Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Buta Warna, Penyakit yang Diturunkan dan Tingkat Keparahannya Tetap

Miftahul Khair • Jumat, 6 September 2024 | 11:25 WIB
Ilustrasi buta warna.
Ilustrasi buta warna.

BUTA warna adalah kondisi mata yang tidak mampu mata melihat warna secara normal. Penderita penyakit ini sulit membedakan warna tertentu (buta warna parsial) atau bahkan seluruh warna (buta warna total).

Di Hari Kesadaran Buta Warna Sedunia (Colour Blind Awareness Day), 6 September, hari ini, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas mengenai penyakit turunan tersebut.

Dilansir dari situs alodokter.com, buta warna dijelaskan sebagai penyakit yang umumnya didapat sejak lahir.

Menariknya, kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan wanita.

Buta warna merupakan penyakit seumur hidup. Para penderitanya diminta untuk dapat beradaptasi dengan kondisi ini. Sementara para dokter akan memberikan penanganan sesuai dengan jenis buta warna yang diderita.

Situs alodokter.com menjelaskan bahwa mata memiliki sel-sel saraf khusus yang bereaksi terhadap warna dan cahaya.

Selain mendeteksi terang dan gelap, sel ini juga berfungsi untuk mendeteksi tiga pigmen warna, yakni merah, hijau, dan biru.

Selanjutnya, otak akan menentukan persepsi warna dari apa yang ditangkap oleh sel dalam mata tersebut.

Sementara pada penderita buta warna, sel yang mendeteksi pigmen warna rusak atau tidak berfungsi.

Akibatnya, mata tidak dapat mendeteksi warna-warna tertentu atau bahkan seluruh warna.

Penyebab buta warna sendiri terbagi menjadi tiga, yakni diturunkan, didapatkan, dan penuaan.

Pada sebagian besar kasus, buta warna diturunkan dari orang tua ke anak. Buta warna turunan umumnya memengaruhi kedua mata.

Tingkat keparahan buta warna pada penyakit turunan bisa ringan, sedang, hingga berat, dengan derajat keparahan yang tidak akan berubah hingga akhir hidup penderitanya.

Sementara pada penyebab buta warna yang didapatkan, terjadi pada penderita penyakit tertentu yang bisa menurunkan kemampuan melihat warna, seperti anemia sel sabit, diabetes, degenerasi makula, alzheimer, multiple sclerosis, glaukoma, parkinson, leukemia, hingga kecanduan alkohol. Kemudian efek samping obat, seperti digoxin, ethambutol, phenytoin, sildenafil, dan hydroxychloroquine.

Di samping itu, paparan zat kimia, misalnya carbon disulfide yang digunakan dalam industri rayon, atau styrene yang dimanfaatkan dalam industri plastik dan karet, juga bisa menjadi penyebab buta warna. Penyakit ini juga bisa didapatkan akibat kecelakaan atau benturan.

Pada faktor penuaan, di mana seiring usia bertambah, kemampuan mata dalam menangkap cahaya dan warna akan menurun, sehingga dapat menimbulkan kesulitan dalam membedakan warna.

Kondisi ini akan lebih buruk pada seseorang yang menderita penyakit katarak.

Buta warna ditandai dengan kesulitan membedakan warna tertentu (buta warna parsial), atau bahkan seluruh warna (buta warna total).

Tanda-tanda seseorang menderita buta warna antara lain sulit mengikuti pelajaran di sekolah yang berhubungan dengan warna, sulit membedakan warna lampu lalu lintas,

sulit membedakan warna obat, sulit membedakan warna buah yang mentah dengan yang sudah matang, atau menentukan tingkat kematangan makanan yang sedang dimasak. Sementara gejala buta warna pada tiap pasien dapat berbeda, tergantung sel pigmen yang rusak atau tidak berfungsi.(ote)

Editor : Miftahul Khair
#buta warna #Hari Kesadaran Buta Warna Sedunia