HARI ini, 27 September, diperingati sebagai Hari Pariwisata Sedunia (World Tourism Day). Hari tersebut telah ditetapkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) pada September 1979.
Sebagaimana dilansir dari situs daysoftheyear.com, pariwisata telah menjadi bagian dari pengalaman manusia selama masih ada tempat yang jauh untuk dikunjungi dan dinikmati.
Awalnya, kebiasaan ini merupakan kebiasaan orang kaya, dengan perjalanan yang sulit dan mahal. Namun kebiasaan ini memberikan kesempatan untuk mempelajari bahasa baru, mencicipi masakan yang berbeda, dan secara umum melihat apa yang dapat dilihat.
Pariwisata dapat ditelusuri kembali ke periode Shulgi di Tiongkok Kuno, ketika para raja bersusah payah melindungi jalan dan membangun stasiun bagi para pelancong.
Pada Abad Pertengahan, perjalanan menjadi semakin penting karena alasan agama. Sebut saja Buddha, Islam, hingga Kristen, semuanya memiliki tradisi ziarah yang mengharuskan perjalanan jauh demi kepentingan kesehatan dan peningkatan spiritual.
Hari Pariwisata Sedunia sendiri ditetapkan untuk mempromosikan pariwisata yang berkelanjutan, bertanggung jawab, dan dapat diakses secara universal. Pariwisata memberikan manfaat bagi wisatawan dan lokasi yang dikunjungi, dan merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
Untuk mencapai tujuan ini telah disusun Kode Etik Pariwisata Global, untuk membantu meningkatkan manfaat pariwisata, sekaligus meminimalkan dampaknya dan melindungi masyarakat, budaya, dan lingkungan di lokasi yang dikunjungi dan dinikmati orang.
Hari Pariwisata Sedunia adalah sesuatu yang telah berlangsung selama bertahun-tahun hingga saat ini. Sebenarnya ini adalah sesi ketiga Sidang Umum UNWTO yang memutuskan ditetapkannya Hari Pariwisata Sedunia. Hal ini terjadi di Spanyol di Torremolinos pada September 1979.
Hal ini menyebabkan Hari Pariwisata Sedunia pertama diadakan pada tahun berikutnya, 1980. Tanggal tersebut dipilih agar bertepatan dengan tonggak penting dalam pariwisata global, yaitu hari peringatan ketika Patung UNWTO diadopsi pada 27 September 1970. Ini juga merupakan pilihan yang tepat karena menandai awal musim di belahan bumi selatan dan berakhirnya musim ramai di belahan bumi utara.
Dilansir dari situs Perserikatan Bangsa Bangsa, disebutkan bahwa pariwisata, yang sering disorot karena perannya dalam pembangunan ekonomi, juga memainkan peran penting dalam membina perdamaian.
Pada tingkat global, di mana negara-negara saling terhubung dan saling bergantung, Pariwisata sebagai sebuah industri yang dibuat oleh manusia dan untuk manusia, muncul sebagai kekuatan yang menarik dan dinamis untuk menentang stereotip dan menantang prasangka.
Sektor ini dapat dianggap sebagai lambang dialog antar budaya, di mana hal ini memungkinkan semua orang untuk bertemu dengan orang lain, belajar tentang budaya yang berbeda, mendengar bahasa asing, mencicipi cita rasa yang eksotis, menjalin ikatan dengan manusia lain, dan membangun toleransi. Intinya, ini adalah pengalaman pendidikan dan spiritual yang memperluas pikiran.
Hari Pariwisata Sedunia tahun ini mengusung tema Pariwisata dan Perdamaian, yang dimaksudkan ingin menyoroti peran penting sektor ini dalam memupuk perdamaian dan pemahaman antar bangsa dan budaya serta dalam mendukung proses rekonsiliasi. (ote)
Editor : Miftahul Khair