TAK kurang 7 ribu jiwa meregang nyawa akibat pertempuran antara pasukan Hindia Belanda dengan Kerajaan Badung, 20 September 1906 atau 118 tahun yang lalu.
Pertempuran tak seimbang yang bermula akibat provokasi seorang peniaga Tionghoa terhadap pemerintahan Hindia Belanda, sehingga melakukan invasi militer ke wilayah Badung.
Dilansir dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Badung, sebuah perahu dagang (skunar) terdampar di pantai timur Kerajaan Badung, Bali, sekitar pukul 06.00 pagi, 27 Mei 1904.
Perahu dagang itu bernama Sri Komala berbendera Belanda yang berlayar dari Banjarmasin mengangkut barang dagangan milik pedagang Tionghoa bernama Kwee Tek Tjiang.
Oleh karena kandas dan perahu pecah, maka para penumpang Sri Komala menurunkan barang yang masih bisa diselamatkan antara lain peti kayu, peti seng, dan koper kulit.
Nakhoda meminta bantuan kepada syahbandar di Sanur untuk menjaga keamanan barang-barang yang diturunkan.
Atas permintaan pemilik barang dan atas saran Sik Bo, seorang warga Tionghoa di Sanur, peristiwa kandasnya perahu dilaporkan kepada Ida Bagus Ngurah, penguasa daerah Sanur, dengan tujuan untuk ikut mengamankan barang-barang yang telah diturunkan itu.
Sesuai keterangan Kwee Tek Tjiang dan sesuai juga dengan keterangan nakhoda yang diutus, serta didampingi Sik Bo pada waktu menghadap Ida Bagus Ngurah, dilaporkan bahwa barang dagangan yang diangkut terdiri dari gula pasir, minyak tanah, dan terasi.
Untuk memeriksa kebenaran laporan itu, Ida Bagus Ngurah pun berangkat ke tepi pantai untuk memeriksa langsung.
Isinya ternyata sesuai dengan laporan, dan ada tambahan barang berupa roti kering dan sedikit uang kepeng. Berkat bantuan sebelas tenaga kerja, barang-barang yang masih tersisa di kapal diturunkan dan diangkut.
Utusan Raja Badung pun datang ke pantai mengadakan pemeriksaan pada 29 Mei 1904. Pada waktu itulah Kwee Tek Tjiang membuat laporan palsu kepada utusan Raja dan menyatakan rakyat telah mencuri 3.700 ringgit uang perak serta 2.300 uang kepeng.
Tentu saja laporan ini tidak dapat diterima oleh utusan Raja karena tidak disertai bukti.
Oleh karena tidak puas, Kwee Tek Tjiang menghadap langsung kepada Raja Badung yang menolak pengaduan itu.
Karena selain dipandang tidak sesuai, Kwee Tek Tjiang juga menuduh rakyat Badung merampas perahu itu pada 27 Mei 1904.
Tuduhan itu diulangi lagi oleh Residen J. Escbach setelah mendapat laporan, bahkan langsung menuntut agar Raja Badung I Gusti Ngurah Denpasar memberikan ganti rugi sebesar 3 ribu ringgit.
Oleh karena rakyat telah menyatakan kejujurannya melalui sumpah, maka Raja tetap pada keyakinannya bahwa apa yang dituduhkan itu hanya merupakan tipu muslihat.
Keyakinan yang teguh dari raja dan rakyat Badung dipandang membahayakan kedudukan pemerintah kolonial di Bali, khususnya Residen.
Perlu diketahui bahwa Van Hentz, gubernur Jenderal di Batavia sangat berambisi untuk menaklukan seluruh Hindia Belanda, bahkan dapat memecat Residen apabila dipandang perlu.
Oleh karena itu, Residen dan bawahannya perlu menyelamatkan kedudukannya, meskipun harus mengorbankan kedaulatan Raja Badung.
Residen pun mengusulkan agar Raja Badung tetap dikenakan denda 3 ribu ringgit (7.500 gulden). Meskipun telah diultimatum, Raja Badung tetap menolak tuduhan dan tuntutan sampai batas waktu pada 9 Januari 1905.
