PENEMUAN toilet bisa dikatakan sebagai salah satu penemuan bersejarah dan paling bermanfaat bagi umat manusia di dunia. Penemuan ini memiliki sejarah yang cukup panjang dengan tujuan untuk menciptakan sanitasi yang lebih baik. Di Hari Toilet Sedunia (World Toilet Day) yang diperingati setiap 19 November, perlu kiranya membahas tentang istilah toilet ini.
Dilansir dari situs Strong Indonesia, toilet adalah fasilitas yang digunakan untuk membuang sisa-sisa metabolisme (feses dan urine) dari tubuh manusia.
Umumnya terdiri dari sebuah tempat duduk atau tandas yang dilengkapi dengan sebuah cerobong atau saluran yang mengarah ke sebuah septic tank atau saluran pembuangan yang terpisah.
Fasilitas ini biasanya dilengkapi dengan sebuah tangga air atau sistem flush yang digunakan untuk membersihkan tempat duduk toilet setelah penggunaan.
Tempat pembuangan ini sangat penting bagi kebersihan dan kesehatan individu maupun masyarakat.
Istilah toilet sendiri berasal dari kata Bahasa Prancis, toilette, yang artinya ruang ganti pakaian.
Model kloset yang dianggap sebagai yang pertama di dunia ditemukan di Mohenjadaro dan peradaban Romawi Kuno.
Sebelum adanya toilet di dalam rumah, orang harus mengeluarkan kotoran dengan cara seperti menguburkannya di hutan, melemparkannya keluar jendela ke tempat pembuangan kotoran terbuka, atau membuangnya ke dalam sungai.
Di Mesir kuno, tempat pembuangan urine atau feses dapat ditemukan di dalam tembok-tembok piramida yang terbuat dari batu. Fasilitas tersebut terdiri dari sebuah lubang di lantai yang mengeluarkan sisa-sisa metabolisme ke bawah ke tanah.
Pada masa kekaisaran Romawi, toilet yang lebih canggih ditemukan dengan sistem saluran yang digunakan untuk mengalirkan air ke fasilitas tersebut dan membersihkan sisa-sisa metabolisme.
Tempat pembuangan ini juga dapat ditemukan di dalam bangunan-bangunan publik seperti termas, yang merupakan tempat relaksasi masyarakat Romawi.
Alexander Cummings, seorang pembuat jam dari Skotlandia, memperkenalkan flush toilet pada 1775. Setelah Perang Dunia II, kloset duduk model Barat dan urinoir mulai mendominasi toilet umum di Jepang. Pada masa itu, tisu belum ada, sehingga cara membersihkan diri juga berbeda dari sekarang.
Saat ini, toilet modern telah tersebar luas di seluruh dunia, dengan banyak variasi yang tersedia, termasuk yang menggunakan air untuk membersihkan sisa-sisa metabolisme, menggunakan sistem pembuangan ke septic tank, dan menggunakan teknologi lainnya.
Toilet memiliki banyak sekali manfaat, sehingga keberadaannya terus dipertahankan bahkan dikembangkan dari waktu ke waktu. Beberapa manfaat toilet antara lain untuk kebersihan pribadi, lingkungan, dan mencegah penyebaran penyakit.
Pada kebersihan pribadi, dengan menggunakan tempat yang sesuai untuk aktivitas buang air kecil dan buang air besar, dapat membersihkan diri setelah buang air.
Hal ini akan membantu mencegah terjadinya infeksi pada anus atau kemaluan.
Di sisi lain, buang air di tempat yang seharusnya dapat mencegah terjadinya penyakit seperti diare, disentri, dan infeksi saluran kemih.
Penggunaan toilet yang tersedia juga dapat membantu menjaga keamanan, terutama bagi wanita yang takut terjadi kejadian-kejadian tidak diinginkan saat buang air di tempat terbuka.
Kehadiran toilet dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan akibat buang air sembarangan.
Feses dan urine yang dibuang sembarangan dapat menyebabkan pencemaran air dan tanah, serta menjadi sumber penyakit bagi manusia dan hewan.
Fasilitas ini juga dapat digunakan untuk membantu menjaga keindahan lingkungan, karena tidak ada sampah atau feses yang terlihat.
Selain itu juga dapat menjaga kualitas air, terutama di daerah yang tidak memiliki sistem pengelolaan air limbah yang baik.
Secara keseluruhan, toilet yang terawat dengan baik dan tersedia secara luas dapat membantu mencegah penyebaran penyakit melalui berbagai cara.
Orang yang membersihkan diri setelah buang air akan mencegah penularan penyakit yang dapat tersebar melalui tinja atau feses.
Selain itu, juga dapat membantu mencegah penyebaran penyakit melalui air yang terkontaminasi. (ote)
Editor : Miftahul Khair