Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ritual Penti Manggarai-Flores

Misbahul Munir S • Minggu, 9 Oktober 2022 | 13:25 WIB
PETARUNG : Sebagian petarung yang turun di arena permainan. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST
PETARUNG : Sebagian petarung yang turun di arena permainan. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST
Berterimakasih Pada Leluhur Daerah Asal dan Domisili

Ritual Penti kembali digelar warga Manggarai asal Flores, Nusa Tenggara Timur, Oktober 2022. Cuaca Kota Pontianak yang kurang bersahabat beberapa waktu belakangan, tak menyurutkan semangat orang-orang Manggarai merayakan Penti setiap tahunnya, selama dua hari.  Pada Jumat (7/10) malam, Penti dimulai dengan ritual Teing Hang.  Puncak acaranya, digelar Sabtu (8/10) dengan ritual Torok Ela, yang dirangkai dengan permainan Caci.

BAS ANDREAS, Pontianak

“Selain berterimakasih kepada orang-orang tua dan leluhur di Manggarai, kita juga berterimakasih dengan leluhur yang ada di sini (Kalbar, Red). Karena kita sudah bersatu dan menjadi warga di sini,” kata Nasus, Sabtu (8/10).

Penti yang digelar warga Manggarai setiap pertengahan tahun, sebut dia, dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas rejeki yang didapatkan. Di acara Penti itu juga, sekaligus diminta petunjuk dan bimbingan dari Yang Maha Kuasa untuk tahun berikutnya.

“Di acara ini juga, kita menyatukan seluruh keluarga dan kerabat. Dari ritual Penti, kita mau bersama membangun demi kesejahteraan bersama juga,” katanya, yang kerap disapa Pak Obin itu. Dia merupakan salah seorang tokoh adat Manggarai yang dipercaya untuk pelaksana acara ritual. Dia menyebut, merayakan Penti, juga berterimakasih pada leluhur daerah asal mereka dan leluhur dimana mereka berdomisili.

Photo
Photo
SIAP : Dua petarung dalam permainan Caci, bersiap untuk berlaga. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST

Ritual Penti kali itu, dihadiri pula kerabat dari luar Kota Pontianak, seperti Ketapang dan Tayan. Masing-masing perwakilan pada ritual itu, diberi kesempatan menyampaikan rasa terimakasih dan hormat mereka kepada para leluhur. Harapannya, setahun ke depan, atas kuasa Yang Maha Esa, pekerjaan yang dilakukan dapat berjalan lancar.

Ritual Penti , kata Nasus, digelar selama dua hari. Sederet ritual, kata dia, dilaksanakan mulai dari tura cai, kapu ase kae’e, teing hang ceki. Sedangkan puncaknya dilaksanakan wewa gong, kedi, torok ela.

“Dalam syukuran Penti, warga tak lupa mengundang arwah nenek moyang. Hal itu dilakukan sebagai penghormatan kepada leluhur dan meminta petunjuk dalam pelaksanaan adat tradisi yang dilakukan,” katanya.

“Penti kalau di Manggarai Flores merupakan salah satu upacara adat yang merayakan syukuran atas hasil panenyang dirayakan bersama-sama oleh seluruh warga desa. Nah di sini (Kota Pontianak, Red), Penti yang digelar bersifat umum. Tradisi penti juga mencerminkan sikap bersyukur manusia kepada Tuhan atau wujud tertinggi (mori keraeng), penghormatan terhadap leluhur (empo), alam, juga sesama manusia,” tambahnya.

Dia mengatakan bahwa tak hanya leluhur warga Manggarai, tetapi juga leluhur yang ada di tanah rantau juga disebut dan diundang, baik dalam ritual Teing Hang ataupun Torok Ela. Nasus menyebut, Teing Hang (memberi makan arwah) merupakan salah satu ritus adat Manggarai-Flores NTT. Ritus ini adalah memberi sesajian kepada roh leluhur sebagai bentuk persembahan yang memiliki berbagai maksud, memohon perlindungan dan juga berupa ucapan syukur.

Photo
Photo
PERLENGKAPAN : Petarung memilih perlengkapan laga yang telah disiapkan. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST

Sementara itu, Gerardus menyebutkan makna Penti bagi orang Manggarai adalah syukuran kepada Tuhan atas segala rahmat yang diterima dari padaNya. Syukuran yang dimaksud adalah hasil panen.

“Makna Penti lainnya, memberi makanan bagi para leluhur yang telah meninggal. Kita percaya bahwa mereka yang telah meninggal tetap hidup yaitu hidup kekal bersama Tuhan di surga,” kata Gerardus yang berprofesi sebagai seorang pengajar itu.

Dia juga menyebutkan bahwa manfaat Penti bagi orang Manggarai adalah sebagai sarana untuk menyatukan. Di tempat perantauan, kata dia, Penti setidaknya sebagai obat rindu kepada kampung halaman di Manggarai.

