurusnya, hanya saja bagi beberapa lansia yang tidak berdaya, artinya untuk mengurus diri sendiri sepertyi makan, minum, mandir dan sejenisnya sudah tidak mampu membuat petugas kami harus bekerja ekstra,” jelasnya.

Ditanya apakah pihak pengelola kewalahan menangani jumlah lansia yang bertambah seiring dengan bergabungnya penghuni panti jompo dari Ketapang, sejauh ini pihaknya masih bisa memberikan pelayanan dengan baik bagi semua lansia yang ada. “Sejauh secara umum memang belum ada kendala atau sampai kewalahan, karena sebelumnya di sini pernah jumlah lansia yang tinggal sebanyak 90 orang. Namun memang untuk para lansia yang tidak berdaya kami harus memberikan pelayanan yang ekstra,” jelasnya.

“Lansia yang tidak berdaya ini maksudnya semua keperluan mereka, mulai dari makan, mandi, dan sejenisnya harus kami bantu. Makanya ketika menerima lansia yang akan masuk, kami lebih utama lansia yang bisa beraktivitas dalam artinya bisa mengurus diri sendiri, walaupun dia tidak bisa jalan normal namun untuk beraktivitas makan, minum sendiri dan sejnsisnya itu tidak masalah bagi kami,” tambah Mussadiq.

Dia menerangkan bahwa para lansia yang menjadi penghuni panti jompo yakni merupakan lansia telantar atau tidak memiliki keluarga, lansia yang tidak mampu, dan beberapa di antaranya ada yang memang tidak dipedulikan pihak keluarga. “Jadi belum lama ini kami terima satu lansia yang sebelumnya tidak diurus anaknya. Info yang kami dapat anak lansia asal Kayong Utara ini sengaja menyimpan orang tuanya di kandang kambing, ada juga satu lansia dari Ketapang punya tujuh anak, tapi tak satupun anak-anaknya mau menampungnya. Kalau sudah begini, jadi kami terima lansia ini untuk tinggal di panti dan memang rata-rata lansia yang tinggal di sini merupakan lansia terlantar,” pungkasnya.

Banyak pengalaman menarik dialami para perawat lansia di panti jompo ini. Mereka tak sekadar merawat, namun juga menjadi teman bagi lansia untuk berbagi cerita. Salah satu perawat, Rahmat Haryadi (35) mengutarakan dalam kesehariannya dia mengecek kesehatan termasuk mempersiapkan obat-obatan untuk beberapa lansia yang membutuhkan.

“Jadi setiap harinya, saya berkunjung ke setiap wisma untuk mengecek kesehatan lansia, memastikan mereka sudah mandi, sampai membantu mereka membersihkan kamar,” ucap Rahmat.

Tak jarang, dalam kesehariannya dia menemukan para lansia yang sulit diajak bekerja sama. Misalnya ketika diminta untuk mandi, digambarkan dia bagaimana mereka seolah-olah ogah-ogahan. Ada pula yang mengaku kepada mereka sudah mandi, namun hanya akal-akalan saja.

“Mereka ini kadang mengaku sudah mandi, padahal belum. Kadang ada yang kurang memperhatikan kebersihan diri. Apalagi saat cuaca dingin, makin malas mandi,” terangnya.

Meski seringkali tingkah para lansia ini merepotkannya, namun Rahmat bisa memaklumi dan berusaha untuk tetap sabar. Apalagi jika mengingat perjalanan hidup mereka yang lalu dan akhirnya ditempatkan di panti. Ada orang tua yang ditelantarkan anak-anaknya, bertahun-tahun tidak pernah dikunjungi, bahkan ketika sakit tidak ada keluarga yang datang untuk menjenguk.

“Ketika dikabarkan bahwa orang tuanya dirawat di rumah sakit, tidak ada sama sekali keluarga yang datang. Ada yang saat ditelpon tidak diangkat. Bahkan waktu meninggal pun tidak ada yang peduli. Mereka menyerahkan seluruh pemakaman ke pihak UPT,” ucapnya.