Penolakan tegas Raja Badung mengakibatkan pemerintah kolonial mengirim kapal angkatan laut ke perairan Badung, untuk melakukan blokade ekonomi.
Tindakan kejam pemerintah kolonial melalui patroli angkatan lautnya semakin sering dilakukan, lebih-lebih sikap Raja Badung yang tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah terhadap tuntutan ganti rugi.
Meskipun pihak Kerajaan Badung mengalami kerugian setiap hari sebesar 1.500 ringgit dari pemasukan pelabuhan akibat blokade ekonomi itu, Raja Badung tetap tegus pada keyakinannya menolak tuduhan Pemerintah Hindia Belanda.
Sementara itu blokade ekonomi di darat juga dilakukan dengan cara bekerja sama dengan raja-raja tetangga seperti Gianyar, Bangli, Klungkung, Tabanan, dan Karangasem.
Namun kerajaan-kerajaan tetangga itu sulit memutuskan hubungan dengan Raja Badung karena kepentingannya masing-masing.
Blokade ekonomi yang dilancarkan di laut atau di darat ternyata gagal dan tidak mampu membuat Raja Badung menyerah.
Kondisi ini mengakibatkan semakin tegangnya hubungan politik antara Kerajaan Badung dan Pemerintah Hindia Belanda.
Oleh karena Raja Badung tetap pada keyakinannya, maka Gubernur Jenderal Van Hentzs mengirim surat secara langsung kepada Raja Badung pada 17 Juli 1906.
Selain kepada I Gusti Ngurah Pemecutan dan I Gusti Ngurah Denpasar, Van Hentzs juga mengirim surat kepada Raja Tabanan, I Gusti Ngurah Agung, namun dia yang dengan tegas memihak Raja Badung.
Surat Gubernur Jenderal itu pada pokoknya mengulangi tuntutan pemerintah yang diajukan sebelumnya, bahkan jumlah ganti rugi yang dituntut lebih besar yaitu 5.173 ringgit (12.932,50 gulden).
Jumlah ini termasuk biaya blokade yang sudah dikeluarkan Pemerintah Hindia Belanda dan harus dibayar oleh Raja Badung. Substansi penting dari isi surat itu adalah batas waktu yang diberikan.
Gubernur Jenderal mengancam akan mengambil tindakan militer apabila Raja Badung dan Tabanan tidak memberikan jawaban yang memuaskan sampai 1 September 1906.
Ancaman dari Gubernur Jenderal di Batavia tidak sedikitpun mengubah pendirian Raja Badung.
Sekalipun pemerintah tertinggi Hindia Belanda di Batavia mengeluarkan surat perintah untuk ekspedisi militer pada 4 September 1906, Raja Badung telah siap menanggung risiko demi membela kedaulatan kerajaan (Nindihin Gumi Lan Swadharmaning Negara).
Dengan didahului pernyataan sumpah, Raja dan rakyat Badung lebih yakin untuk menolak ultimatum dan ancaman Belanda.
Ekspedisi militer V sampai di Selat Badung pada 12 September 1906. Kekuatan armadanya berjumlah 16 buah kapal, yaitu sembilan buah kapal perang, dan tujuh buah kapal pengangkut. Kapal-kapal perang tersebut di antaranya De Hortog Hendrik, Koningin Wilhelmena, Der Nederlander, dilengkapi dengan meriam berbagai kaliber.
Seluruh personel yang ikut dalam ekspedisi itu berjumlah 3.053 orang yang terdiri atas 2.312 orang personel militer dan 741 orang sipil, termasuk wartawan perang.
Utusan dikirim pada sore harinya untuk menyampaikan ultimatum kepada Raja Badung dan Tabanan, agar menyerah dalam tempo 2x24 jam.
Ultimatum ditolak tegas, sehingga pasukan Belanda mendarat di Pantai Sanur pada 14 September 1906. Pabean Sanur diduduki dan dijadikan benteng pertahanan mereka untuk melakukan serangan ke arah Kesiman sebagai benteng terdepan Raja Badung.
Laskar Badung yang sudah siap perang memperkuat bentengnya masing-masing di depan Puri Kesiman, Denpasar, dan Pemecutan. Dengan gagah berani mereka berani menjaga puri meskipun dihujani tembakan meriam dari Kapal De Hortog Hendrik.
