KAMUS Besar Bahasa Indonesia mengartikan tunarungu sebagai istilah medis untuk gangguan pendengaran dan dianggap lebih sopan, halus, dan formal. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang menggunakan tunarungu yang mereka anggap lebih sopan.
Padahal faktanya, seperti dilansir dari situs halodoc.com, komunitas tuli lebih nyaman dengan panggilan tuli yang menggunakan huruf kapital T, dalam penulisannya ketimbang tunarungu.
Tuli adalah istilah budaya untuk kelompok tertentu yang memiliki gangguan pendengaran. Alhasil, pengidap tunarungu menganggap sapaan tuli dapat menunjukkan identitas sebuah kelompok masyarakat dengan cirri memiliki identitas social, memiliki bahasa ibu (bahasa isyarat), serta memiliki budaya sendiri (sejarah, sistem bahasa, nilai, tradisi, sistem kemasyarakatan, dan lain-lain).
Bagi komunitas tuli, berkomunikasi dengan bahasa isyarat sudah menjadi bahasa ibu dan mereka bangga dengan cara mereka sendiri. Tidak ada keharusan untuk mengoptimalkan pendengarannya, supaya menyerupai orang yang bisa mendengar. Namun, dokter akan lebih sering menyebut istilah tunarungu dalam dunia medis.
Dilansir dari situs fimela.com, keterbatasan penyandang disabilitas bukan menjadi hambatan untuk tetap berprestasi di berbagai bidang. Justru, penyandang tunarungu bisa menjadi orang yang hebat dan sukses. Kekerungan mereka justru menjadi kelebihan untuk menggapai impian. Hal ini pun dibuktikan oleh beberapa sosok penyandang tunarungu yang menjadi orang sukses di bidangnya.
Bertepatan dengan Hari Bahasa Isyarat Internasional (The International Day of Sign Languages) yang jatuh pada hari ini, 23 September, pontianakpost.jawapost.com akan mengulas tiga sosok penyandang tunarungu Indonesia, yang sukses meski dengan keterbatasan tersebut.
Angkie Yudistia
Nama Angkie Yudistia tidak asing lagi menjadi perempuan yang sukses. Meski ia memiliki keterbatasan pendengaran. Pada usia 10 tahun, Angkie mengalami demam tinggi, akibat kesalahan obat antibiotik, sehingga membuat dirinya kehilangan fungsi pendengarannya. Dirinya harus menerima kenyataan bahwa ia pun menjadi tunarungu.
Namun kini, ia menjadi salah satu staf khusus Presiden, yang ditunjuk sendiri oleh Presiden Joko Widodo. Wanita kelahiran Medan ini juga dikenal sebagai pendiri Thisable Enterprise.
Banyak mencetak prestasi, ia didapuk menjadi salah satu finalis Abang None Jakarta pada 2008. Tak hanya itu, Angkie Yudistia juga menulis buku berjudul Perempuan Tunarungu, Menembus Batas.
Surya Sahetapy
Putra dari artis Dewi Yul ini seorang aktivis tuli, juru bahasa isyarat, dan aktor asal Indonesia. Ia pun menjadi salah satu penggerak organisasi GERKATIN (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia).
Divonis penyandang tungarungu sejak lahir, namun ia mampu menjadi pembicara di VII World Congress of The World Federation of The Deaf di Istanbul, Turki.
Kemudian pada 2018, Presiden Joko Widodo merekrut Surya Sahetapy sebagai salah satu staf khusus kepresidenan. Namun, saat sudah diterima, Surya ternyata meraih beasiswa studi di Amerika Serikat.
Rafi Ridwan
Pemilik nama lengkap Rafi Abdurrahman Ridwan itu dikenal sebagai desainer yang namanya telah mendunia. Rafi sendiri merupakan seorang penyandang tungarungu yang jadi desainer termuda di Indonesia dan dunia.
Meski memiliki keterbatasan, laki-laki berusia 18 tahun itu mampu membawa dirinya menuju kesuksesan. Bahkan, karyanya pernah dipakai oleh Tyra Banks pada America's Next Top Model hingga Michelle Obama.
Pada 2017 saat usianya masih 15 tahun, Rafi ikut turut serta memamerkan koleksinya pada El Paso Fashion Week 2017 di Texas Amerika Serikat. Rafi Ridwan menghadirkan busana dengan sentuhan motif dan kain tradisional yaitu tenun NTT dan Papua. Lewat koleksi ini, Rafi Ridwan memamerkan kekayaan heritage Indonesia ke mancanegara. (ote)
Editor : Miftahul Khair