PERPUSTAKAAN berasal dari kata pustaka yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kitab atau buku. Sementara perpustakaan diartikan sebagai tempat, gedung, ruang yang disediakan untuk pemeliharaan dan penggunaan koleksi buku dan sebagainya atau koleksi buku, majalah, dan bahan kepustakaan lainnya yang disimpan untuk dibaca, dipelajari, dibicarakan.
Sementara Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menjelaskan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelolaan karya tulis, karya cetak, dan karya rekam yang secara professional, dengan sistem yang baku, guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.
Persoalannya, seiring pesatnya Perkembangan teknologi ke arah serba digital saat ini, berdampak pada semakin sulit untuk membuat kebanyakan orang untuk pergi ke perpustakaan.
Di Hari Kunjung Perpustakaan Nasional yang jatuh pada hari ini, 14 September, pontianakpost.jawapos.com mencoba mengulas mengenai masih pentingkah berkunjung ke perpustakaan di era ini? Pasalnya hampir setiap orang bisa mengakses sumber-sumber literasi dengan hanya mencarinya melalui mesin pencari di internet. Semua itu bahkan hanya bisa dilakukan di rumah melalui perangkat telfon pintar.
Situs americanlibrariesmagazine mengungkapkan bagaimana 23 tahun yang lalu, American Libraries menerbitkan esai Mark Y. Herring berjudul Ten Reasons Why the Internet Is No Substitute for a Library. Teknologi memang telah berkembang pesat sejak saat itu, namun media sosial bahkan belum ada. Kecerdasan ponsel tercanggih sekalipun dibatasi oleh paywall, troll Twitter, berita palsu, dan bahaya lain dalam kehidupan daring.
Sepuluh alasan mengapa perpustakaan masih lebih baik daripada internet, alasan pertama yakni perpustakaan adalah tempat yang lebih aman. Internet mempertemukan orang-orang, sering kali dengan cara yang menyenangkan dan produktif, seperti melalui minat yang sama (blog budaya populer, situs fanfic) atau tantangan bersama (kelompok pendukung daring).
Namun, perundungan siber dan trolling dapat membuat orang enggan berinteraksi dengan orang yang tidak sependapat dengan mereka atau untuk berbagi ide mereka sejak awal. Perpustakaan adalah tempat orang-orang dapat berkumpul secara konstruktif dan semua orang merasa diterima.
Sementara alasan kedua yakni perpustakaan menghargai sejarah. Halaman web bersifat sementara, dan kerusakan tautan merupakan masalah nyata.
Konten koleksi perpustakaan jauh lebih stabil. Bahan cetak umumnya diterbitkan di atas kertas bebas asam, yang tidak akan hancur. Di sisi lain, para pustakawan memimpin jalan untuk menghadirkan stabilitas serupa ke web melalui layanan seperti Internet Archive dan perma.cc.
Sedangkan alasan ketiga, pustakawan mendigitalkan sumber-sumber primer yang berpengaruh. Meskipun melihat artefak sejarah itu berharga, penanganan fisik yang berulang-ulang dapat merusaknya.
Membuat versi digital dari karya-karya penting tersedia secara daring, seperti dalam proyek Turning the Pages milik National Library of Medicine adalah salah satu solusinya.
Proyek-proyek digitalisasi perpustakaan juga menyediakan informasi bagi orang-orang yang tidak memiliki sumber daya untuk pergi ke perpustakaan tertentu.
Pustakawan menggunakan teknologi internet yang sedang berkembang untuk melanjutkan misi abadi dalam menyediakan akses informasi yang lebih baik. Internet adalah platform yang memungkinkan kemajuan ini, tetapi pustakawanlah yang melakukan pekerjaan itu.
Alasan keempat menyebutkan bagaimana pustakawan adalah pelopor dalam meningkatkan akses daring ke informasi ilmiah. Gerakan akses terbuka menyediakan artikel ilmiah bagi semua pembaca daring, dan pustakawan telah menjadi pendukung kuat gerakan ini selama lebih dari satu dekade.
Akses ini sangat penting saat melaporkan hasil penelitian medis, yang sering kali didanai oleh uang pembayar pajak.
Alasan kelima menyebutkan bagaimana pustakawan adalah penerbit. Penerbit ilmiah masih menyediakan jurnal dan buku yang dikembangkan oleh para peneliti.
Namun, pustakawan telah bergabung dalam upaya ini dengan menjadi penerbit sendiri. Inisiatif penerbitan baru yang dipimpin oleh pustakawan memanfaatkan sepenuhnya web dan umumnya menyediakan karya baru secara akses terbuka.
Salah satu contoh penerbitan perpustakaan, yang umum di perpustakaan akademis, adalah repositori institusional. Repositori ini mengumpulkan dan menyimpan berbagai macam hasil intelektual perguruan tinggi atau universitas, seperti kumpulan data yang dikumpulkan dalam studi penelitian, kode komputer yang digunakan dalam pengembangan perangkat lunak, dan prosiding konferensi.
Alasan keenam, perpustakaan menyelenggarakan makerspace. Mengingat makerspace menyediakan tempat untuk kreativitas, pembelajaran, dan komunitas, masuk akal jika perpustakaan mendukungnya.
Gerakan maker telah berkembang pesat pada 2016, di mana terdapat 14 kali lebih banyak makerspace dibandingkan 2006. Baik perpustakaan umum maupun akademis menyelenggarakan makerspace. Anda dapat mempelajari tentang makerspace secara daring, tentu saja. Namun, untuk mengunjunginya, Anda harus menjelajah ke dunia nyata.
Alasan ketujuh pustakawan dapat membantu Anda memilah berita yang asli dari yang palsu. Meskipun banyak sekali konten yang berguna, akurat, dan menarik tersedia secara daring, tapi ingat, web dipenuhi dengan informasi yang tidak akurat dan menyesatkan.
Judul berita yang memancing klik membuat Anda menklik konten tersebut, meskipun informasi yang mendasarinya dangkal atau tidak akurat.
Alasan kedelapan, pustakawan akan memandu Anda ke apa yang Anda butuhkan. Google adalah mesin pencari yang mengesankan, tetapi hasilnya bisa sangat membingungkan, di mana banyak orang tidak tahu cara memfilternya berdasarkan jenis konten atau sumber situs web.
Google menawarkan banyak kiat pencarian yang bermanfaat tetapi umum. Percakapan dengan pustakawan dapat menjelaskan dengan tepat apa yang Anda cari dan mencari tahu cara terbaik untuk menggunakan Google atau banyak sumber daya lainnya, untuk menemukannya.
Alasan kesembilan di mana Pustakawan tidak melacak riwayat bacaan atau pencarian Anda untuk menjual sesuatu kepada Anda. Sementara alasan terakhir adalah pustakawan tidak melakukan sensor.
Perpustakaan terus memberikan manfaat yang nyata, seperti ruang komunitas dan interaksi manusia, dan yang lebih sulit diukur, akses, privasi, kebebasan intelektual.
Internet adalah alat yang sangat diperlukan dan tak tergantikan bagi kehidupan modern. Namun, internet bukanlah perpustakaan dan tidak akan menggantikan pekerjaan pustakawan. (ote)
Editor : Miftahul Khair