Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kematian Burhanuddin Rabbani, Makin Melemahnya Kekuasaan Hamid Karsai

Miftahul Khair • Jumat, 20 September 2024 | 14:54 WIB
Burhanuddin Rabbani.
Burhanuddin Rabbani.

RABU, 21 September 2011, ribuan orang melayat, memberi penghormatan terakhir, berbelasungkawa atas kematian mantan Presiden Afghanistan Burhanuddin Rabbani. Rabbani tewas akibat serangan bom bunuh diri, sehari sebelumnya atau 13 tahun yang lalu.

Dilansir dari situs dw.com, seorang pelaku bom bunuh diri menyembunyikan bomnya di dalam sorbannya. Sesaat, setelah memasuki rumah mantan Presiden Afghanistan  Burhanuddin Rabbani, ia meledakan bom tersebut. Rabbani pun tewas seketika.

Kepala polisi Afghanistan, Ayub Salangi, menceritakan bagaimana ketika itu Rabbani membuat janji pertemuan dengan dua orang kontak Taliban yang terpercaya.

Seorang penasihat membawa kontak tersebut ke Rabbani, namun salah seorang dari mereka malah meledakkan bom di kepalanya.

Rabbani merupakan Kepala Dewan Tinggi Perdamaian yang bertanggung jawab bagi  perundingan antara pemerintahan Hamid Karsai dengan pimpinan Taliban. Tahun 1980-an, ia dikenal lewat perlawanannya terhadap bekas pemerintahan komunis yang berkuasa saat itu.

Rabbani bukanlah musuh ideologis Taliban. Seperti juga Taliban, ia memandang pembentukan sebuah negara Islam berdasarkan syariah, merupakan solusi konflik yang terjadi di Afghanistan.

Namun Presiden Afghanistan Hamid Karsai bekerja sama erat dengan pendahulunya ini. Bagi Karsai, Rabbani merupakan salah satu dukungan politik yang sangat penting.

Namun peristiwa ini menjadikan Karsai kehilangan seorang mitra kerjanya yang terpenting.

Lewat Rabbani, Karsai seharusnya dapat meraup kepercayaan sebagian kalangan rakyat, yang bukan berasal dari etnis Pashtun. Dengan kematian Rabbani, Karsai kehilangan aliansi politis di luar suku Pashtun.

Keputusan Karsai dalam menunjuk Rabbani sebagai negosiator pendekatan dengan Taliban, banyak menuai kritik. Pada 1990-an, Rabbani digulingkan oleh Taliban dari pemerintahannya di Kabul.

Namun Rabbani berpandangan, Taliban siap mengadakan negosiasi dengan dirinya. Rabbani bahkan pernah mengatakan jika dia mempunyai pengalaman dengan Taliban. Di masa perang masih berkecamuk, dia selalu berhasil melakukan perundingan bersama Taliban.

Akan tetapi Taliban selalu menolak perundingan yang ditawarkan Pemerintah Afghanistan. Rabbani sendiri sempat menyerah. Ia pun menyadari Taliban lebih suka berperang ketimbang berunding.

Kematian Rabbani menjadi bukti final hal tersebut, mengindikasikan Taliban mengabaikan perdamaian dan pembicaraan damai, serta tidak percaya pada rekonsiliasi damai.

Kematian Rabbani memicu tanda tanya, mengapa Pemerintah Afghanistan tidak mampu melindungi orang yang dianggap penting ini? Semakin banyak kini warga Afghanistan yang kehilangan rasa percaya terhadap aparat keamanannya sendiri.

Semakin banyak orang meyakini, bahwa negaranya akan kembali tenggelam dalam perang saudara dan kerusuhan.

Taliban sendiri kembali berhasil menduduki pemerintahan dalam serangan mereka 10 tahun kemudian. Serangan dimulai pada 1 Mei 2021, bertepatan dengan masa penarikan sebagian besar pasukan tentara Amerika Serikat dan sekutunya dari Afganistan.

Serangan ini berakhir pada 15 Agustus 2021, dengan pengambilalihan pemerintahan Afganistan secara de facto oleh Taliban dan restorasi pemerintahan Keamiran Islam Afganistan. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#sejarah #mantan presiden afghanistan #hari ini #Burhanuddin Rabbani