“Bahan baku kami kurang. Kondisi ini terjadi sejak pertengahan 2017,” ungkap Po Tjiu, Pengusaha industri kelapa lokal di Kalbar, Selasa (30/3).
Perusahaannya saat ini mengolah kelapa menjadi kelapa parut kering atau desiccated coconut. Dia menyebut, pabriknya rata-rata membutuhkan kelapa sebanyak 100 ton dalam satu hari, sementara saat ini para pemasok kelapa bulat hanya mampu memasok sekitar 50-70 ton saja.
“Produksi minyak kelapa sudah semakin sulit. Saat ini juga sudah banyak pabrik kopra yang tutup,” katanya.
Kekurangan bahan baku semakin terasa seiring dengan tingginya permintaan kelapa dari luar negeri, terutama dari Tiongkok. Pihaknya harus bersaing dengan pembeli dari luar negeri yang menawarkan harga lebih tinggi dari pada industri lokal. Dia menyebut, saat ini rata-rata harga beli kelapa industri lokal berkisar Rp2.900-3.000 per kilogram, sementara dari luar negeri Rp3.600-3.700 per kilogram.
Pihaknya sulit untuk memberikan harga yang lebih tinggi, sebab ongkos produksi sudah cukup besar. Selain itu, aturan yang berkaitan dengan usaha dan ketenagakerjaan juga cukup banyak, sehingga semakin membuat pengeluaran perusahaan membengkak. Karena itulah, dirinya berharap dapat memaksimalkan usaha dengan pasokan kelapa yang konsisten dan tidak berkekurangan.
“Karenanya, dari pemerintah harus atur, minimal industri dalam negeri ini kebagian bahan baku dulu. Kami bukannya antiekspor atau tidak senang petani dapat harga tinggi. Hanya kalau diekspor, pabrik arang tempurung pun bisa tutup karena tidak kebagian pasokan,” ujarnya.
Di sisi lain, pihaknya mendorong pemerintah dan berbagai pihak untuk meningkatkan produksi kelapa bulat, agar kebutuhan lokal dan permintaan dari negara lain dapat terpenuhi. Pasalnya, permasalahan kurangnya pasokan, juga dikarenakan produksi kelapa yang belum maksimal. Persoalan ini diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah, sebab industri kelapa juga menyerap banyak tenaga kerja.
“Industri pengolahan kelapa ini adalah industri padat karya, sehingga menyerap banyak tenaga kerja,” pungkasnya.
Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengakui produksi kelapa Kalbar belum mampu memenuhi permintaan lokal dan luar negeri. Dia menyebut, saat ini ada sekitar 100 ribu hektare lahan kelapa, dan tidak semuanya produktif. “Saat ini ada 100 ribu hektare, namun ada kondisi tanaman yang masih baru sehingga belum menghasilkan buah,” katanya.
Selain itu, ada pula pohon kelapa yang sudah tua sehingga tidak mampu menghasilkan buah dengan maksimal. Untuk persoalan ini, pemerintah menurutnya telah memiliki program peremajaan, di mana pohon-pohon kelapa yang sudah tua dan tidak produktif akan diganti dengan tanaman baru. Pihaknya juga terus menambah luasan lahan kelapa untuk mendongkrak produksi.
“Kami juga mendorong industri bermitra dengan pekebun-pekebun lokal agar mereka mendapat bahan bakunya stabil. Ada kerja sama, sehingga tidak semua lari ke ekspor,” katanya.
Terkait permintaan pengusaha untuk mengutamakan permintaan industri lokal, saat ini pihaknya tengah mengajukan peninjauan terkait perlu tidaknya mengambil kebijakan dalam rangka pembatasan ekspor kelapa bulat. Hanya saja untuk hal ini, tambah Hero, menjadi ranah Dinas Perdagangan. (sti) Editor : Super_Admin