Keesokan harinya Laskar Badung menduduki beberap desa yaitu Taman Intaran, Buruan, dan Sindu. Di Sindu terjadi kontak senjata antara Laskar Badung dan Batalyon 11 Pasukan Belanda.
Namun Laskar Badung yang datang dari Kelandis dan Bengkel bergerak menuju Kepisah dan mencapai Tanjung Bungkak, menyusul 500 laskar dari Kesiman di bawah pimpinan I Gusti Gde Ngurah Kesiman bergerak ke selatan.
Sebagian dari mereka bersenjatakan tombak, keris, pedang, dan senapan telah menduduki sebagian besar wilayah Sanur. Mengetahui kehadiran laskar Badung yang terutama terlihat jelas dari Laskar Tombak, maka pasukan Belanda melepaskan tembakan salvo dari benteng pertahanan mereka yang berjarak hanya 100 meter.
Terjadilah pertempuran hebat, satu melawan satu di seluruh Desa Sanur pada tanggal 15 September 1906. Di kedua pihak jatuh korban.
Pasukan Belanda banyak yang mengalami luka-luka, sedangkan dari Laskar Badung tercatat 33 orang tewas dan 12 orang luka akibat tembakan meriam.
Laskar Badung di Renon memasang ranjau dari bambu untuk membendung dan menghambat serangan pasukan kavaleri Belanda yang menggunakan kuda.
Pertahanan di desa-desa yang mengelilingi tiga puri, yaitu Puri Kesiman, Puri Denpasar, dan Puri Pemecutan diperkuat termasuk desa-desa di Renon, Lantang Bejuh, Sesetan, Panjer, Kelandis, Bengkel, dan Tanjung Bungkak.
Pasukan Belanda di bawah pimpinan Rost Van Toningen bergerak meninggalkan benteng di Pabean Sanur pada 16 September 1906, pukul 07.00.
Pasukan itu bergerak mengikuti jalan besar ke sebelah barat menuju Tanjung Bungkak, yang terdiri atas batalyon 18 dan 20, sedangkan batalyon 11 bergerak di sebelah kiri.
Kedatangan batalyon 18 dan 20 di Desa Panjer disambut oleh serangan gencar dari sekitar 2 ribu anggota Laskar Badung.
Karena matahari hampir terbenam, dengan cepat pasukan Belanda meninggalkan medan pertempuran untuk kembali ke benteng mereka di Sanur.
Pada waktu mereka tiba di benteng, sekitar 30 orang anggota laskar Kerajaan Badung dari Kesiman menyerang Pabean Sanur, namun tembakan yang dilepaskan angkatan laut Belanda berhasil memukul mundur laskar kerajaan.
Perang sehari pada 16 September di sekitar Panjer dan Sesetan sangat melelahkan pasukan Belanda, sehingga keesokan harinya pada 17 September 1906, pasukan Belanda lebih banyak tinggal di benteng untuk membahas taktik penyerangan terhadap kota dan ketiga puri Kerajaan Badung.
Meskipun demikian, meriam artileri yang ditempatkan dekat benteng mulai ditembakkan bersama-sama dengan tembakan meriam dari kapal perang. Tembakan-tembakan meriam itu diarahkan ke puri sekitar kota dan Puri Kesiman.
Taktik untuk menyerang dan mengepung ibu kota dari sebelah utara atau dari belakang Puri Denpasar yang didahului dengan penyerangan ke Puri Kesiman, baru diputuskan pada 18 September 1906.
Keputusan itu baru diambil dengan pasti setelah ada laporan dari mata-mata Belanda bahwa I Gusti Gde Ngurah Kesiman yang ikut menyerang benteng Belanda di Sanur telah terbunuh.
Pada 18 September 1906, sejak pukul 08.00 hingga pukul 18.00, meriam penembak yang teletak disebelah kanan benteng ditembak ke arah kota. Sebanyak 216 tembakan meriam diarahkan ke Puri Pemecutan dan Denpasar, beberapa mengenai Puri dan lebih banyak jatuh di luarnya.
