Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Tenun, Jalinan Benang yang Bergabung Membentuk Keindahan

Miftahul Khair • Sabtu, 7 September 2024 | 14:43 WIB

 

SAKRAL: Warga Dayak Iban menenun menggunakan alat tradisional di Kapuas Hulu. Sebelum mulai, penenun harus melakukan ritual dan doa. DOKUMEN
SAKRAL: Warga Dayak Iban menenun menggunakan alat tradisional di Kapuas Hulu. Sebelum mulai, penenun harus melakukan ritual dan doa. DOKUMEN

KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengartikan tenun sebagai hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dan sebagainya), dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pada alat pekakas.

Di Hari Tenun Nasional, 7 September hari ini, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas sedikit mengenai istilah tenun ini.

Dari situs akimee.com, tenun dijelaskan sebagai teknik dalam pembuatan kain yang dibuat dengan azas (prinsip) yang sederhana, yaitu dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang. Dengan kata lain bersilangnya antara benang lusi dan pakan secara bergantian.

Pembuatan kain tenun ini umum dilakukan di Indonesia. Terutama di daerah Jawa dan Sumatera. Biasanya produksi kain tenun dibuat dalam skala rumah tangga.

Beberapa daerah yang terkenal dengan produksi kain tenunnya adalah Sumatera Barat, Palembang, dan Jawa Barat.

Schoeser dalam World Textiles menjelaskan jika kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, benang perak, benang emas, dan lainnya.

Para ahli antropologi menyatakan bahwa kegiatan menenun sudah ada sejak tahun 500SM, terutama di daerah Mesopotamia, Mesir, India, dan Turki.

Nuraini dan AM. Falah dalam Eksistensi Kain Tenun di Era Modern memperkirakan keberadaan kain tenun tradisional Indonesia berkembang sejak masa Neolitikum (Prasejarah).

Ini dibuktikan dengan ditemukannya benda-benda prasejarah prehistoris, seperti tenunan, alat untuk memintal, dan bahan yang terlihat jelas adanya tenunan pada kain yang terbuat dari kapas.

Ditemukan lebih dari 3 ribu tahun yang lalu pada situs Sumba Timur, Gunung Wingko, Yogyakarta, Gilimanuk, dan Melolo.

Baca Juga: Mengenal John Dalton, Orang Pertama yang Mengetahui Masalah Buta Warna

Kain tenun dan tradisi menenun dengan alat tradisional tak dapat dipungkiri, merupakan pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang ke generasi berikutnya hingga kini.

Situs akimee.com juga mengungkapkan bahwa pembuatan kain tenun ini umum dilakukan di Indonesia, khususnya di daerah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara (NTT dan NTB).

Biasanya produksi kain tenun dibuat dalam skala rumah tangga. Adapun kain tenun nusantara yang sangat populer adalah songket, jumputan, dan tenun ikat.

Sementara di Bali dikenal produk bernama kain bebali, kain gringsing, songket beratan, serta tenun endek.

Sementara dari Pulau Jawa dikenal tenun ikat torso, dan Kalimantan dikenal hasil-hasil tenun seperti pua kumbu, tenun corak insang, serta tenun ulap doyo.

Tak kalah dari daerah lain, di Maluku juga dikenal tenun ikat tanimbar, kemudian dari Nusa Tenggara dikenal kain tenun Nagekeo, tenun ikat NTT, tenun ikat Ende-Lio, tenun ikat Sumbawa, tenun ikat Sumba, dan tenun Pringgasela.

Di Sulawesi juga dikenal tenun bentenan, tenun Buton, tenun Donggala, tenun Gorontalo, tenun Mandar, tenun Sabbe, dan tenun Toraja.

Sementara di Sumatera dengan begitu banyak jenis tenunan seperti kain tapis, kain ulos, songket Minangkabau, songket Palembang, songket pandai sikek, tenun Siak, songket silungkang, sewet tajung, sewet blongsong, pelangi jumputan Palembang, dan blongket.

Schoeser dalam World Textiles menjelaskan bahwa seni tenun berkaitan erat dengan sistem pengetahuan, budaya, kepercayaan, lingkungan alam, dan sistem organisasi sosial dalam masyarakat. Karena kultur sosial dalam masyarakat beragam, maka seni tenun pada masing-masing daerah memiliki perbedaan.

Seni tenun dalam masyarakat selalu bersifat partikular atau memiliki ciri khas, dan merupakan bagian dari representasi budaya masyarakat tersebut. Kualitas tenunan biasanya dilihat dari mutu bahan, keindahan tata warna, motif, pola dan ragam hiasannya.

Kain tenun nusantara yang sangat beragam dan sarat akan kearifan lokal, sehingga tentu saja sangat berpotensi menjadi warisan budaya tak benda yang akan diakui dunia.

Kain tenun tersebut dinilai sebagai simbol keragaman budaya karena setiap daerah memiliki motif, warna, dan filosofi yang berbeda-beda. Letak geografis dan kondisi alam masing-masing daerah pun dapat memengaruhi teknik pewarnaan kain tenun. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#kain tenun #sejarah #hari tenun nasional