“Hasil pemantauan, tidak terpantau anak bulan satu Dzulhijjah,” kata kata Kabag Tata Usaha Kanwil Kemenag Kalbar, Kaharudin.
Kaharudin mengatakan hasil pemantauan itu akan disampaikan ke Menteri Agama yang nantinya akan diputuskan dalam sidang isbat.
“Jadi langsung kami laporkan, sehingga kami menunggu keputusan untuk penetapan satu Dzulhijjah,”sambung Kaharudin.
Sementara itu berbagai utusan dari lembaga sudah hadir saat dilakukan pemantauan hilal. Antara lain dari Nahdlatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah. Lalu ada Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lalu peralatan untuk pengamatan sudah dimulai sejak pukul 15.00 WIB. Sejumlah alat sudah disiagakan untuk melihat kemunculan anak bulan sebagai tanda dimulainya bulan baru. Alat untuk memantau yakni teleskop semi auto sudah standby di lantai dua gedung.
Hadi Rasidi, Periset dari BRIN mengatakan hilal tak terlihat karena kondisi cuaca tertutup awan. Kondisi itu terjadi saat matahari terbenam pukul 17.57. Sedangkan ketinggian bulan, di posisi satu derajat.
Sementara itu Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat juga menerjunkan dua orang untuk memantau hilal menggunakan teleskop.
Ketua DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Barat Susanto mengatakan di organisasi menerapkan metode rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan.
Oleh karena itu pihaknya sudah melatih sumber daya manusia dan menyediakan peralatan yang digunakan untuk memantau hilal. LDII Kalbar dilanjutkan Susanto, bersama provinsi lainnya mengirimkan sumber daya untuk mengikuti pelatihan khusus terkait teknik penentuan hilal dengan metode rukyatul.
“Ini bagian dari keinginan kami. Sebagai sumbangsih penentuan hilal. Dengan melibatkan diri, maka kami ikut memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Susanto.
Susanto menyebutkan bahwa ini yang kedua kalinya sumber daya dari LDII turun langsung memantau hilal. Pertama saat menentukan 1 Syawal pada tahun 2023 dan awal Dzulhijjah di tahun 2023.
“Maka kami melibatkan diri dan Kementerian agama menerima dan berharap bisa berkelanjutan,” pungkas Susanto. (mse) Editor : Misbahul Munir S