Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Siapa Penemu Kue, Bagaimana Makanan Ini Bisa Terjadi?

Miftahul Khair • Selasa, 26 November 2024 | 11:35 WIB
KUE KUNO: Gambaran kue atau suguhan roti di era Mesir Kuno.
KUE KUNO: Gambaran kue atau suguhan roti di era Mesir Kuno.

PERNAHKAH pembaca bertanya-tanya bagaimana suguhan kue yang lezat dan manis bisa dinikmati saat ini?

Menikmati suguhan kue merupakan salah satu kesenangan sederhana dalam hidup, yang dapat mendatangkan kegembiraan di setiap kesempatan.

Dari pesta ulang tahun dan perayaan hingga camilan yang menenangkan di hari hujan, kue telah menjadi makanan yang melintasi sejarah yang sedemikian panjang.

Di Hari Kue Internasional (International Cake Day) yang diperingati setiap 26 November, pontianakpost.jawapos.com akan menyuguhkan bagaimana kue melintasi zaman, dari kemunculannya kali pertama dalam lintasan sejarah.

Dilansir dari situs linoui.in, digambarkan bahwa sejarah kue sebenarnya cukup menarik.

Kata cake berasal dari kata Norse Kuno, kaka, yang berarti roti pipih. Kue awal sebenarnya lebih mirip dengan apa yang dianggap sekarang sebagai biskuit atau kue kering. Bentuknya rata dan kering, dan sering kali ditambahkan buah atau kacang untuk memberi rasa.

Kue pertama mungkin dibuat di Mesir kuno. Ragi digunakan untuk membuatnya ringan dan halus. Madu juga sering digunakan sebagai pemanis.

Kacang-kacangan dan rempah-rempah ditambahkan untuk menambah rasa dan kue terkadang diberi es dengan madu atau sirup.

Kekaisaran Romawi juga memiliki tradisi panjang dalam membuat kue.

Salah satu rasa yang paling populer adalah kue minyak zaitun, yang dibumbui dengan rosemary dan rempah-rempah lainnya.

Rasa populer lainnya adalah kue plum, yang dibuat dari buah-buahan kering dan kacang-kacangan.

Kue menjadi lebih populer pada Abad Pertengahan ketika gula lebih mudah didapat.

Harga gula mahal, jadi hanya orang kaya yang mampu membuat kue secara rutin. Kue pengantin sangat rumit, sering kali bertingkat dan dihiasi dengan dekorasi mahal seperti daun emas dan mawar gula.

Saat ini, ada ribuan jenis kue yang tersedia, mulai dari kue bolu sederhana hingga kreasi coklat yang kaya rasa.  

Kue paling awal sangat berbeda dengan kue yang dikenal sekarang ini. Tampilannya lebih seperti roti dan terkadang bahkan gurih.

Penyebutan kue pertama kali dimulai pada abad ke-4 SM, ketika seorang penulis Yunani menyebutkan kue yang dibuat dengan madu dan tepung terigu.

Baru pada masa Kekaisaran Romawi, kue mulai menjadi lebih manis. Bangsa Romawi menambahkan buah-buahan dan kacang-kacangan ke dalam kue mereka, dan terkadang merendamnya dalam madu. Dari sinilah didapatkan kata cake yang berasal dari kata Latin berarti roti pipih.

Kue benar-benar mulai mengambil bentuk modernnya pada Abad Pertengahan.

Gula menjadi lebih terjangkau saat ini, sehingga orang mulai menggunakannya untuk mempermanis kue mereka.

Mentega dan telur juga digunakan dalam kue untuk pertama kalinya, menjadikannya lebih kaya dan lezat dibandingkan sebelumnya.

Bahan dan metode pembuatan kue telah berkembang secara signifikan sejak zaman kuno, namun konsep dasar menggabungkan tepung, gula, lemak, dan telur untuk membuat camilan manis tetap konstan.

Di zaman Mesir Kuno misalnya, kue dibuat dengan kombinasi tepung semolina, madu, mentega, dan telur.

Baca Juga: Ratusan Personel Gabungan TNI-Polri Diterjunkan Amankan Pemungutan Suara Pilkada Kubu Raya 2024

Dipercaya bahwa kue ini disajikan kepada para dewa dan dewi Mesir, serta bangsawan dan pejabat lainnya.