Bagi Rahmat, merawat para lansia tak sekadar menjalankan tugas, namun merupakan sebuah pengabdian. Kesabaran memang sangatlah diperlukan dalam menghadapi tingkah para lansia yang lebih sering seperti anak-anak. Di samping itu, menghadirkan kasih sayang juga perlu dilakukan, agar membuat mereka merasa diperhatikan, serta memberikan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari di panti.

“Kami tidak sekadar merawat, tetapi kami di sini menjadi teman mereka. Mendengarkan cerita dan keluhan mereka,” pungkasnya.

Salah satu penghuni panti Panti Sosial Rahabilitasi Lanjut Usia Mulia Dharma, Sapunah (67) mengaku lebih merasa tenang dan nyaman ketika tinggal di panti jompo dari pada hidup bersama sanak keluarganya.

“Untuk saudara kandung dan keponakan Alhamdulillah masih ada dan sebagian besar mereka tinggal di Singkawang, namun saya rasa lebih nyaman dan tenang tinggal di panti, makanya sejak 4 tahun lalu saya memutuskan untuk menetap di panti saja,” ujarnya sembari menanti jam makan siang di panti bersama rekan-rekannnya.

Sapunah yang sebelumnya tinggal Panti Sosial Rehabilitasi Lanjut Usia Mustia Dharma Ketapang ini menceritakan, semula dirinya sempat ikut sang keponakan untuk berjualan kue dan membantu usaha katering sang keponakan. Namun beberapa bulan berjalan dia merasa tubuhnya mudah letih dan tak mampu setiap hari harus membantu beragam pekerjaan di rumah keponakannya. “Setelah saya fikir baik-baik, manya akhirnya saya putuskan untuk menetap di panti dan Alhamdulillah sejak di Panti Ketapang hingga Panti Jompo Mulia Dharma ini, saya dikelilingi teman-teman dan orang-orang yang tulus saya dan perhatian sama saya, makany saya betah,” paparnya.

Kendati betah, Sapunah tidak memungkiri terkadang ada rasa rindu dengan sanak keluargnya. Bersyukur sanak keluarga tidak melupakannya, terkadang saat ada waktu luang dirinya dijemput sanak keluarga untuk diajak kumpul bersama keluarga.

“Saya juga belum pasti ini, katanya nanti pas Lebaran Haji juga mau dijemput keluarga untuk diajak jalan-jalan ke Singkawang, semoga saja bisa diwujudkan saya tinggal tunggu kebar selanjutnya saja dari pihak keluarga,” ungkapnya.

Sementara penghuni panti jompo lainnya, Sayuti (103) mengaku dirinya diantarkan sang anak untuk tinggal di panti jompo. “Dulu itu saya suka sakit-sakitan dan tidak sembuh-sembuh, makanya diantarkan ke  panti dan Alhamdulillah setelah dirawat saya sembuhnya di panti ini, setelah itu saya merasa nyaman dan aman di sini, makanya menjadi betah walau harus jauh dari keluarga,” jelasnya.

Saat ditanya apakah tidak ingin kembali kumpul bersama sanak keluarga, pensiunan TNI berasal dari Surabaya ini mengaku di usia senjanya, dia hanya ingin hidup tenang. Ketenangan hidup tersebut didapatkannya saat hidup bersama teman-temannya di panti jompo.

“Ada beberapa waktu lalu anak angkat saya telepon, Cuma sampai sekarang belumada kabar lagi, mungkin saja dia lagi sibuk,” imbuhnya.

“Di usia saya yang sekarang. Yang saya pikirkan hanya bagaimana bisa terus meningkatkan kaulitas amal ibadah saya, semoga saja Allah Subhanahu wata’ala selalu memberikan kesehatan dan panjang umur buat saya sehingga bisa terus beribadaha dan banyak melakuakn beragam kegiatan positif lain yang masih bisa saya perbuat setiap harinya,” tambah Sayuti. (*) Editor : Misbahul Munir S
#panti #pemerintah #panti jompo #mulia dharma