Peristiwa ini merupakan kali pertama negara tersebut menggunakan kursi listrik untuk melakukan eksekusi.
Menurut situs deathpenaltyinfo.org, para pendukung hukuman ini, termasuk penemu bola lampu, Thomas Edison, memuji metode baru ini sebagai metode yang cepat, efektif, tidak menimbulkan rasa sakit, dan manusiawi.
Argument yang sama kemudian digunakan oleh para wakil rakyat di Amerika Serikat mendukung injeksi mematikan dan eksekusi dengan gas nitrogen.
Baca Juga: Kisah Tragis Bom Hiroshima, 146 Ribu Penduduk Meregang Nyawa
Pada Mei 1890, Mahkamah Agung Amerika Serikat menolak tantangan Kemmler bahwa kursi listrik adalah hukuman yang kejam dan tidak biasa.
“Hukuman menjadi kejam jika melibatkan penyiksaan atau kematian,” tulis Pengadilan.
Namun dikatakan bahwa badan legislatif New York dalam memberlakukan undang-undang kursi listrik bermaksud merancang metode eksekusi yang lebih manusiawi dan menganggap bahwa badan legislatif mengetahui fakta-fakta yang menjadi dasar pengambilan tindakan.
Menurut Buffalo News, Kemmler yang memiliki disabilitas intelektual, bertanya kepada petugas pemasyarakatan agar jangan sampai dia mengalami percobaan eksekutis tersebut lebih dari yang seharusnya.
Baca Juga: Mengenal Antariksa dan Serba-serbinya
Setelah pemberian arus listrik tegangan tinggi selama 17 detik, seorang dokter menyatakan Kemmler meninggal.
Kemudian Kemmler mengerang dalam-dalam dan para saksi dilaporkan berteriak.
Digambarkan, setelah 2 menit, ruang eksekusi dipenuhi dengan bau daging terbakar, sehingga dua orang saksi pingsan.
Beberapa orang lainnya pun mengalami serangan mual yang parah.
Surat kabar menyebut eksekusi tersebut sebagai kecerobohan bersejarah dan menjijikkan, memuakkan, dan tidak manusiawi.
Hukuman mati tersebut dilaksanakan di Penjara Auburn sekitar pukul 7.00. William Kemmler didakwa telah membunuh pasangan kumpul kebonya Matilde Ziegler pada 29 Maret 1889 dengan kapak.
Kata terakhir yang diucapkannya sebelum mati adalah "Jangan susah dan lakukan dengan benar, saya tidak cepat-cepat."
Setelah 2 kali dialiri setrum, Kemmler pun meninggal. (ote)
Editor : Syahriani Siregar