Sebanyak 1.500 orang laskar yang tidak gentar menghadapi gertakan Belanda melalui tembakan meriam, kemudian memperkuat benteng pertahanan di tepi timur Kesiman, di dekat kebun kelapa antara tepi sungai Ayung dan Desa Tangtu.
Pada 19 September, pukul 07.45, pasukan Belanda sudah siap menyerang Kesiman. Gerakan Pasukan Belanda dimulai dari pantai menuju ke utara. Sementara itu laskar Kerajaan Badung yang mempertahankan Desa Tangtu menyerang Rost Van Toningen pada Batalyon 20 sehingga seorang prajurit Belanda luka berat.
Serangan laskar Badung dapat dihentikan oleh 2 peleton Batalyon 11 yang mengejar. Mereka melanjutkan serangannya untuk menduduki Puri Kesiman dengan kekuatan 3 batalyon yaitu Batalyon 11 mengambil posisi sayap kanan, Batalyon 20 di tengah, dan Batalyon 18 di posisi sayap kiri disebelah timur Sungai Ayung.
Pada pukul 10.45 kedudukan laskar Kerajaan Badung sudah mendekati jarak 350 meter dari pasukan Belanda yang paling depan, sehingga asap mesiu yang mengepul sekitar kedudukan laskar Badung menjadi sasaran tembak pasukan Belanda.
Kelemahan pada pihak laskar Badung terletak pada teknik persenjataan. Kalah dalam persenjataan tersebut mengakibatkan Puri Kesiman dapat diduduki oleh tiga batalyon pasukan Belanda pada pukul 15.30.
Jatuhnya pertahanan di Puri Kesiman mempermudah pasukan Belanda ke sebelah barat untuk menuduki Puri Denpasar dan Puri Pemecutan.
Pasukan Belanda bergerak ke arah Barat meninggalkan Puri Kesiman dan menuju tepi barat Desa Sumerta pada 20 September 1906, pukul 07.00 bersamaan dengan gerakan pasukan, tembakan meriam dari benteng Belanda di Sanur diarahkan ke Puri Denpasar dan Pemecutan, di mana sebanyak 60 peluru meledak di dalam dan sekitar puri, sehingga menimbulkan kerusakan.
Laskar Badung di tepi barat Desa Sumerta melakukan perlawanan untuk mempertahankan tepi timur Denpasar. Pada pukul 08.00 pasukan Belanda dibagi tiga bagian. Batalyon 18 berbaris kesebelah kiri menuju Desa Kayumas, Batalyon 11 kesebelah kanan jalan (utara) menuju batas timur Denpasar.
Pada waktu Batalyon 18 berangkat ke selatan, sejumlah laskar Badung yang mempertahankan Kayumas menembak dengan meriam (lila), tetapi dibalas pasukan Belanda.
Pada pukul 09.00 Raja I Gusti Ngurah Denpasar telah mendengar bahwa pasukan Belanda telah masuk ke Kota Denpasar. Di Puri Denpasar telah berkumpul keluarga dan pengikut setia Raja, kira-kira 250 orang. Saat itu Raja memerintahkan untuk membakar Puri Denpasar.
Pukul 10.30, Batalyon 11 pasukan Belanda telah menduduki perempatan. Pada jalan Denpasar menuju Tangguntiti. Pada pukul 11.00, Raja dan rombongannya keluar Puri. Laki-laki dan wanita semuanya membawa senjata yang terdiri atas keris dan tombak.
Rombongan ini bergerak ke sebelah utara melalui pintu gerbang Puri dan keluar jalan besar, sampai di persimpangan jalan Jero Belaluan. Rombongan meneruskan perjalanan sampai jarak sekitar 300 meter dari Batalyon 11.
Rombongan diperintahkan untuk berhenti melalui penerjemah. Meskipun sudah berulang kali diperingatkan, tetapi rombongan maju terus hingga semakin dekat, sampai jarak 100 meter, 80 sampai 70 langkah dari kedudukan pasukan Belanda.
Pada jarak terakhir, Raja dan rakyat Badung berlari kencang dengan tombak dan keris terhunus menerjang musuh. Saat itulah tembakan salvo dilepaskan sehingga beberapa orang jatuh tersungkur termasuk Raja Badung. Pengikut yang masih hidup melanjutkan penyerbuannya dan tembakan gencar pasukan Belanda diteruskan. Pada waktu itulah terjadi peristiwa yang mengerikan bagi orang Belanda. Dengan cara melawan pantang menyerah, berperang sampai titik darah penghabiskan.
