Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Berkebun di Lahan yang Rendah

A'an • Selasa, 16 Juli 2024 | 15:49 WIB
Photo
Photo

Salah satu tantangan utama yang dihadapi dalam kegiatan bercocok tanam adalah tingginya muka air tanah yang dapat merusak pertumbuhan tanaman saat musim hujan atau pada saat air pasang. Untuk mengatasi masalah ini, banyak petani mengadopsi metode raised-bed atau bedengan. 

 

Oleh : Siti Sulbiyah

 

TAMAN bedengan atau dalam bahasa Inggris dikenal juga sebagai raised-bed gardening adalah bentuk penanaman dengan menggunakan tanah yang ditinggikan dan ditutup bagian sisi-sisinya. Struktur bedengan bisa dibentuk dengan kayu, batu, beton, atau material lainnya dan dalam bentuk dan ukuran bermacam-macam.

Metode inilah yang dipilih oleh pasangan suami istri Yudi Zulkarnain dan Lusi Nuryanti untuk mengelola lahan kosong di samping rumahnya. Mereka membuat beberapa buah bedengan dengan aneka tanaman di dalamnya.

“Ukuran bedengan ini satu kali satu meter,” ungkap Yudi.

Bedengan berukuran satu meter persegi digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman. Salah satu bedengannya menampung Ada cabe rawit, bayam brazil, kacang koro, lidah buaya, jeruk, dan kacang okra. Bedengan lainnya, juga menampung beberapa jenis tanaman. 

Masalah lahan tanah sering tergenang air menjadi tantangan utama bercocok tanam yang mereka hadapi. Ini karena lahannya yang relatif rendah dan rentan tergenang saat musim hujan. Menurutnya, kondisi ini tidak ideal karena tingginya muka air tanah dapat merugikan tanaman.

“Jangankan saat hujan, bahkan saat pasang air pun bisa tergenang,” katanya.

Untuk mengatasi masalah ini, Yudi memutuskan untuk membuat bedengan. Ini bukan hanya sekedar menaikkan tanah dan mencampurnya dengan bahan lain. Ia membuat sekat setinggi 40 cm di atas tanah. keberadaan sekat ini akan membantu menaikkan muka tanah, yang cukup efektif mereduksi dampak dari muka air tanah yang tinggi.

Bedengan harus dibangun sekuat mungkin untuk mencegah kerusakan tanaman akibat genangan air. Salah satu cara untuk memastikan kekuatan bedengan adalah dengan menggunakan material yang kokoh. Kayu belian, misalnya, merupakan pilihan ideal karena ketahanannya terhadap air dan kekuatan yang luar biasa. 

“Kalau perlu kayu yang digunakan adalah yang kuat seperti belian,” katanya.

Namun, jika kayu belian sulit didapat, maka jenis kayu lain juga bisa dimanfaatkan. YUdi sendiri membuat bedengan dari kayu-kayu sisa bangunan selama ukurannya memadai dan cukup kuat. Dengan menggunakan material yang tepat, bedengan dapat bertahan lebih lama dan melindungi tanaman dari dampak negatif genangan air.

Tidak hanya menggunakan tanah, Yudi mengandalkan sekam bakar 80 persen dalam pembuatan bedengannya. Sekam bakar memiliki peran penting dalam memperlancar aliran air dan mengurangi kelembaban saat dicampur dengan tanah. Dengan memanfaatkan sekam bakar, bedengan yang dibuat Yudi menjadi lebih optimal untuk pertumbuhan tanaman. 

Menurutnya, aliran air yang lebih baik membantu tanaman mendapatkan asupan air yang cukup tanpa risiko tanah menjadi terlalu lembab dan lengket. 

"Fungsinya sebagai poros dan untuk meneruskan air. Kalau dicampur dengan tanah jadi tidak lengket," jelas Yudi. 

Lebih lanjut, Yudi menjelaskan bahwa sekam bakar memiliki manfaat lain yang sangat penting, yaitu menurunkan sifat tanah yang asam. PH tanah di lahan miliknya diketahui cukup rendah, sekitar 4,5 yang tergolong asam. Padahal, idealnya PH tanah adalah sekitar 6,5 hingga 7.

"PH semakin rendah semakin tidak baik. Saya coba tes tingkat keasaman, PH-nya 4,5. Cukup asam. Idealnya PH tanah 7 atau 6,5. Untuk menaikkan PH ini diakali dengan menggunakan sekam. Sifat sekam itu kaustik, atau basah," jelas Yudi.

Dengan memanfaatkan sekam bakar, Yudi tidak hanya memperbaiki struktur tanah tetapi juga meningkatkan kualitas tanah secara keseluruhan. Penggunaan sekam bakar yang tepat dapat menjadi solusi untuk masalah tanah asam yang sering dihadapi para petani.

Bercocok tanam dengan berbagai jenis tanaman memang memberikan tantangan tersendiri. Salah satu kunci keberhasilan dalam bercocok tanam adalah mengatur posisi tanaman sedemikian rupa agar dapat tumbuh secara maksimal. Yudi pun memperhatikan bahwa setiap tanaman memiliki kebutuhan sinar matahari yang berbeda-beda, sehingga penataannya harus sesuai.

“Kami sedang melakukan penelitian untuk menemukan posisi terbaik,” ujar Yudi. 

Dengan mengatur posisi tanaman dengan tepat, tidak hanya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman, tetapi juga dapat memaksimalkan penggunaan lahan dan sumber daya yang ada.

 

Manfaatkan Pupuk Organik

Pasangan suami istri Yudi Zulkarnain dan Lusi Nuryanti telah menemukan cara cerdas untuk memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai pupuk organik bagi tanaman mereka. Dengan memanfaatkan sisa makanan yang dihasilkan sehari-hari di rumah, mereka berhasil mengolah pupuk organik sendiri yang mendukung pertanian ramah lingkungan.

Yudi dan Lusi tidak sepenuhnya mengandalkan pupuk organik dalam bercocok tanam karena mereka juga mempertimbangkan standar ISO dan sertifikasi lainnya. Namun, kompos yang mereka gunakan berasal dari sampah rumah tangga seperti nasi, sayuran, dan lauk pauk. Mereka berusaha meminimalisir penggunaan minyak dalam kompos karena minyak memperlambat proses dekomposisi.

"Kurang bagus kalau minyak, tapi kita tidak memisahkan minyak karena sudah tercampur. Minyak tidak baik karena waktu dekomposisi lebih lama, bisa 3-4 kali lebih lama dari sisa makanan yang tidak mengandung minyak," ujar Yudi.

Proses pengolahan ini melibatkan pencampuran pupuk dengan rumput dan potongan batang pisang.

"Batang pisang itu bagus juga, karena mengandung kalsium dan kalium. Jadi, cincangan batang pisang itu the best karena merangsang pertumbuhan buah," tambah Yudi.

Penggunaan pupuk organik ini membantu mengurangi limbah rumah tangga tetapi juga memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan tanaman mereka.(sti)

Editor : A'an
#berkebun #lahan #manfaatkan lahan