Peringatan tersebut dilakukan untuk mengenang kelahiran bapak puisi Indonesia, Chairil Anwar, 26 Juli 1922.
Dilansir dari sejumlah media, sejarah Hari Puisi Indonesia bermula ketika Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, bersama sekitar 40 penyair dari seluruh Indonesia bersiap mendeklarasikan peringatan hari tersebut.
Deklarasi itu mereka persembahkan pada puncak acara Pertemuan Penyair Indonesia (PPI) I yang digelar di Anjungan Idrus Tintin Pekanbaru, Provinsi Riau, 22 November 2012.
Dalam deklarasi tersebut, Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Muhammad Nuh, juga menyampaikan orasi sastra setelah acara deklarasi berakhir.
Adapun sejumlah penyair yang hadir dalam acara deklarasi tersebut seperti Hanna Fransisca dari Singkawang, Isbedy Stiawan ZS dari Lampung, Acep Zamzam Noor dari Bandung, Rahman Arge dari Makassar, Bambang Widiatmoko dari Jakarta, Suminto A. Sayuti dari Yogyakarta, dan Pranita Dewi dari Denpasar.
Adapun Deklarasi Hari Puisi Indonesia yang dibacakan Sutardji Calzoum Bachri ketika itu berbunyi:
Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Baca Juga: Shalat Dhuha Solusi bagi yang Sulit Melaksanakan Qiyamul Lail
Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.
Sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahi Bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia.
Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka. (ote)
Editor : Syahriani Siregar