Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Komunitas Corak Insan Dobrak Stigma Berkain

Siti • Minggu, 14 Mei 2023 | 15:34 WIB
BANGGA BERKAIN : Corak Insan hadir untuk mengajak anak muda untuk berani mengenakan outfit berkain. IST
BANGGA BERKAIN : Corak Insan hadir untuk mengajak anak muda untuk berani mengenakan outfit berkain. IST
Outfit berkain kini tidak hanya dikenakan saat menghadiri acara-acara formal. Di Pontianak, anak-anak muda mulai memadupadankan kain sebagai outfit yang dikenakan sehari-hari. Tak hanya kalangan perempuan, outfit berkain ini juga digandrungi para pria.

Oleh : Siti Sulbiyah

Stigma berkain hanya dikenakan pada acara-acara formal ditepis oleh para pegiat berkain dari komunitas Corak Insan. Komunitas dari Kota Pontianak ini mengajak anak-anak muda untuk bangga tampil dengan kain khas nusantara, sekalipun itu bukan dikenakan pada acara formal seperti menghadiri undangan, atau event-event budaya. 

“Kita ingin mengajak anak khususnya di Pontianak untuk tidak takut dengan outfit berkain untuk aktivitas sehari-hari,” ungkap Risky Noviandi (24), pendiri Corak Insan 

Komunitas ini sebenarnya terbilang masih baru. Diinisiasi oleh trio muda Pontianak, Risky Noviandi, Ilham Rahmanda (27), dan Putra Tarigas (30), Corak Insan dicetuskan pada Januari 2023. Perkumpulan ini berawal dari keinginan untuk mengumpulkan anak-anak muda yang senang dengan outfit berkain.

Bagi mereka, ada banyak anak muda Pontianak yang senang berkain namun kerap kali merasa kurang percaya diri untuk mengenakannya di luar acara-acara formal. “Nah di sinilah Corak Insan menjadi wadah saling temu, dan membiasakan diri untuk tampil berkain,” tuturnya. 

Lewat wadah ini pula, diharapkan anak muda bisa mengetahui cara memadupadankan outfit berkain sehingga terlihat kekinian. Dengan tampilan yang modern ini, diharapkan lebih banyak lagi anak-anak muda yang tertarik dan merasa percaya diri ketika harus mengenakannya di ruang publik. 

“Bagaimana memadukan kain dan atasannya, baik itu dengan kemeja ataupun kaos tetap terlihat keren. Mau tampilannya casual, streetwear, ataupun apapun itu tetap bisa terlihat modern,” ujar Ilham Rahmanda.

Bagi Ilham, berkain merupakan budaya Indonesia. Karenanya tidak perlu malu saat menggunakannya untuk aktivitas apapun. “Mengenakan kain itu bisa asik untuk dilihat,” imbuhnya.

Guna mendobrak stigma berkain adalah pakaian formal sekaligus memperkenalkan kain sebagai outfit kekinian, Corak Insan menggelar kegiatan Rentak Bercorak pada pertengahan Januari 2023 yang lalu. Event ini menjadi wadah untuk mengajak anak muda bangga berkain sekaligus kampanye untuk mengenalkan masyarakat bahwa berkain merupakan kebudayaan yang harus dilestarikan.

“Pada event pertama ini, kami mendapatkan apresiasi yang luar biasa. Bahkan banyak yang minta untuk dilaksanakan kegiatan ini lagi,” ucapnya.

Karena permintaan yang begitu besar, Rentak Bercorak kembali diadakan untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih banyak yang berpartisipasi. 

Sejak komunitas ini dikenalkan kepada masyarakat, banyak pihak yang mengundang komunitas ini untuk hadir. Baik itu undangan sebagai pembicara, peserta diskusi, maupun peserta untuk memeriahkan kegiatan. Semakin banyak hadir, semakin banyak pula yang kenal.

Agar komunitas ini berjalan secara berkesinambungan, Corak Insan juga rutin berkumpul santai. Kegiatan Nyore Berkain, menjadi kegiatan rutinan bagi komunitas ini untuk bertamu dan saling berbagi satu sama lain. Konsepnya seperti nongkrong namun mengandung manfaat.

“Di Nyore Berkain, kadang-kadang kita ada diskusi atau datangkan pembicara. Selain itu, Nyore Berkain juga merupakan cara untuk membiasakan diri kita sendiri untuk berkain,” tutur Putra Tarigas.

Putra menegaskan bahwa kain yang digunakan sebagai outfit tidak harus mahal. Sebab saat ini banyak kain-kain yang bisa dibeli dengan harga terjangkau. Bahkan Putra yakin, bila ditelisik lagi di rumah, ada banyak kain yang sudah lama tidak digunakan. 

“Jadi kalau dari kami menekankan, pakailah kain yang ada di rumah,” terangnya.

Jadi Fesyen Harian

Berkain kini menjadi fesyen harian yang dikenakan oleh Putri Riri Gustini (28). Wanita yang kerap disapa Riri itu, merasa lebih nyaman dengan berkain.

 

“Ya mau kerja, ngumpul, ngopi, bahkan nonton pertandingan basket juga pakai kain. Karena memang berkain ini sudah jadi daily activities,” ujar anggota Corak Insan ini.

Riri mengakui bahwa dirinya aktif bergerak. Sehingga membutuhkan kain yang didesain untuk menyesuaikan aktivitas geraknya itu. Beruntung sang ibu merupakan penjahit. Dengan tangan kreatif ibunya itu, desain yang dibuat bisa menyesuaikan dengan kebutuhan sehingga berkain menjadi lebih mudah. 

Saat ini, setidaknya ada 10 kain yang biasanya ia kenakan, baik untuk acara formal, semi formal, maupun nonformal. “Rata-rata pakai kain batik. Bahkan ada kain batik yang merupakan barang hantaran bapak ke ibu. Usianya sudah lama tapi kain batiknya masih bagus,” ucapnya.

Riri senang memadupadankan kain dengan atasan yang disukainya. Warnanya tak harus senada. Asal ia merasa nyaman dan terlihat bagus dalam pandangannya. “Saya pernah pakai kain dengan motif coklat muda, tapi bajunya lengan panjang garis-garis dan warna-warni,” pungkasnya. (sti) Editor : Siti
#Corak insan #fesyen #berkain