Potensi perikanan atau pangan biru Kalimantan Barat yang besar belum tergarap maksimal. FishLog hadir membawa inovasi digital. Startup ini berupaya menghubungkan nelayan, pengepul, dan UMKM, sekaligus mendorong rantai pasok ikan yang transparan, efisien, dan berkelanjutan.
_____________________
TIGA teman kampus IPB yang dulu nongkrong bareng di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan kini menorehkan prestasi di industri perikanan. Bayu Anggara (30), Reza Pahlevi (32), dan Abdul Halim (34) berhasil menciptakan inovasi rantai pasok perdagangan ikan Indonesia melalui startup FishLog, yang kini bernilai sekitar Rp50 miliar.
"Kami dulu sering ngobrol soal potensi perikanan tangkap Indonesia, negara kepulauan, tapi tidak ada nama Indonesia di daftar perusahaan perikanan terbesar dunia," kata Reza Pahlevi.
Setelah dua usaha patungan sebelumnya gagal, mereka tak menyerah. Tahun 2020, mereka mendirikan FishLog, marketplace B2B yang menghubungkan nelayan, pengepul, UMKM, dan konsumen akhir melalui platform digital fishlog.co.id. Startup ini mempermudah rantai pasok pangan biru dengan transparansi penuh.
Kepemimpinan ternyata bukan soal usia. Bayu, anggota termuda, kini menjadi CEO dan membawa FishLog ke puncak kesuksesan. "Ternyata leadership Bayu lebih baik dari kami," ungkap Reza.
Prestasi mereka kian gemilang setelah FishLog meraih pendanaan USD 3,5 juta (sekitar Rp50 miliar) dari investor besar seperti Insignia Ventures, Patamar Capital, dan BRI Ventures pada November 2022. Bayu Anggara bahkan masuk daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2023, sebagai pengakuan atas potensi startup mereka dalam ekosistem perdagangan ikan tangkap.
Bulognya Ikan
Reza menyebut, industri makanan laut nasional sangat besar dengan potensi sekitar Rp300 triliun per tahun. Namun yang bisa diserap hanya separuhnya saja. Banyak ikan mengalami penurunan mutu, bahkan terbuang mubazir dalam rantai pasokan sejak ditangkap oleh kapal nelayan hingga ke konsumen akhir.
Kendala utama ada pada kurangnya sarana penunjang mutu, seperti ketersediaan cold storage yang minim. Sehingga ikan mudah membusuk. Belum lagi permasalahan musim yang berkaitan dengan mobilitas ikan.
"Karena itu di setiap rantai pasok, kualitas ikan mengalami penurunan mutu. Jadinya rantai pasok kita tidak efisien. Melihat itu, FishLog pun mendorong peningkatan pasokan gudang pendingin dengan sistem kemitraan di berbagai daerah di Indonesia,” tuturnya.
Lebih jauh, demi menyiasati musim ikan, Fishlog ingin seperti Bulog yang mampu menjaga ketersediaan produk pangan dari hasil pertanian sepanjang tahun. Saat kelebihan panen, stok disimpan untuk masa paceklik. Begitu juga bila ada daerah yang kekurangan pasokan, maka daerah yang panennya melimpah bisa menyuplai.
"Fishlog melihat konsep ini bisa diterapkan juga di sektor perikanan tangkap untuk menjaga kestabilan harga dan mutu. Kami ingin menciptakan ekosistem supply chain yang efisien. Kami terus membangun proses, transaksi dan distribusi yang efisien dan berkelanjutan," tutup Reza.
Menurtnya, untuk menjaga kualitas layanan, FishLog menerapkan Standard Operating Procedures (SOP) yang rinci. Setiap mitra diklasifikasikan berdasarkan ukuran cold storage, jenis komoditas, dan lokasi.
Digitalisasi Nelayan
Potensi perikanan Kalimantan Barat yang besar menjadikan wilayah ini sangat menarik bagi FishLog. Data Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Barat mencatat potensi ikan di perairan provinsi ini mencapai 1,3 juta ton per tahun.
Sebagian besar potensi berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711, yang mencakup Laut Natuna, Laut Natuna Utara, dan Selat Karimata. Namun, tangkapan nelayan baru sekitar 130 ribu ton atau 10 persen dari potensi.
Hasil tangkap yang jauh dari optimal ini menjadi tantangan, sekaligus peluang bagi para pelaku industri perikanan, termasuk Fishlog. Mengelola ratusan mitra di industri pangan biru bukan hal mudah.
Apalagi FishLog kini memiliki sekitar 600 mitra se-Indonesia, mulai dari nelayan, supplier, pabrik UMKM, korporat besar, hingga perusahaan keluarga. Termasuk di Pemangkat, Kalimantan Barat.
Tiga tahun lalu, lahirlah kolaborasi FishLog x BRILink di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat, Kabupaten Sambas. FishLog memilih BRILink karena jaringannya yang luas, mampu menjangkau pelosok Indonesia termasuk wilayah Kalbar.
Program ini menghadirkan FishLog Business Center (FBC) berupa keagenan BRILink untuk mendukung aktivitas ekonomi perikanan di wilayah pesisir.
Co-Founder dan Chief Business Development Officer FishLog, Abdul Halim, menekankan pentingnya digitalisasi keuangan di wilayah padat aktivitas jual-beli perikanan seperti PPN Pemangkat.
“Produk FishLog dan dukungan BRI hadir untuk mendukung bisnis dan kegiatan pelaku usaha perikanan, sekaligus memudahkan akses transaksi di daerah yang selama ini sulit dijangkau,” katanya.
Dengan digitalisasi ini, pelaku usaha dapat mengetahui potensi jenis hasil tangkapan laut yang sedang dibutuhkan pasar. Transaksi yang biasanya besar dan tunai kini dapat dilakukan secara lebih aman melalui BRILink, meminimalisir risiko kehilangan uang atau potensi penyimpangan.
Bagian operasional Pelabuhan PPN Pemangkat, Dwi Ari Priyanto, menyebutkan bahwa dalam satu hari, transaksi di pelabuhan ini bisa mencapai Rp1,3 miliar.
“Selain ikan, ada pabrik es, logistik kapal perikanan, dan aktivitas lain, sehingga transaksi ekonominya sangat tinggi,” jelasnya.
PPN Pemangkat juga menjadi tempat singgah nelayan dari Kepulauan Riau, Cilacap, Natuna, dan daerah lain, sehingga mendukung potensi bisnis yang lebih luas. Pimpinan Unit BRI Pemangkat, M Yazril, menambahkan, “Kolaborasi FishLog dan BRILink memudahkan setiap transaksi, membuatnya efisien, aman, dan berkelanjutan, sekaligus meminimalisir risiko saat jual-beli ikan.”
Beberapa transaksi yang perlu dijamin keamanan dan real-time payment berada di TPI, PPN, PPS, pasar ikan tradisional, dan tambak. FishLog x BRILink ini ditempatkan dekat pemangku kepentingan perikanan untuk mendukung aktivitas nelayan, sehingga seluruh ekosistem perikanan Kalbar bisa lebih efisien dan terkelola dengan baik. (aristono)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro