Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bagaimana Para Vegetarianisme Hadir, Demikian Sejarahnya

Miftahul Khair • Selasa, 1 Oktober 2024 | 12:26 WIB
BAPAK VEGETARIAN: Pythagoras, seorang filsuf yang terkenal dengan gagasan untuk tak makan daging dan ikan, yang kelak dikenal dengan sebutan vegetarian.
BAPAK VEGETARIAN: Pythagoras, seorang filsuf yang terkenal dengan gagasan untuk tak makan daging dan ikan, yang kelak dikenal dengan sebutan vegetarian.

MUNGKIN banyak yang beranggapan bahwa vegetarisme merupakan ideologi yang cukup baru, namun kenyataannya orang telah menerapkan pola makan nabati selama mereka mengkonsumsi produk hewani lainnya, seperti daging, telur, dan olahan/produk susu.

Di Hari Vegetarian Sedunia (World Vegetarian Day) yang diperingati pada hari ini, 1 Oktober 2024, pontianakpost.jawapos.com akan mengulas kemunculan para penganut vegetarianisme ini.

Dilansir dari situs superprof.co.id, pandangan tentang diet vegetarian tidak pernah sependapat dan terus berbeda di berbagai belahan dunia dan lintas agama yang berbeda.

Agama telah memainkan peran yang sangat besar, baik dalam memusnahkan spesies hewan maupun dalam membalikkan pandangan bahwa manusia lebih unggul.

Menurut sejarawan, nenek moyang dulu mendapatkan makanan dengan cara berburu atau menggali makanan, bahkan sering kali mereka memakan hewan apa pun yang ada di depan mereka, termasuk babi hutan.

Meskipun begitu, nampaknya naluri berburu yang dimiliki manusia sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu, dikutip dari artikel di The Guardian.

Baru-baru ini ditemukan bukti bahwa manusia purba membunuh hewan untuk diambil dagingnya, sekitar 400 ribu tahun yang lalu, tetapi situs penjagalan (penjual dagaing) di Tanzania yang ditemukan baru-baru ini menunjukkan fakta berbeda bahwa manusia mampu mengambil daging hewan sejak 1,6 juta tahun sebelumnya.

Pola makan kaya protein, vitamin, dan nutrisi yang menyertainya telah mendorong perkembangan spesies manusia menjadi Homo sapiens, seperti wujud saat ini dan lagi membantu otak untuk tumbuh memerakan organ intelektualnya.

Ironisnya, pola berpikir dan berempati dengan orang lain, bahkan spesies lain, yang nyatanya melahirkan vegetarian pertama dengan membawa ideologi independen mereka tentang kesetaraan manusia dengan hewan.

Pada masa itu, pandangan demikian, seringkali dianggap fanatik dan menjerumuskan mereka ke hukuman atas pemikiran liar tersebut.

Apakah para pembaca mengenali tokoh-tokoh bersejarah dalam hal keyakinan dan minat pribadi mereka. Misalnya, Matematikawan terkenal, Pythagoras (580 SM), yang seharusnya tidak hanya dikenang karena terobosan penemuan matematikanya, dia juga merupakan seorang yang pertama kali menujukkan pemikiran independen terkait kekejaman terhadap hewan. Dia meyakini bahwa semua spesies di planet ini harus memiliki hak yang sama.

Tetapi sebelum Pythagoras, orang Mesir dan Babilonia kuno telah lama mempraktikkan ideologi vegetarian sebagai bagian dari keyakinan agama mereka, dengan tidak memakan daging dan memakai produk hewani lainnya. Keyakinan ini berakar pada jiwa mereka sejak 3.200 SM silam.

Tetapi Pythagoras-lah yang dengan sendirinya berupaya memperjuangkan berbagai manfaat kesehatan yang diperoleh dari pola makan vegetarian dan semua tahu bahwa dia bukanlah orang yang bodoh.

Meskipun bukti ilmiahnya dirasa belum cukup kuat, dia memandang kehidupan yang pantang akan produk hewani tidak hanya wujud untuk hidup damai berdampingan di bumi, tetapi juga menunjukkan bahwa pola hidup demikian, bermanfaat bagi manusia untuk tetap menjaga kemurnian jiwanya.

Nama-nama Yunani terkenal lainnya, namun menentang pandangan tersebut adalah Socrates, Plato, dan Aristoteles, di mana ketiganya sependapat bahwa hewan sama halnya budak di bumi ini.

Oleh sebab itu, tidak memiliki tempat yang lebih layak selain dimakan dagingnya atau diambil kulitnya untuk dijadikan pakaian. Mereka memiliki perasaan simpati yang terbatas, sehingga biasa untuk menyembelih hewan dan mengambil dagingnya, selain itu mereka menganggap bahwa pandangan Pythagoras tidak layak untuk diikuti.

Sementara kebaikan terhadap hewan telah lama menjadi bagian dari kepercayaan agama Timur, misalnya dalam mitologi Mesir Kuno di mana beberapa hewan dipandang sebagai dewa suci.

Sementara Kekristenan melihat manusia sebagai makhluk hidup yang unggul dan karenanya siapa pun yang tidak setuju dengan gagasan ini dipandang sebagai penyimpangan atau fanatik, bahkan harus dianiaya karena menyuarakan pendapat mereka.

