Oleh : Siti Sulbiyah
Nama Dodon Jerry sepertinya tidak bisa dilepaskan dengan dunia kuliner, khususnya di Kota Pontianak. Bukan sebagai seorang koki, melainkan sebagai seorang food blogger. Istilah food blogger dipakai untuk pembuat konten blog yang mengulas tentang kuliner.
Lewat blog www.tukangjalanjajan.com, pria bernama lengkap Eko Dony Prayudi ini menuliskan ulasannya tentang makanan. Kira-kira ada ribuan kuliner yang ia cicipi kemudian diulas di blog tersebut.
“Banyak sekali sudah ribuan jenis makanan yang saya coba. Tulisannya ada banyak di blog www.tukangjalanjajan.com, selebihnya di koran, majalah, tabloid dan banyak lagi,” tuturnya.
Dodon sudah berkiprah sebagai food blogger selama belasan tahun. Kuliner yang dicicipinya tidak hanya berasal di Kalbar, melainkan juga di berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, ia berkesempatan mencicipi aneka kuliner dunia dari berbagai negara.
Kiprah sebagai food blogger berawal dari latar belakangnya sebagai seorang jurnalis program kuliner di salah satu TV swasta. Lama berada di divisi R&D membuatnya bertemu dengan banyak ahli kuliner, mulai dari jurnalis kuliner terkenal, chef papan atas, sampai legenda peracik kuliner beberapa daerah di Nusantara yang sudah sangat terkenal makanannya.
Dodon mulai tertarik dengan dunia kuliner saat itu. Ia merasa penting untuk mempublikasikan informasi yang ia dapat dari berbagai pengalaman ahli kuliner yang ia temui. Lelaki berkacamata ini sebenarnya memiliki masalah dengan daya ingat dan mengalami disleksia. Sehingga ia berusaha mencatat apa saja pengetahuan yang ia serap.
“Karena saya mempunyai masalah dengan daya ingat dan disleksia membuat saya rajin mencatat apapun yang saya dengar, lihat dan baca sehingga banyak artikel yang sayang rasanya jika tidak dipublish. Tahun 2007 saya mulai menulis di blog untuk tulisan yang tidak serius sementara yang serius saya kirim ke majalah, koran atau tabloid dalam dan luar negeri,” paparnya.
Bagi Dodon, menulis kuliner tak hanya seputar evaluasi terkait pengalaman menikmati sebuah makanan. Hal paling menarik tidak melulu juga soal resep atau sekadar menilai makanan ini enak atau tidak. Lebih dari itu, banyak sekali cerita yang bisa ulak-ulik di balik makanan yang bisa diceritakan.
“Harus punya insting kuat untuk menulis sebuah cerita. Belajar tentang kuliner memang mengasyikkan,” tuturnya.
Menurutnya, ada tantangan tersendiri saat menulis kuliner. Ada sesuatu yang sedikit berbeda dari tulisan atau artikel lainnya karena menyangkut kerja panca indera manusia. Mulai dari mata, hidung, hingga lidah, masing-masing dimanfaatkan dalam menyerap informasi.
“Menulisnya pun tak sekadar bercerita apa yang panca indera rasakan tapi juga mengaitkan dengan budaya, sejarah, dan gastronomi serta keilmuan lainnya,” ucapnya.
Dia menilai kunci untuk menjadi seorang food blogger adalah konten yang menarik dan konsistensi. Untuk bisa memenuhi kedua hal tersebut, tentu tidak mudah. Itu sebabnya, banyak pula food blogger yang sekadar ikut tren lantas tak mampu bertahan.
“Dari pengalaman food blogger yang masih eksis, rata-rata memang hobi makan dan suka dengan dunia gastronomi. Semacam memang punya passionnya. Kalau ikut-ikutan palingan setahunan hilang habis itu,” tuturnya.
Karena menjadi food blogger adalah pasionnya, Dodon pun terus meningkatkan kapasitas dan pengetahuannya dalam bidang kuliner. Salah satunya dengan rutin membaca minimal satu buku kuliner tuntas dalam satu bulan. Selain itu, ia juga belajar dari ahli kuliner yang paham dengan ilmunya, entah itu chef, penulis kuliner lain, foodie, atau peracik asli makanan tersebut.
“Jangan pernah berhenti belajar ilmu lain yang menunjang seperti fotografi dan videografi karena kuliner selalu berkembang sepanjang waktu,” pungkasnya.
Menjadi seorang food blogger juga dilakukan oleh Siti Mustiani. Perempuan yang tinggal di Kubu Raya ini juga punya hobi mencicipi kuliner sekaligus menulisnya dalam artikel. Hasil ulasannya itu dituliskan pada situs miliknya, sitimustiani.com.
“Suka menulis blog sudah lama, tapi serius fulltime blogger itu tahun 2019,” ucapnya.
Siti punya hobi menulis sejak masih remaja. Kemajuan teknologi informasi membuatnya semakin mudah dalam menyalurkan hobi menulis. Siti yang tertarik pada komputer dan internet saat duduk di bangku SMP, memanfaatkannya sebaik mungkin untuk membuat akun di situs pertemanan seperti Friendster, hingga layanan penyedia blog seperti Blogspot.