Sementara kue madu Romawi dibuat dengan kombinasi tepung terigu utuh, madu, minyak zaitun, dan telur. Itu adalah suguhan populer di Roma kuno dan masih dinikmati sampai sekarang.

Di sisi lain, ada juga kue rempah Abad Pertengahan, di mana kue ini dibuat dengan kombinasi tepung gandum hitam, madu, mentega, dan rempah-rempah seperti kayu manis, pala, dan cengkeh.

Suguhan kue tersebut populer di Eropa abad pertengahan dan masih dinikmati oleh banyak orang hingga saat ini.

Ada juga kue buah Skotlandia, yang dibuat dengan kombinasi oat, tepung barley, buah-buahan kering seperti kismis dan kismis, mentega, telur, dan wiski atau brendi.

Ini adalah kue tradisional Skotlandia yang sering disajikan di pesta pernikahan dan acara khusus lainnya.

Bahkan ada kue jeruk Jepang, di mana kue ini dibuat dengan kombinasi tepung beras, kulit jeruk, mentega, telur, dan gula.

Hal ini diyakini berasal dari Tiongkok, tetapi menjadi populer di Jepang.

Pada tahun-tahun antara jatuhnya Roma dan Renaisans, kue kebanyakan dibuat oleh orang-orang kaya sebagai barang mewah.

Seringkali mereka sangat rumit, dengan banyak lapisan dan dekorasi. Pada masa ini, kue buah dan kue Natal menjadi populer.

Pada Abad Pertengahan, gula merupakan bahan yang langka dan mahal, sehingga jarang digunakan dalam kue.

Madu lebih sering digunakan, itulah sebabnya banyak resep kue abad pertengahan sebenarnya lebih mirip pai atau puding berbahan dasar madu.

Roti juga terkadang digunakan sebagai bahan dasar kue, itulah sebabnya beberapa versi awal kue sebenarnya cukup padat dan berat.

Baru pada masa Renaisans, gula menjadi lebih mudah didapat dan terjangkau, sehingga memungkinkan masyarakat awam untuk menikmati makanan manis seperti kue secara rutin.

Periode ini juga menyaksikan perkembangan teknik dan bahan pembuatan kue baru, seperti ragi, yang memungkinkan pembuatan kue yang lebih ringan dan pulen.

Sementara, memasuki zaman modern, maka kue modern dapat diartikan sebagai makanan manis yang terbuat dari campuran tepung, gula, telur, mentega atau minyak, dengan baking powder atau soda sebagai ragi, dan seringkali buah, coklat, atau kacang-kacangan. Biasanya dipanggang dalam oven dan memiliki tekstur lembut dan ringan.

Kue coklat pertama dibuat pada 1764 oleh Dr. James Baker dan John Hannon.

Kedua pria tersebut awalnya memproduksi coklat dengan menggiling biji kakao di antara dua lempengan granit yang dipanaskan.

Baker kemudian mencampurkan pasta yang dihasilkan dengan air untuk menghasilkan coklat cair yang dapat digunakan dalam kue dan makanan penutup lainnya.

Pada 1828, ahli kimia Belanda Coenraad Johannes van Houten mengembangkan proses untuk mengolah biji kakao dengan garam alkali, yang mengurangi rasa pahitnya dan membuatnya lebih mudah larut.

Proses dutching ini memungkinkan terciptanya bubuk kakao, yang membantu membuka jalan bagi kue coklat dan manisan lainnya.

Pada awal 1800-an, pembuat roti Inggris mulai menggunakan bahan ragi kimia seperti natrium bikarbonat (soda kue) dan krim tartar (kalium bitartrat) untuk membuat kue lebih ringan dan pulen.

Resep-resep ini biasa disebut roti cepat karena dapat dibuat dengan cepat tanpa harus menunggu ragi mengembang. Pembuat roti Amerika mengadopsi metode ini pada pertengahan abad ke-19.

Meskipun asal muasal kue sebenarnya masih diselimuti misteri, satu hal yang pasti, generasi saat ini tentu sangat berterima kasih kepada mereka yang menemukan kue dan menjadikannya sensasi di seluruh dunia.

Dari awalnya hanya berupa roti pipih hingga manisan yang dekaden saat ini, kue telah memiliki banyak bentuk sepanjang sejarah dan terus dinikmati oleh orang-orang dari semua lapisan masyarakat.  (ote)

Editor : Miftahul Khair
#sejarah #kue #penemu