Ketika memasuki renaisans, vegetarianisme masih tergolong ideologi yang langka, tetapi sering dibentuknya komunitas yang dominasi memakan makanan tanpa daging dan menerapkan pola makan nabati atas pilihan mereka sendiri.

Daging tergolong barang mewah bagi kalangan orang kaya, sementara kelaparan dan berbagai penyakit mulai menyerang seluruh dunia. Leonardo Da Vinci, pelukis dan penemu terkenal, menolak pemikiran penyembelihan hewan, seperti banyak penulis klasik lainnya pada masa itu.

Mereka mengungkapkan dengan kata-kata yang didasari gagasan kuat, bagaiamana perasaan dan pemikiran yang dimiliki hewan seperti manusia.

Contohnya, John Clare yang menuliskan tentang luak yang ditangkap dan dipancing dalam puisinya yang berjudul Badger, sementara Ted Hughes mengomentari nasib babi di rumah jagal yang dituangkan dalam puisinya berjudul View of a Pig. Dan Da Vinci yang sering menggunakan hewan liar sebagai subjek penelitian dan lukisannya.

Pada periode pencerahan abad ke-18 mulai muncul lebih banyak pandangan yang berlawanan tentang kedudukan manusia dan hewan dalam tatanan penciptaan, beberapa orang berpendapat bahwa hewan adalah robot tanpa jiwa, sedang yang lain memperdebatkan bahwa mereka adalah makhluk cerdas yang dapat merasakan dan berkomunikasi seperti kita. Sekarang ini, cara penyembelihan hewan benar-benar mengerikan.

Pada abad ke-19, akhirnya romantisme menang dan pada 1809 terbentuk gerakan penting menuju vegetarisme sebagai bagian dari iman agama Kristen.

Hingga terhitung hari ini, banyak yang mulai mengajukan banding untuk tidak memakan daging dan menggunakan referensi alkitabiah untuk mendukung teori mereka.

Pada 1847, Society Vegetarian Inggris teribentuk dan sekitar tahun 1880-an restoran-restoran vegetarian mulai bermunculan di seluruh pusat kota, sehingga makanan vegetarian kaya gizi lebih mudah didapatkan.

Hal itu menunjukkan bahwa pengikut gerakan ini dapat dengan mudah menikmati sayuran dengan orang-orang yang sependapat dengan komunitas mereka.

Dengan kondisi kesehatan Inggris yang masih belum baik, Vegetarian Society mengirimkan makanan ke beberapa komunitas yang membutuhkan sebagai tindakan kemanusiaan untuk membantu menyelamatkan orang banyak.

Kekurangan stok daging akibat Perang Dunia II mendorong sejumlah masyarakat untuk mencari dan menggali sumber makanan lain.

Karena itulah banyak yang bertahan hidup dengan pola makan hampir serupa vegetarian selama perang. Pada 1945, sekitar 100 ribu orang Inggris menjadi vegetarian.

Melihat hari ini, masyarakat percaya bahwa jumlah vegetarian yang berkomitmen penuh telah meningkat mencapai hampir 2 juta orang, di mana berkat toko-toko dan supermarket yang menyediakan berbagai pilihan makanan vegetarian frozen seperti quorn cincang dan potongan tofu, jumlahnya terus meningkat.

Tanpa mereka, bahan untuk resep makanan vegetarian tidak akan mudah didapatkan sehingga mungkin angka tersebut akan jauh lebih rendah.

Semenjak 1950-an dan 1960-an, orang-orang mulai sadar akan kesehatan mereka dan membentuk korelasi antara mengontrol kesejahteraan mereka, dengan penyesuaian pola makan, juga tentang pilihan hidup mereka lainnya.

Konon, permintaan rokok dan produk tembakau lainnya sangat tinggi, sehingga para ilmuwan dan pakar kesehatan masih harus menempuh jalan panjang dalam mengevaluasi apa yang baik untuk tubuh manusia.

Sementara itu, pada 1980-an dan 1990-an telah terjadi pembinasaan yang dialami umat manusia di Bumi, dan vegetarianisme akhirnya bangkit kembali. Lebih banyak orang yang mulai memperhatikan alternatif lain yang tersedia untuk mereka selain protein hewani dan beralih ke pola makan tanpa daging.

Para vegetarian melakukan kampanye untuk mengubah perlakuan kita terhadap hewan, dengan adanya eksperimen hewan dan peternakan telah terungkap.

Dan lagi fakta menarik bahwa mereka juga berusaha untuk meyakinkan sejumlah orang tentang berbagai manfaat menjadi vegetarian, misalnya dalam bentuk aksi Pekan Vegetarian Nasional yang berlangsung pada Mei 2018, di Inggris misalnya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh komunitas vegan. Vegan menjauhkan diri dari semua produk yang berasal dari hewan. Selain menghindari daging, vegan juga tidak mengonsumsi telur, susu, atau produk lain yang dibuat dengan menyakiti hewan.

Siapapun boleh bergabung dalam aksi tersebut, bahkan untuk mereka yang tidak berencana melanjutkan diet tanpa daging.

Tujuannya untuk menyoroti berbagai manfaat kesehatan yang diperoleh vegetarianisme dengan mengajak orang-orang untuk mencobanya, dan berharap hal itu akan berlangsung lebih lama atau mereka akan menjadi vegetarian permanen. (ote)

Editor : Miftahul Khair
#vegetarian #sejarah hari ini #sejarah vegetarian