Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Chairil Anwar, Bapak Puisi Indonesia

Syahriani Siregar • Jumat, 26 Juli 2024 | 16:30 WIB

Chairil Anwar.
Chairil Anwar.
TEPAT 102 tahun yang lalu, Chairil Anwar lahir di Medan dari keluarga terpandang yang berasal dari Payakumbuh.

Dia merupakan penyair yang dinobatkan sebagai Pelopor Angkatan ’45 melalui puisi-puisi modern Indonesia yang diciptakannya.

Dari Ensiklopedia Sejarah Indonesia diceritakan bahwa Chairil merupakan putra dari Toeloes bin haji Manan bekerja sebagai ambtenar (pegawai negeri) pada masa kolonial, di mana pada 1948 ditunjuk menjadi Bupati Rengat.

Sebagai orang dari keluarga terpandang, dia berkesempatan menempuh pendidikan di Neutrale Hollands Inlandsche School (HIS) dan melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), meskipun hanya sampai kelas satu. 

Saat merantau ke Jakarta, ia kembali masuk MULO, dan mulai banyak membaca buku-buku setingkat HBS (Hogere Burger School).

Namun sayangnya Chairil hanya dapat mengikuti MULO sampai kelas II, di mana setelah itu ia belajar secara otodidak  seraya memperdalam bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman.

Kepiawaian dalam menguasai berbagai bahasa justru membuka wawasan Chairil dalam mempelajari karya-karya sastra dunia.

Sejak remaja Chairil dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dengan berbagai golongan.

Perjalanannya sebagai penyair pun dimulai pada 1942, dengan sajak pertama berjudul Nisan diciptakan pada Oktober, berikutnya Penghidupan diciptakan Desember.

Pada 1943 sajak berjudul Aku menjadi sangat popular dan menjadi referensi di beberapa sekolah-sekolah.

Sejak muda dia sudah memiliki pandangan dan sikap hidup yang sangat idealis tak tergoyahkan.

Hal tersebut ditandai dengan sikap tegas menolak bergabung dan menjadi alat propaganda politik pada masa pendudukan Jepang.

Bahkan saat perang kemerdekaan, dia giat menulis sajak untuk memberi semangat para pejuang dengan pemilihan kata-kata yang lantang dan penuh semangat revolusi.

Bersama para pemuda yang berkumpul di Kawasan Menteng 31, ia beberapa kali pulang-pergi ke daerah Karawang, Bekasi, sebagai salah satu wilayah pertempuran pada awal kemerdekaan.

Pengalaman tersebut kemudian menginspirasi  puisi Krawang-Bekasi.

Meskipun meninggal di usia muda yakni 27 tahun, dia terbilang produktif.

Sepanjang 1942 – 1949, ia sudah menciptakan 70 sajak asli, sepuluh sajak terjemahan, enam prosa asli, dan empat prosa terjemahan.

Secara keseluruhan dia telah menghasilkan 94 tulisan, sehingga menjadikannya pioner puisi modern Indonesia. (ote)

Editor : Syahriani Siregar
#Mulo #puisi #payakumbuh #menulis #chairil anwar