PONTIANAK POST — Di tengah heningnya pagi pedalaman Sandai, ada geliat baru yang pelan tapi pasti mengubah wajah pendidikan. Anak-anak yang sebelumnya tidak lagi bersekolah, kini kembali duduk di bangku belajar. Warga belajar dewasa yang sempat terhenti pendidikannya, kini kembali membuka buku. Semua ini tidak terjadi begitu saja. Di balik gerakan pendidikan yang menyentuh hingga desa-desa terluar, berdiri sebuah kolaborasi yang kokoh antara masyarakat, para pendidik, dan dunia usaha. Salah satunya adalah peran nyata PT Lanang Agro Bersatumelalui program CSR Pendidikan Sampoerna Agro.
Tak banyak perusahaan yang menjadikan pendidikan sebagai poros utama CSR mereka. Namun bagi PT Lanang Agro Bersatu, pendidikan bukan sekadar kewajiban sosialmelainkan panggilan kemanusiaan. Bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan di Kecamatan Sandai, perusahaan ini menjadi mitra utama dalam mendukung GARDAATS GERPENDIK (Gerakan rangkul dan didik anak tidak sekolah melalui Gerakan Pendidikan Inklusif Kolaboratif), sebuah inisiatif akar rumput yang menyasar Anak Tidak Sekolah (ATS) di 13 desa di wilayah tersebut.
"Anak-anak di sekitar area kerja kami adalah masa depan Kalimantan Barat. Jika mereka tidak kami bantu hari ini, maka pembangunan bukan hanya tertunda, tapi bisa terputus," ujar Staff CSR PT LAB Aulia Ramadhan, dalam wawancara pada acara Launching GARDA ATS- GERPENDIK yang berlokasi di SMAN 2 Sandai pada tanggal 20 Agustus 2025.
Melalui program CSR yang dikelola bersama Sampoerna Agro, perusahaan ini memberikan dukungan pembiayaan terhadap layanan pendidikan kesetaraanPaket A, B, dan Ctermasuk pelatihan kecakapan hidup di SMKN 1 Sandai. Dukungan ini mencakup insentif bagi para tutor, pengadaan modul, logistik pembelajaran, hingga pelatihan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Tak hanya menyokong dari sisi finansial, PT Lanang Agro Bersatu juga membuka jalur kolaborasi berkelanjutan dalam bentuk pelatihan keterampilan kerja yang relevan dengan dunia industri. Sehingga warga belajar bukan hanya mengejar ijazah, tetapi juga dibekali kemampuan untuk hidup mandiri dan produktif.
Dari Desa Demit hingga Desa Penjawaan, gema perubahan mulai terasa. Kepala Desa Sandai Kiri Harman Susandi, S.Sos.I, dalam sebuah dialog komunitas, menyampaikan, “Dulu anak-anak kami banyak yang tidak melanjutkan sekolah karena jarak dan biaya. Sekarang mereka punya tempat belajar di desa sendiri, dengan guru dari sekolah terdekat, dan didukung penuh oleh PT Lanang Agro bersatu. Ini mimpi yang menjadi nyata.”
Begitu pula di Desa Sandai Kiri, seorang ibu rumah tangga warga belajar Paket C mengaku, “Saya sempat malu ikut sekolah lagi, tapi sekarang saya malah bisa belajar sambil jualan dan dapat pelatihan usaha. Saya tidak ingin anak saya putus sekolah seperti saya dulu.”
Baca Juga: Keseruan Pelajar Lomba Menganyam Ketupat, Tradisi Nenek Moyang yang Harus Terus Ditumbuhkan
Komitmen PT Lanang Agro Bersatu mencerminkan pendekatan baru dalam CSR: bukan hanya membangun fisik, tapi membangun masa depan melalui peningkatan sumber daya manusia yang digagas melalui program pendidikan yang berkolaborasi dengan stakeholder di sekitar ruang lingkup operasional perusahaan. Dengan menjadikan pendidikan sebagai program berkelanjutan dan terintegrasi dalam struktur sosial desa, perusahaan ini tidak hanya memberi bantuan, tetapi juga membentuk ekosistem pendidikan yang hidup dan tumbuh bersama masyarakat.
Dalam pandangan para pendidik di PGRI Kecamatan Sandai, kontribusi ini merupakan “energi kolektif” yang selama ini dibutuhkan untuk mengatasi masalah ATS yang bersifat kompleksdimana penyebabnya bukan hanya soal ekonomi, tapi juga budaya, akses, dan persepsi masyarakat terhadap pendidikan.
Gerakan GARDA ATS GERPENDIK adalah bukti bahwa ketika niat baik bertemu dengan keberpihakan nyata, maka perubahan bukan hanya mungkin, tetapi pasti. Dan PT Lanang Agro Bersatu, lewat CSR Sampoerna Agro-nya, telah menorehkan jejak penting dalam sejarah pendidikan Kalimantan Barat: membuktikan bahwa sekolah tidak harus dibatasi tembok, dan harapan tak boleh terputus, selama ada tangan yang terulur untuk menggenggamnya.
Hal senada juga disampaikan oleh General Manager PT Lanang Agro Bersatu, Isransani“Sekolah itu bukan hanya soal ruang dan papan tulis. Tapi tentang peluang untuk bermimpi lebih jauh, dan kesempatan untuk kembali melangkahtanpa dibatasi usia, latar belakang, atau masa lalu, setiap insan manusia memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan setara”
Editor : Hanif