“Karena sudah kebiasaan malas mencatat, jadi menulis di blog saja. Waktu itu apapun dimasukkan ke blog untuk kenang-kenangan atau dokumentasi, termasuk materi pelajaran saya tuliskan di blog,” ucapnya.
Siti menjadi anggota Komunitas Blogger Pontianak. Ia juga mengenal Dodon Jerry, yang sebelumnya sudah lebih dulu mengenal dunia blogger dan food blogger. Bersama Dodon, Siti kerap diajak untuk mengulas kuliner-kuliner yang ada di Kalbar.
Ia berusaha untuk banyak belajar untuk menjadi seorang food blogger. Termasuk membaca tulisan dan ulasan sesama food blogger. “Biasanya kita saling baca-baca dan bergantian komentar di blog masing-masing,” ujarnya.
Baginya, tantangan dalam membahas kuliner adalah tentang cara menuliskan rasa dari makanan. Sebab memberikan gambaran rasa pada makanan tidak sekadar menyebutnya enak ataupun tidak enak. Pemilihan kosa kata yang tepat dapat memberikan gambaran yang jujur terhadap makanan yang dibahas.
“Jadi ya memang harus memperkaya kosa kata, dan sebisa mungkin menjelaskan apa makanan ini, bagaimana rasanya,” tuturnya.
Food blogger kini menjadi salah satu penghasilannya, di samping mengajar di sebuah sekolah swasta yang ada di Kota Pontianak. Lewat blog sitimustiani.com, iIstagram, dan Tiktok, saat ini sudah ada banyak mitra atau pelaku usaha yang menggunakan jasanya dalam mengulas makanan. Mulai dari hotel hingga rumah makan.
Siti juga menawarkan jasanya lewat proposal yang ia ajukan kepada pelaku usaha. Jasa food blogger menurutnya masih sangat dibutuhkan sebagai sarana edukasi sekaligus promosi. Meski begitu, tidak semua usaha kuliner ia kenakan biaya jasanya.
“Kadang kalau memang ada kuliner yang menarik dan direkomendasi dari teman, ya tetap dicobain dan di-review walaupun tidak dibayar oleh si pemilik usaha,” ucapnya.
Siti berbeda dengan foodgram yang hanya mengulas makanan lewat media sosial. SMedia sosial memang salah satu media utama yang ia gunakan, namun tidak sepenuhnya diulas di sana.
“Makanya setiap postingan instagram, selalu ditulis kalau mau review lengkap ada di blog,” tuturnya.
Tak Mudah Menuliskan Rasa
Bagi Dodon Jerry, ada banyak pengalaman menarik saat melakoni profesinya sebagai seorang food blogger. Hal yang paling ia sukai adalah keliling ke beberapa negara dan keliling nusantara untuk mencicipi aneka kuliner yang beragam.
“Dari yang super enak dan cocok di lidah sampai yang berbeda dari yang biasa dimakan,” ujarnya.
Namun di sisi lain, dia menilai menulis kuliner adalah sesuatu yang sulit dan rumit. Tak gampang mencerna rasa dan menuangkannya dalam tulisan. Biarkan lidah yang ‘menulis’, menggambarkan rasa yang didapat bukan perkara mudah, harus mampu memaparkan sesuai pemahaman pembaca.
“Lidah yang bekerja dan otak yang mencari padanan kata. Gambarkan pengalaman rasa sebenar-benarnya. Rekam pengalaman itu dalam pikiran dan kaitkan dengan riset,” ucapnya.
Apabila makanan yang dicicipi terasa enak, baginya gampang dan lancar sekali untuk menulisnya dalam bentuk tulisan. Sebaliknya, jika makanan tidak sesuai selera, ulasan yang ditulis harus dengan kehati-hatian.
“Harus tetap jujur namun tetap menjaga periuk nasi orang lain,” ucapnya.
Kuliner yang menurutnya mudah diulas adalah yang familiar dan informasinya mudah didapatkan apalagi kalau sejarahnya sudah tercatat dengan baik. Namun yang sulit adalah jika tidak ada data pendukung sama sekali plus tidak ada kesempatan berbincang dengan si peraciknya langsung.
Sediakan Perangkat Penunjang
Siti Mustiani masih ingat kuliner apa yang ia ulas dalam blognya. Sekitar tahun 2015, ia kali mencicipi crepe di gerai waralaba terkenal yang baru buka di Kota Pontianak. Saat itu, lantaran belum punya kamera yang memadai, foto yang dihasolkan kurang maksimal.
“Sehingga hasil foto masih seadanya,” ucapnya.
Saat memutuskan untuk menjadi seorang blogger, Siti berusaha menghasilkan tulisan, gambar yang baik. Selain itu, tren menikmati konten semakin berkembang dan cenderung mengarah kepada tampilan video. Mengingat hal tersebut, ia merasa perlu memiliki perangkat penunjang untuk mendapatkan kualitas gambar dan video yang baik.
“Kita memang butuh perangkat penunjang, seperti gopro, gimbal, dan lainnya. Walaupun perangkat-perangkat itu harganya terbilang mahal,” tuturnya.
Di samping itu, ia juga belajar editing foto dan video. Kemampuan ini sangat diperlukan agar hasil dari konten yang ia buat semakin baik. Terlebih bagi video yang saat ini dibutuhkan untuk mengisi konten di fitur Reels Instagram, serta Tiktok. (sti) Editor : Siti