“Kelemahan UMKM kita (Kalbar) itu tampilan produknya, kemudian inovasi dan model pemasaran. Itu yang saya lihat masih lemah,” ungkap Sutarmidji usai membuka Dialog Interaktif dengan tema UMKM Kalbar Tangguh di Masa Pandemi Covid-19 dan Tumbuh untuk Kalbar Sejahtera di Pontianak, Rabu (9/2).
Dengan demikian ke depan, ia berharap ada tempat yang menarik untuk memasarkan produk-produk UMKM serta kerajinan-kerajinan yang ada di Kalbar. Pemprov Kalbar berencana akan membangun tempat yang representatif untuk memamerkan produk-produk unggulan.
“Kemudian nanti ke depan akan ada tempat pelatihan dan diskusi para pelaku UMKM, tempat pemasaran secara online dan mini market untuk produk-produk UMKM,” harapnya.
Soal produk, Midji sapaan karibnya meminta pelaku UMKM tak hanya fokus pada satu jenis produk. Bagaimana caranya, mereka harus mampu melihat peluang. Jangan hanya fokus pada kopi dan teh yang memang sudah banyak dikembangkan produk-produk serupa.
“Contoh misalnya Kapuas Hulu, itu daerah penghasil madu hutan yang paling bagus.Kemudian jahe merah juga ada di sana. Nah bagaimana menangkap peluang,” paparnya.
Pemprov dalam hal ini sudah mengajukan ke Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah untuk membuat rumah produksi bersama. Sehingga produk-produk turunan, seperti misalnya jahe dan lain sebagainya bisa dikemas dalam bentuk sachet dan sebagainya.
“Kemudian misalnya stik talas, orang selama ini bilang talas Bogortalas yang bagus, sebenarnya talas Kalbar. Hanya ketika jadi stik talas, produksinya dari saya wakil wali kota sampai sekarang, modelnya itu-itu saja, inovasinya kurang,” paparnya.
Secara sederhana bisa dilihat dari kemasan yang kurang menjual. Hal itu yang kemudian membuat nilai tambahnya juga kurang tinggi. Midji lantas membandingkan dengan snack-snack pabrikan yang memiliki kemasan menarik, meski secara isi justru tidak lebih baik dari produk-produk UMKM.
“Nah kalau kita punya itu isinya banyak dan enak, tapi kemasannya kurang, modelnya pun begitu-begitu saja memanjang, coba dibuat model bulat, segitiga atau sebagainya sehingga ada kreativitas di situ,” pungkasnya. (bar) Editor : Syahriani Siregar