“Secara umum semua masih aman, stoknya juga banyak. Sehingga insya Allah Natal dan Tahun Baru ini tidak ada gejolak harga,” kata dia, kemarin.
Herga daging sapi misalnya, kata dia, secara umum masih terpantau stabil dengan harga Rp125 ribu per kilogram. Hanya saja menurutnya, bila dibandingkan dengan harga eceren tertinggi (HET) daging sapi sesuai dengan Permendag No 96 tahun 2018, harga daging sapi di Pontianak dinilainya sangat tinggi.
“Harga daging sapi lebih tinggi dari pada yang biasa dari harga acuan sesuai Permendag No 96 tahun 2018, yang mana seharusnya daging paha depan itu Rp80 ribu, paha belakang itu Rp105 ribu. Di sini harganya Rp125 ribu. Memang stabil, tapi tinggi,” kata dia.
Berbeda dengan harga daging beku Bulog, yang harganya hanya Rp80 ribu per kilogram. Menurutnya, dengan harga segitu, bisa menjadi pilihan masyarakat. “Kita tidak ingin masyarakat yang menyarahkan momen-momen besar harus terbebani dengan harga-harga yang mahal,” tegas dia.
Rangkaian pantauan kepasar rakyat dan Rakorda dijadwalkan berlangsung di 15 daerah pantauan pada minggu ke-2 November hingga minggu ke-2 Desember 2019. Daerah pantauan utama yaitu Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Papua Barat sebagai daerah yang mayoritas masyarakatnya merayakan Natal. Sementara itu, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, dan Bali diprediksi berpotensi memberikan andil inflasi cukup tinggi.
Selanjutnya, Tim Penetrasi Pasar akan terjun ke 82 kabupaten/kota pantauan untuk mengawal pasokan bapok pada 16—20 Desember 2019. Pada kegiatan itu, Tim Penetrasi Pasar akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Satgas Pangan Daerah.
“Kami ingin agar masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru dengan tenang tanpa mengkhawatirkan gejolak harga bapok di pasar,” pungkas Tjahya. (sti)
Editor : Siti