- Total Jumlah koperasi : 4880 unit
- Jumlah yang aktif: 2.987 unit
- Jumlah anggota : 1,23 juta orang
- Aset koperasi : Rp5,24 triliun
- SUMBER: DINAS KOPERASI DAN UKM KALBAR
Pandemi Covid-19 berdampak pada semua sektor ekonomi, tak terkecuali koperasi. Masalahnya yang terjadi adalah penjualan menurun, permodalan, pesanan menurun, kesulitan bahan baku, dan kredit macet. Banyak koperasi yang mengalami penurunan modal, anggotanya tidak sanggup membayar cicilan, juga banyak yang menarik simpanan di koperasi simpan pinjam.
ARISTONO, Pontianak
KEPALA Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Provinsi Kalimantan Barat, Ansfridus J. Andjioe menyebut, berbagai upaya telah dilakukan untuk menjawab hal tersebut. Salah satunya adalah penyaluran bantuan bagi koperasi, terutama untuk pernguatan modal kerja melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM). Pihaknya juga menerima aduan atau laporan soal koperasi pada pandemi ini.
"Melalui website Dinas Koperasi dan UKM Kalbar, kemudian melalui nomor WhatsApp juga silakan diadukan apapun masalahnya. Apalagi terkait koperasi bermasalah yang ada dikawasan Kalbar, Tim Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Diskop Kalbar siap mendata permasalahan koperasi se-Kalbar," jelasnya. Dijelaskan Ansfridus, pengaduan yang dapat dilakukan oleh masyarakat tidak hanya terkait koperasi yang bermasalah saja, masyarakat dapat bertanya bahkan melihat kegiatan Dinas Koperasi dan UKM Kalbar terkait program bagi koperasi di Kalbar.
Namun lebih dari itu, kata dia, pandemi ini menjadi tantangan tersendiri bagi koperasi. Koperasi, menurut dia, dianggap mampu menyentuh langsung masyarakat bawah, terutama para pelaku usaha yang terkena dampak pandemi. "Koperasi diharapkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat seperti UMKM dan pedagang kecil, nelayan, petani dan sektor riil untuk bangkit dan terus bergerak maju. Apalagi asas koperasi adalah kekeluargaan,” imbuhnya.
Pandemi Covid-19 ini, diharapkan dia, sekaligus menjadi momentum bersama untuk meningkatkan kerja koperasi agar lebih efisien. Karenanya, pemberdayaan koperasi merupakan langkah strategis menumbuhkan pembangunan nasional. Keberhasilan pemberdayaan koperasi, menurut dia, tentunya diukur dari besarnya nilai kesejahteraan yang dirasakan anggotanya. “Kehadiran koperasi bisa menjadi solusi untuk kesehateraan masyarakat,” sambungnya lagi.
Lanjut dia, pandemi juga membuat adaptasi di sektor digital semakin cepat. Tak terkecuali koperasi, dia berharap koperasi beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kemudian, dia menambahkan, memanfaatkan market place berbasis online, maupun penggunaan sosial media untuk memanfaatkan peluang serta kesejahteraan anggota koperasi itu sendiri.
Permasalahan lain, sebut dia, banyaknya koperasi yang tidak aktif dan tidak sehat. Diakui dia, sulit bagi pemerintah untuk menilai kesehatan seluruh koperasi simpan pinjam dan unit simpan pinjam di provinsi ini. Pasalnya, Kalbar, menurut dia, memiliki wilayah yang sangat luas ditambah akses yang kadang tidak mudah. Sementara itu, sumber daya manusia yang tersedia, diungkapkan dia, hanya puluhan orang saja untuk menilai ribuan koperasi yang tersebar di berbagai daerah.
Sejatinya perkembangan koperasi di Kalbar adalah salah satu yang terbaik di Indonesia. Koperasi aktif di Kalbar mencapai 2.987 unit. Anggotanya tidak main-main yaitu 1,23 juta orang atau seperempat jumlah penduduk. Sedangkan aset koperasi mencapai Rp5,24 triliun, dengan kontribusi aset terbesar disumbang Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Credit Union (CU) Pancur Kasih. Koperasi simpan pinjam yang ada juga tergolong produktif menyalurkan pinjaman untuk sektor pertanian dan perkebunan.
Koperasi simpan pinjam atau credit union Kalbar juga menjadi rujukan suksesnya pengelolaan koperasi. Dalam 10 besar koperasi nasional, selain Pancur Kasih, dua CU asal Kalbar lainnya yaitu Lantang Tipo dan Keling Kumang tak pernah absen. Namun koperasi di Kalbar bukannya tanpa permasalahan. Salah satunya adalah masalah pendataan. Kalimantan Barat memiliki 4.880 daftar koperasi yang ada dikawasan 14 kabupaten/kota. Namun hanya 2.987 unit saja yang aktif. Sedangkan sisanya tak aktif. Koperasi yang berstatus tidak aktif, tidak menjadi manfaat bagi masyarakat khususnya dikawasan koperasi berada.
Gubernur Kalbar Sutarmidji menuturkan, dari sekian banyak koperasi, hanya koperasi tertentu saja yang masih mampu berkembang pesat, terutama yang berkaitan dengan simpan pinjam. “Kalau di Kalbar untungnya masih ada CU yang bisa memberi warna pada koperasi dan bisa berkembang,” jelasnya.
Sutarmidji yakin koperasi khususnya di Kabar bisa bangkit kembali dan sedapat mungkin kepada Dinas Koperasi dan UKM Kalbar, untuk dapat mendata kembali koperasi yang aktif di Kalbar. “Kalau dilihat dari sisi badan hukum koperasi itu sangat kuat tapi sektor yang dijadikan jenis usaha itu juga harus diperhatikan dan itu lebih penting. Dengan harapan dimasa pandemi covid-19 koperasi dan UMKM bisa melakukan inovasi untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam menghadapi Covid-19," sebut dia. (*) Editor : Super_Admin