Di upacara adat Penti itu, juga dirangkai dengan Misa yang dipimpin oleh Pastor Jenis CDD.

Menggelar Caci

Salah satu kegiatan yang paling dinantikan warga Manggarai dalam rangkaian kegiatan pesta Penti adalah permainan Caci. Caci merupakan permainan ketangkasan yang diikuti kaum laki-laki Manggarai. Di daerah asalnya, seorang peserta permainan ketangkasan Caci, tidak saja dapat mengalami luka serius, tetapi pada kasus-kasus tertentu saat permainan itu dilaksanakan dapat mengakibatkan korban jiwa.

Photo
Photo
PENGIRING : Gadis-gadis Manggarai saat mengiring petarung tamu menuju arena pertandingan. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST

“Sedangkan di sini (Pontianak, Red), tidak dilakukan persis sama seperti kompetisi di Manggarai. Di sini, lebih pada mengungkapkan rasa gembira dan kerinduan akan permainan ini. Terutama bagi mereka yang pernah memainkannya sewaktu di Manggarai,” kata Nasus.

Kendati demikian, beberapa pemain Caci yang turun ke arena laga, mengalami luka lecutan di tubuh. Ada yang di punggung, lengan, hingga perut.Luka itu diakibatkan terkena cambukan dari pihak lawan tanding. Ya, Caci merupakan permainan saling cambuk antarpemain.

Photo
Photo
WASPADA : Dua petarung saling mewaspadai gerak tubuh lawan. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST

Pemain tak sembarang tampil. Mereka melengkapi diri dengan kain songke yang berwarna dasar hitam dengan motif beraneka warna. Sarung yang merupakan kain tenun khas Manggarai itulah yang menjadi penutup, mulai dari bagian pinggang ke bawah. Tubuh bagian atas dibiarkan terbuka sebagai sasaran empuk cambuk lawan.

Selain itu, Nasus menyebutkan, setiap peserta menggunakan panggal (penutup bagian dahi). Panggal pun dibentuk segi empat yang dibuat memanjang dan diberi tambahan lengkungan menyerupai tanduk kerbau di sisi kiri dan kanannya.

Wajah pun dililitkan kain. Yang tampak hanya mata untuk mengawasi lawan. Setiap satu penampilan, terdiri dari dua orang, bergantian saling cambuk. Untuk peserta yang mendapat giliran mencambuk (paki), maka yang dibawanya hanyalah larik atau cambuk.

Photo
Photo
CAMBUK : Petarung yang mendapat giliran mencambuk (paki), maka yang dibawanya hanyalah larik atau cambuk. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST

Sedangkan lawannya yang mendapat giliran menangkis (ta’ang) melengkapi diri dengan tameng (nggiling) yang terbuat dari kulit kerbau juga. Nggiling yang digunakan pun dibentuk hampir bundar dengan batang untuk pegangan tangan mencuat melebihi tameng. Selain itu juga, seorang yang melakukan ta’ang juga dilengkapi dengan agang. Peralatan itu berupa dua bilah bambu melengkung panjang lebih dari dua meter dan diikat menjadi satu dan ada seutas tali yang menjuntai.

Sasaran cambuk adalah mulai dari bagian pinggang ke atas hingga wajah. Sedangkan sang penangkis serangan, harus selalu siap sedia. Tak boleh lengah sedikitpun, karena sang pemukul selalu mengintai. Dalam satu kali ‘bentrokan’, seorang pemukul hanya dapat memukul satu kali saja. Setelah itu, sang pemukul pun harus siap menerima balasan.

Siapapun yang terluka di arena Caci, terlihat santai, meski luka lecutan bercampur keringat. Usai berlaga, masing-masing petarung pun saling berpelukan dan tertawa. Masih ada tahun depan, yang bakal mempertemukan kembali dalam balutan persaudaraan yang makin mengental.

Photo
Photo
LOMPAT : Aksi seorang petarung saat melancarkan serangan. BAS ANDREAS / PONTIANAK POST

Permainan itu pun malah menjadi ajang memperat persaudaraan. Bukan menjadi ajang kompetisi yang memandang lawan sebagai musuh abadi.

Gerardus, seorang pengajar, mengatakan seni permainan Caci adalah tradisi yang dilakukan turun-temurun pada saat Penti sebagai sarana hiburan dan uji ketangkasan. “Caci juga dilaksanakan saat perayaan tertentu misalnya memeriahkan perayaan HUT kemerdekaan, penyambutan terhadap para rohaniwan yang ditahbiskan jadi pastor, memeriahkan event nasional terutama yang berhubungan dengan pariwisata,’ sebut Gerardus.

Sebagai sebuah budaya, maka menurut Gerardus seharusnya warga Manggarai mengikuti acara tersebut sebagai bentuk pelestarian budaya Manggarai dimanapun mereka berada.(*) Editor : Misbahul Munir S
#Penti Manggarai Flores #Ritual Penti #Ritual Torok Ela #Ritual Teing Hang