Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Zodiak

Hindari Plastik, Mari Beralih ke Besek

Salman Busrah • Sabtu, 4 Januari 2020 | 10:56 WIB
Photo
Photo
SUNGAI RAYA- Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kubu Raya beberapa waktu terakhir kian gencar mengkampanyekan pembuatan besek bagi masyarakat Kubu Raya. Tujuannya bisa mengubah kebiasaan masyarakat yang semula kerap menggunakan kantong plastik dan wadah tidak terurai lainnya ke besek.

Ketua Dekranasda Kubu Raya, Rosalina menilai besek lebih ramah lingkungan, karena besek merupakan wadah atau tempat berbentuk segi empat yang umumnya terbuat dari anyaman bambu. Kata Rosalina besek kerap digunakan untuk menyimpan makanan. Belakangan dikenal sebagai wadah menaruh daging kurban, menggantikan plastik yang dinilai tidak sehat.

“Saat ini kami menggalakkan bagaimana caranya setiap agenda kita tidak menggunakan bungkus snack dan makanan dengan styrofoam atau kotak lagi,” kata Rosalina kepada wartawan.

Sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Kubu Raya, Rosalina mengaku selalu mendorong kaum ibu untuk mampu membuat besek. Dengan bahan serat alam seperti pandan berduri, bambu, daun nipah, kelapa, dan sebagainya. Jika produksi besek masyarakat mulai masif, maka itu dapat dijual ke Badan Usaha Milik Desa (Bumdes).

“Jadi setiap ada agenda di desa atau kecamatan, kateringnya diminta supaya tidak memakai kotak atau styrofoam lagi. Tapi menggunakan besek. Begitu juga SKPD, kalau ada agenda kegiatan kateringnya boleh kemana saja tapi kami imbau tidak memakai kotak lagi melainkan besek,” ungkapnya.

Ia menerangkan, masifnya pembuatan dan penjualan besek akan menjadi tambahan pendapatan bagi warga. Dirinya menjelaskan, selain manfaat ekonomi, besek merupakan pengganti dari penggunaan plastik dan styrofoam. Di mana kedua bahan yang umum digunakan itu merupakan zat yang tidak dapat terurai. Sehingga berdampak negatif bagi lingkungan.

“Karena kalau kita menggunakan styrofoam, itu limbah yang tidak bisa terurai,” jelasnya.

Rosalina mengungkapkan, program pembuatan besek juga menjadi salah satu upaya pelestarian alam. Dia menerangkan, botol plastik butuh waktu hingga 450 tahun untuk terurai. Sementara kantong plastik belanja perlu 100 tahun baru habis. Adapun kertas 4 minggu dan kardus 6 bulan baru hancur termakan alam.

“Kalau kita pakai kotak, bayangkan berapa banyak pohon yang ditebang hanya untuk bikin kotak yang ternyata sekali pakai langsung dibuang. Pohonnya hidup selama puluhan tahun kemudian ditebang untuk bikin kotak sekali pakai. Betapa sayangnya,” ucapnya.

Lebih jauh Rosalina mengajak semua pihak untuk peduli dengan lingkungan. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan plastik.

“Jadi mulai sekarang kita berikan contoh kepada anak-anak kita. Bagaimana mencintai alam dengan cara mengurangi bahan plastik yang akibatnya sangat tidak baik bagi alam dan masa depan manusia,” pungkasnya. (ash)

Editor : Salman Busrah
#kubu raya