Rombongan kedua dari Puri, kemudian muncul di jalan besar, dipimpim oleh saudara tiri raja yang masih berumur 12 tahun, mengepung pasukan Belanda. Saat itu, komandan pasukan dan juru bahasa pun memperingatkan agar berhenti, tetapi rombongan ini tidak menghiraukan dan menyerang dengan ganas.
Satu persatu mereka gugur kena peluru. Tumpukan mayat sebelumnya semakin bertambah.
Sementara itu, di dekat perempatan jalan dari Denpasar menuju Tangguntiti dan Kesiman masih terjadi serangan laskar Kerajaan Badung.
Laskar Badung yang masih menduduki Jero Taensiat melakukan serangan sporadis terhadap kedudukan pasukan Belanda. Oleh karena peperangan yang tidak seimbang antara pasukan militer propesional lengkap dengan persenjatan modern pada waktu itu terhadap laskar konvensional, perlawanan dengan mudah dipadamkan.
Pasukan Belanda bergerak ke selatan menuju dan menduduki Puri Denpasar pada pukul 13.00. Dari depan Puri Denpasar, pasukan Belanda melanjutkan penyerangannya ke Puri Pemecutan pada pukul 15.00.
Raja Badung dari Puri Pemecutan, I Gusti Gde Ngurah Pemecutan, memerintahkan untuk membakar Puri sebelum melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.
Pada pukul 15.00 batalyon sudah meninggalkan halaman depan Puri Denpasar dan sampai di Puri Suci tanpa perlawanan laskar, sebab konsentrasi pertahanan Kerajaan Badung berada disebelah kiri depan Puri Pemecutan.
Tembakan gencar yang dilepaskan pasukan Belanda bertujuan membebaskan jalan di depannya dari serangan mendadak laskar Badung, karena sejumlah laskar semakin mendekati kedudukan pasukan Belanda.
Laskar Kerajaan Badung yang bertahan diseberang sungai melepaskan tembakan ke arah Batalyon 18 setelah jarak tembak 700 meter dan tepat mengenai sasaran sehingga dua orang dari pasukan Belanda menjadi korban. Dibalas dengan tembakan artileri meriam kaliber 3,7 mengakibatkan Laskar Badung berguguran.
Pasukan Belanda bergerak maju mendekati Puri Pemecutan dan pada waktu itu serangan laskar Badung dilakukan. Raja I Gusti Ngurah Pemecutan yang diusung dengan tandu berkumpul dengan para punggawa, istri, dan keluarganya di Puri Pemecutan. Semuanya bergerak menyongsong kehadiran pasukan Belanda.
Kelompok laskar di sana-sini bermunculan menyerang dengan tombak dan senapan dari jarak yang agak jauh. Rombongan raja bergerak secara perlahan mendekati pasukan Belanda. Setelah posisi mereka sangat dekat dengan posisi pasukan Belanda, raja pasukannya bergerak semakin cepat dan langsung menerjang pasukan Belanda. Pada pertarungan sengit itulah Raja dan pasukannya gugur satu persatu. Akhirnya pada pukul 18.00 perlawanan laskar Badung di Pemecutan yang merupakan benteng terakhir terhenti. Belanda berhasil menduduki Puri Pemecutan.
Puputan Badung adalah sebuah bentuk perang perlawanan terhadap ekspedisi militer pemerintah kolonial Belanda V di Badung. Puputan Badung berarti pula bentuk reaksi terhadap intervensi penguasa Belanda terhadap kedaulatan masyarakat Badung. Bagi masyarakat Bali di Badung, puputan berarti juga sikap mendalam yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur, yaitu ksatria sejati, rela berkorban demi kedaulatan dan keutuhan negeri (Nindihin Gumi Lan Swadharmaning Negara), membela kebenaran dan keadilan (Nindihin Kepatutan), serta berperang sampai tetes darah terakhir. (ote)
Editor : Miftahul Khair