SIAPA yang tak mengenal Yazid I. Dia dianggap yang paling bertanggung jawab atas kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib, dalam Pertempuran Karbala di Irak, 10 Oktober 680.
Tiga tahun berselang, Yazid yang mengangkat dirinya sebagai khalifah menggantikan ayahnya, Muawiyah, kembali melakukan hal serupa, dengan mengacak-acak Kota Madinah, 26 Agustus 683 atau 1.341 tahun yang lalu. Peristiwa tersebut terekam dalam Tragedi Al-Harrah atau Pertempuran Al-Harrah.
Dari situs geotimes, digambarkan bahwa tragedi tersebut merupakan peristiwa pembantaian yang dilakukan pasukan militer Kekhalifahan Umayyah yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah atas warga sipil Madinah.
Tragedi Al-Harrah bermula ketika Khalifah Yazid bin Muawiyah yang naik takhta menggantikan ayahnya Khalifah Muawiyah pada 680.
Yazid sebelumnya meminta Sayyidina Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, bersama Abdullah bin Zubair selaku cucu dari Khalifah Abu Bakar, hingga Abdullah bin Umar selaku putra dari Khalifah Umar bin Khattab.
Mereka diminta untuk berbaiat mengakui Yazid sebagai Khalifah. Akan tetapi, usaha dari Yazid menemui jalan buntu.
Hal ini dikarenakan Yazid dianggap tidak layak menjadi seorang Khalifah.
Sekitar 3 tahun pascapembantaian di Karbala, sebagian dari penduduk Madinah diundang oleh Yazid ke istananya di Damaskus, Suriah, menyaksikan sendiri perilaku dan juga tindakan dari Yazid.
Sosok tersebut dinilai tidak menjalankan syariat dari agama Islam. Akibatnya masyarakat Madinah pada saat itu semakin yakin tidak mau membaiat Yazid menjadi seorang Khalifah.
Geliat itu menjadi pemicu dari terjadinya perang saudara. Melihat sikap dari penduduk Madinah, Yazid marah dan mengirim 27 ribu orang pasukan penumpas dengan dipimpin oleh Muslim bin Uqbah, untuk memadamkan gejolak api pemberontakan tersebut.
Saat kabar keberangkatan dari pasukan Khalifah Yazid sampai kepada masyarakat Madinah, mereka membuat parit di sekeliling Madinah, serta menyiapkan lokasi untuk mereka berlindung.
Di hari yang ditentukan, Muslim bin Uqbah dan pasukannya kemudian berkemah di Harrah yang terletak di sebelah timur Madinah.
Karena itulah peristiwa ini di kenal dengan peristiwa Al Harrah. Ini sesuatu hal menyedihkan karena Harrah adalah tempat ketika penduduk Madinah di tengah cuaca yang sangat terik berkumpul dan berdiri menunggu kedatangan Rasulullah ketika hijrah dari Mekkah.
Muslim bin Uqbah memberi waktu tiga hari kepada penduduk Madinah untuk menyerah.
Pada hari yang ditentukan, pasukan Muslim bin Uqbah memasuki kota suci dengan mudah melewati serta dapat melampaui parit yang di buat mendadak, dengan cara mereka mengelilingi parit tersebut dari belakang.
Sehingga ini menyebabkan banyak nyawa melayang dan pada akhirnya tentara yang telah dikirimkan Yazid mampu memenangkan perang tersebut.
Di antara korban perang tersebut di antaranya ada 700 orang penghafal Al-Quran dan juga 80 orang sahabat Rasulullah yang turut terbunuh pada pertempuran tersebut.
Bahkan yang menyedihkan adalah pada perang tersebut mengakibatkan sampai tidak ada yang tersisa dari Ahli Badr. Bahkan Abdullah bin Handzalah dan putranya ikut terbunuh pada peristiwa naas tersebut.(ote)
Editor : Miftahul Khair