SIAPA yang tak mengenal ketokohan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sultan Yogyakarta. Negarawan yang telah diangkat sebagai pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 53/TK/Tahun 1990.
Namun mungkin tidak banyak yang mengetahui kiprahnya dalam Gerakan Kepramukaan, sehingga mendapat gelar sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
Sejak usia muda, Sri Sultan telah aktif dalam organisasi pendidikan kepanduan. Menjelang tahun 1960-an, Hamengkubuwana IX telah menjadi Pandu Agung (Pemimpin Kepanduan).
Pada tahun 1961, ketika berbagai organisasi kepanduan di Indonesia berusaha disatukan dalam satu wadah, Sri Sultan memiliki peran penting di dalamnya. Presiden RI saat itu, Soekarno, berulang kali berkonsultasi dengan Sri Sultan tentang penyatuan organisasi kepanduan, pendirian Gerakan Pramuka, dan pengembangannya.
Pada 9 Maret 1961, Presiden Soekarno membentuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Panitia ini beranggotakan Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi, dan Pembangunan Masyarakat Desa). Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka dan terbitnya Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961, 20 Mei 1961.
Dilansir dari situs pramukabuleleng.or.id, Gerakan Pramuka sebagai organisasi kepanduan di Indonesia diperkenalkan kepada khalayak pada 14 Agustus 1961, sesaat setelah Presiden Republik Indonesia menganugrahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 448 Tahun 1961.
Sri Sultan dinobatkan sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) yang pertama dan menjabat empat periode berturut-turut, 1961 – 1963, 1963 – 1967, 1967 – 1970, dan 1970 – 1974.
Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka pada 1988 di Dili, Timor Timur, saat masih menjadi provinsi ke-27 di Indonesia, mengukuhkan gelar Bapak Pramuka Indonesia kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Bahkan Sri Sultan juga menerima Bronze Wolf Award, sebuah penghargaan tertinggi dan satu-satunya dari World Organization of the Scout Movement (WOSM).
Untuk diketahui, baru ada empat orang di Indonesia yang menerima penghargaan ini, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX (1973), Abdul Aziz Saleh (1978), John Beng Kiat Liem (1982), dan Letjen TNI (Purn) H Mashudi (1985).
Sebelumnya, pada 1972 Sri Sultan pun mendapatkan penghargaan Silver World Award dari Boy Scouts of America.
Di gerakan kepanduan maupun kepramukaan, Sri Sultan mendapat sebutan Pandu Agung karena sosoknya yang mencerminkan seorang guru dan panutan bagi Pramuka Indonesia.
Sri Sultan meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Dia dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Atas dedikasinya terhadap Gerakan Kepanduan dan Kepramukaan, maka 12 April hari kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX diperingati menjadi Hari Bapak Pramuka Indonesia.(ote)
Editor : Miftahul Khair