Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Antariksa dan Serba-serbinya

Syahriani Siregar • Selasa, 6 Agustus 2024 | 23:02 WIB
Ilustrasi lapisan udara mulai dari trofosfer hingga lapisan teratas yang disebut eksosfer.
Ilustrasi lapisan udara mulai dari trofosfer hingga lapisan teratas yang disebut eksosfer.

APA itu antariksa? Berhubung hari ini diperingati sebagai Hari Keantariksaan Nasional, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas sedikit mengenai istilah yang satu ini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, antariksa dijelaskan sebagai bagian alam semesta yang berada di luar atmosfer bumi.

Sementara dalam ajaran agama Hindu, antariksa atau antariksha merupakan salah satu delapan wasu.

Antariksa merupakan personifikasi dari langit yang tinggi atau atmosfer.

Dalam kosakata bahasa Indonesia, kata antariksa merujuk kepada luar angkasa.

Nah, luar angkasa sendiri dijelaskan sebagai bagian yang relatif kosong dari jagat raya, di luar atmosfer dari benda celestial.

Baca Juga: Hari Ini, Hari Keantariksaan Nasional, Bagaimana Sejarahnya?

Istilah luar angkasa sendiri digunakan untuk membedakannya dengan ruang udara dan lokasi terrestrial.

Karena atmosfer bumi tidak memiliki batas yang jelas, namun terdiri dari lapisan yang secara bertahap semakin menipis dengan naiknya ketinggian, tidak ada batasan yang jelas antara atmosfer dan angkasa.

Ketinggian 100 kilometer atau 62 mil ditetapkan oleh Federation Aeronautique Internationale merupakan definisi yang paling banyak diterima sebagai batasan antara atmosfer dan angkasa.

Di Amerika Serikat, seseorang yang berada di atas ketinggian 80 kilometer ditetapkan sebagai antariksawan.

Sementara 120 kilometer (km) menandai batasan di mana efek atmosfer menjadi jelas sewaktu proses memasuki kembali atmosfer (re-entry).

Digambarkan jika pada 4,6 km (15 ribu kaki) dibutuhkannya bantuan oksigen untuk pilot pesawat dan penumpangnya

Sementara 5,3 km (17.400 kaki) mengindikasikan setengah atmosfer bumi berada di bawah ketinggian ini. Untuk ketinggian 16 km (52.500 kaki), maka kabin bertekanan atau pakaian bertekanan dibutuhkan.

Sementara batasan atas dari troposfer telah tercapai pada ketinggian 18 km (59 ribu kaki). Troposfer sendiri merupakan lapisan atmosfer terendah.

Pada ketinggian 20 km (65.600 kaki), air pada suhu ruangan akan mendidih tanpa sebuah wadah bertekanan.

Pada ketinggian 24 km (78.700 kaki), sistem tekanan pesawat biasa tidak lagi berfungsi, sedangkan pada ketinggian 32 km (105 ribu kaki) menjadikan turbojet tidak lagi berfungsi.

Sementara ramjet tidak lagi berfungsi di ketinggian 45 km (148 ribu kaki).

Stratosfer pun berakhir di ketinggian 50 km (164 ribu kaki) dan mesosfer berakhir di ketinggian 80 km (262 ribu kaki).

Sedangkan ketika memasuki ketinggian 100 km (328 ribu kaki), permukaan aerodinamika tidak lagi berfungsi. (ote) 

Editor : Syahriani Siregar
#antariksa #atmosfer bumi #luar angkasa