Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Wolter Monginsidi, Guru Bahasa Jepang yang Menjadi Pejuang dan Gugur di Hadapan Regu Tembak

Miftahul Khair • Kamis, 5 September 2024 | 12:22 WIB
Wolter Monginsidi
Wolter Monginsidi

USIANYA baru menginjak 24 tahun saat regu tembak The Dutch East Indies Civil Administration (NICA) mengeksekusinya hari ini, 75 tahun yang lalu atau 5 September 1949.

Hukuman mati tersebut diberikan usai persidangan dijalani sang pejuang pada 26 Maret 1949, lantaran dinilai sering menyusahkan pihak Belanda. Satu-satunya pilihan yang bisa diambil Belanda adalah membunuhnya. Pemuda itu bernama Robert Wolter Monginsidi.

Dilansir dari situs voi.id, sebelumnya, kemarahan Mongisidi berkobar saat Belanda kembali menguasai Indonesia. Ia juga tidak ingin lagi hidup seperti bangsa terjajah.

Perlawanan pun dilakukan. Padahal kematian adalah risiko utamanya. Niat Belanda untuk kembali menguasai Indonesia mendapat tentangan dari sana-sini.

Mereka tidak ingin kembali hidup sebagai bangsa yang terjajah. Hidup terhina dan menjadi bangsa kelas tiga. Mongisidi tak kuasa menahan amarahnya mengingat berakhirnya hidup sebagai bangsa terjajah.

Pria kelahiran Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, 14 Februari 1925 yang kesehariannya berprofesi sebagai guru Bahasa Jepang ini merasa harus melawan Belanda. Armada perang NICA yang datang menumpuk tidak menjadi masalah. Kondisi itu tak lantas membuat nyali Mongisidi yang hijrah ke Makassar menciut.

Kemarahannya semakin tak tertahankan. Ia pun berusaha mengabdikan dirinya pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Makassar. Mongisidi bergabung dengan laskar Laskar Lipan Bajeng. Saat itulah ia berkenalan dengan banyak pejuang kemerdekaan termasuk Maulwi Saelan.

Kehadiran laskar tak lain untuk mewujudkan cita-cita Indonesia mempertahankan kemerdekaan. Mongisidi dan Laskar Lipan Bajeng kemudian bergabung menjadi Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) pada 17 Juli 1946.

Sejak saat itu nama Mongisidi terkenal dalam perang gerilya. Dia berkali-kali menyusahkan Belanda. Meski dengan senjata terbatas. Selain pandai mengatur strategi perlawanan, Mongisidi juga pandai mencari informasi. Kekuatan tersebut membuat Mongisidi kerap unggul saat terjadi baku tembak.

Laskar Lipan Bajeng merupakan kelompok pejuang muda yang bermarkas di Polongbangkeng, Takalar. Sebagian besar anggotanya, termasuk Emmy, Wolter, serta Maulwi Saelan, adik Emmy, adalah siswa SMP Nasional Makassar.

Mereka membentuk pasukan karena mempunyai cita-cita yang sama, yakni melawan penjajah Belanda yang menyerbu ke Sulawesi Selatan sejak September 1945.

Meski Mongisidi tidak akan berangkat berperang, Emmy tampaknya tegar melepasnya. Emmy tahu perjalanan ke kota itu akan sulit dan berbahaya karena semakin banyak tentara NICA yang menduduki sebagian besar wilayah sekitar Makassar.

Terobosan perlawanan Mongisidi dan kawan-kawan terasa panas bagi Belanda. Mereka menjadikan Mongisidi sebagai target penting. Upaya itu membuahkan hasil. Mongisidi ditangkap dan dipenjarakan pada 27 Oktober 1947.

Penangkapan tersebut membuat Mongisidi tidak bisa berbuat banyak. Ia mengisi hari-harinya dengan menulis puisi di penjara. Masalah muncul. Mongisidi dianggap bertanggung jawab atas banyaknya serangan Belanda di Makassar.

Narasi tersebut mengantarkannya divonis hukuman mati oleh penjajah Belanda pada 26 Maret 1949. Sebuah hukuman yang dirasa mampu memutus rantai perlawanan bangsa Indonesia.

Padahal, anggapan tersebut merupakan kesalahan besar. Mongisidi memang telah dieksekusi oleh regu tembak pada 5 September 1949, namun kepergiannya justru menjadi bahan bakar perlawanan yang lebih besar.

Di masa kemerdekaan, Robert Wolter Mongisidi dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 6 November 1973. Dia juga mendapatkan penghargaan tertinggi negara Indonesia, Bintang Mahaputera (Adipradana), pada 10 November 1973. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#pahlawan #Wolter Monginsidi #penjajahan belanda