JIKA Hari Air Sedunia (World Water Day) diperingati setiap 22 Maret, maka berkenaan dengan air, juga ada momentum tersendiri yang turut diakui dunia.
Peringatan dimaksud adalah Hari Pemantauan Air Sedunia (World Water Monitoring Day) yang diperingati tepat pada hari ini, 18 September, yang berlangsung di hari yang sama setiap tahunnya.
Dilansir dari situs careourearth.com, pada 2003, Yayasan Air Bersih Amerika (ACWF) meluncurkan Hari Pemantauan Air Sedunia sebagai program penjangkauan pendidikan global dengan melibatkan warga dalam pemantauan dasar terhadap badan air setempat.
Awalnya, peringatan tersebut berlangsung pada 18 Oktober, setiap tahunnya, untuk menghormati Undang-Undang Air Bersih Amerika Serikat (AS), yang disahkan pada 18 Oktober 1972 oleh Kongres untuk memulihkan dan melindungi sumber daya air Amerika Serikat.
Namun, tanggal tersebut dianggap tidak ideal untuk beberapa negara, di mana perairan biasanya membeku selama Oktober.
Oleh karena itu, untuk memaksimalkan jumlah peserta dan negara peserta, tanggal resmi diubah menjadi 18 September, sejak 2007.
Pada 2006, Yayasan Air Bersih Amerika mengalihkan peran koordinator acara tersebut ke Federasi Lingkungan Air (WEF) dan Asosiasi Air Internasional (IWA).
Pada 2015, koordinator Hari Pemantauan Air Sedunia dipindahkan ke EarthEcho International, sebuah organisasi nirlaba lingkungan yang berbasis di Washington, AS.
Peringatan yang dimulai sejak 18 Oktober 2003 ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan masalah pencemaran air dan pentingnya pemantauan sumber air secara teratur, mendidik masyarakat di seluruh dunia tentang sumber air dan inspeksi keamanan air menggunakan alat pengujian air (alat ini dapat menguji oksigen terlarut, keasaman, suhu, dan kejernihan air), serta mempromosikan keterlibatan masyarakat dalam pemantauan air dan melindungi sumber daya air di seluruh dunia.
Dilansir dari situs etvbharat.com, bahwa Tema Hari Pemantauan Air Sedunia pada tahun ini sama dengan tema Hari Air Sedunia yakni Air untuk Perdamaian.
Di mana dijelaskan bahwa air dapat menciptakan perdamaian atau memicu konflik. Ketika air langka atau tercemar, atau ketika masyarakat mempunyai kesenjangan, atau tidak ada akses sama sekali, ketegangan dapat meningkat antara masyarakat dan negara.
Lebih dari 3 miliar orang di seluruh dunia bergantung pada air yang melintasi batas negara. Namun, hanya 24 negara yang memiliki perjanjian kerja sama untuk semua penggunaan air bersama.
Ketika dampak perubahan iklim meningkat dan populasi bertambah, terdapat kebutuhan mendesak, baik di dalam maupun antarnegara, untuk bersatu dalam melindungi dan melestarikan sumber daya yang paling berharga.
Kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, sistem pangan dan energi, produktivitas ekonomi dan integritas lingkungan semuanya bergantung pada siklus air yang berfungsi dengan baik dan dikelola secara adil. (ote)
Editor : Miftahul Khair