PONTIANAK – Tren positif surplusnya neraca perdagangan Kalimantan Barat di masa pandemi terus berlanjut. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Kalbar pada periode Januari – September 2020 masih surplus sebesar 500,04 juta dolar AS.
“Neraca perdagangan Kalbar masih terjaga baik dan hal itu ditunjukkan dengan surplus. Artinya nilai ekspor lebih besar daripada impor,” ujar Kepala BPS Kalbar Moh Wahyu Yulianto, kemarin (4/11).
Dia memaparkan, nilai ekspor Kalbar sendiri pada periode Januari–September 2020 sebesar 828,89 juta dolar AS. Sedangkan untuk nilai impor Kalbar di periode yang sama hanya sebesar 328,85 juta dolar AS. Adapun golongan barang jenis bijih, kerak dan abu logam (HS26) masih mendominasi atau tertinggi. Nilai ekspor HS26 dari Januari–September 2020 sebesar 404,17 juta dolar AS
“Dibandingkan dengan periode yang sama untuk HS26 dengan tahun lalu, nilai ekspor tahun ini ada kenaikan signifikan yakni dari 299,05 juta dolar AS pada 2019 dan kini menjadi 404,17 juta dolar AS,” kata dia. Untuk tujuan ekspor Kalbar pada Januari–September 2020 sendiri masih didominasi ke Tiongkok sebesar 472,76 juta dolar AS. “Dari data yang ada, Tiongkok memang masih tujuan utama terbesar Kalbar dalam melakukan ekspor ke luar,” jelas dia.
Sementara dari sisi impor, untuk golongan barang yang mendominasi Kalbar datangkan dari luar yakni bahan bakar mineral (HS27) dengan nilai 126,94 juta dolar AS. “Memang dari data yang ada untuk golongan barang impor Kalbar terus didominasi HS27. Setelah itu biasanya baru disusul jenis barang mesin-mesin/pesawat mekanik (HS84),” katanya.
Sedangkan untuk impor Kalbar menurut negara asal barang yang mendominasi yakni negara Malaysia dengan nilai 143,40 juta dolar AS. “Setelah Malaysia, negara Tiongkok juga besar negara asal barang yang di datangkan ke Kalbar di mana untuk periode Januari – September 2020 nilainya 135,95 juta dolar AS,” sebutnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar Agus Chusaini mengatakan, komoditas andalan provinsi ini seperti CPO dan bauksit, sedang menanjak harganya di tingkat internasional karena meningkatnya permintaan. “Terutama dari Tiongkok. Karena pandemi di sana sudah reda sehingga industrinya mulai menggeliat lagi. Permintaannya tinggi sekali, terutama untuk bauksit dan alumina,” katanya.
Ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman Namun menyebut peran komponen ekspor berperan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Kalbar. “Hampir semua indikator ekonomi dan sektor usaha minus pertumbuhannya. Tetapi ekspor kita malah meningkat, terutama komoditas perkebunan dan pertambangan. Ini yang cukup mampu menopang pertumbuhan ekonomi kita,” sebutnya.
Namun, untuk soal kapan berakhirnya krisis ekonomi, Eddy menyebut, hal ini tergantung pada kapan berakhirnya pandemi. Artinya, keberhasilan vaksin akan menjadi penentu. Diajuga mewanti-wanti untuk tahun depan. Pasalnya hampir dipastikan pendapatan asli daerah maupun pajak nasional tidak akan mencapai target. Bahkan akan mengalami penurunan yang cukup dalam dibanding tahun lalu. Mau tidak mau pemerintah harus melakukan rasionalisasi APBN dan APBD untuk tahun 2021.
“Caranya bisa dengan mencari sumber pendapatan lain dan memprioritaskan belanja untuk hal-hal yang benar-benar prioritas,” pungkas Eddy. (ars)
Editor : Administrator