HARI ini, 4 September, setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Solidaritas Hijab Internasional (International Hijab Solidarity Day). Peringatan yang bermula dari sebuah gerakan mendukung kebebasan penggunaan hijab di seluruh dunia, namun berlatar belakang peristiwa tragis.
Dilansir dari situs ilmair.com, Hari Solidaritas Hijab Internasional dideklarasikan oleh tokoh-tokoh muslim Eropa yang berkumpul di Kota London. Mereka menggelar sebuah konferensi mendukung hijab, pada Juli 2004.
Konferensi mendukung hijab ini dihadiri oleh 300 delegasi yang mewakili 102 organisasi-organisasi Inggris dan internasional. Konferensi ini merupakan reaksi atas keputusan pemerintah Perancis yang menyatakan melarang hijab di institusi pendidikan dan publik.
Dari hasil konferensi itu terbentuklah majelis untuk Perlindungan Hijab (Assembly for the Protection of Hijab).
Dalam konferensi itu, para peseta merancang berbagai rencana aksi untuk membela hak perempuan muslim untuk mempertahankan busana muslim mereka. Tentu saja diharapkan dapat menjadi dorongan dan inspirasi positif bagi seluruh muslim.
Pada 2008 lalu, sebagaimana dilansir dari situs masjidnusantara.org, seorang hijaber bernama Marwa el Sherbini sedang mengasuh anaknya di sebuah taman di Kota Dresden, Jerman.
Tiba-tiba, seorang pria, Alex W., menghampirinya sambil mengancam, melontarkan makian rasis, dan menuduhnya teroris. Tak terima, Marwa pun melaporkan Alex ke polisi.
Pada 1 Juli 2008, Marwa kembali bertemu Alex. Kali ini, mereka berhadapan di pengadilan setempat.
Marwa bersaksi atas tuduhannya kepada Alex. Saat berdiri berhadapan itulah, Alex menikam Marwa dengan menggunakan pisau. Marwa tewas seketika dengan 16 luka tusukan. Padahal saat itu ia tengah mengandung tiga bulan.
Tragedi Marwa el Sherbini menyentak dunia. Islamofobia telah merenggut nyawa seorang muslimah. Semua hanya karena hijab yang dikenakan telah memicu kebencian dan kecurigaan tak berdasar.
Peristiwa tragis yang menimpa Marwa menguatkan umat Islam untuk bergerak. Pada 4 September 2009, Organisasi Islam Eropa (FIOE) mencetuskan gerakan penolakan atas diskriminasi terhadap muslimah berhijab, juga islamofobia.
Sejak saat itu, 4 September pun dikenang sebagai peringatan Hari Solidaritas Hijab Internasional.
Di Indonesia sendiri, Hari Solidaritas Hijab Internasional diisi dengan aksi solidaritas terhadap muslimah di negara lain, yang masih mendapat diskriminasi karena hijab yang dikenakan mereka.
Beberapa organisasi muslimah juga mengisinya dengan syiar mengajak muslimah Indonesia yang belum berhijab.(ote)
Editor : Miftahul Khair