SETIAP tahunnya, dunia memperingati hari ini, 11 Desember, sebagai Hari Gunung Internasional (International Mountain Day).
Peringatan tersebut dimulai pada 1992, ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui Agenda 21 yakni Mengelola Ekosistem Rapuh: Pembangunan Pegunungan Berkelanjutan dari Bab 13 pada Konferensi Lingkungan dan Pembangunan.
Dilansir dari situs news18.com, pada 2002 Majelis Umum PBB mendeklarasikan Tahun Pegunungan Internasional PBB dan mengumumkan bahwa 11 Desember akan diperingati sebagai Hari Gunung Internasional mulai 2003 dan seterusnya.
Dilansir dari laman resmi PBB, selama berabad-abad, masyarakat pegunungan telah mengembangkan solusi untuk beradaptasi dengan lingkungan mereka yang keras, menghadapi perubahan iklim, mengurangi kemiskinan dan melindungi atau memulihkan keanekaragaman hayati.
Hari Gunung Internasional 2024 sendiri berfokus secara tepat pada kapasitas dan kebutuhan masyarakat melalui tiga pendekatan, yakni solusi pegunungan untuk masa depan berkelanjutan – inovasi, adaptasi, dan generasi muda.
Inovasi sangat penting untuk mengatasi permasalahan kompleks terkait pegunungan. Hal ini mencakup kemajuan teknologi serta pemecahan masalah secara kreatif seperti pertanian cerdas iklim.
Ketika menghadapi tekanan perubahan iklim terhadap pegunungan, adaptasi menjadi hal yang penting untuk membangun ketahanan dan mengurangi kerentanan.
Strategi adaptasi mencakup solusi seperti pendekatan berbasis ekosistem terhadap pengurangan risiko bencana dan integrasi sistem pengetahuan masyarakat adat.
Terakhir, partisipasi aktif generasi muda sangat penting untuk memastikan keberlanjutan solusi pegunungan dalam jangka panjang.
Hari Gunung Internasional 2024 mempromosikan pekerjaan layak dan pekerjaan berkualitas bagi generasi muda, pelatihan yang mudah diakses, dan peluang kewirausahaan yang berkontribusi terhadap pemanfaatan sumber daya pegunungan secara berkelanjutan.
Pegunungan adalah permata alam yang harus dihargai. Pegunungan adalah rumah bagi 15 persen populasi dunia dan menampung sekitar setengah pusat keanekaragaman hayati dunia.
Hutan menyediakan air bersih untuk kehidupan sehari-hari bagi separuh umat manusia, membantu mempertahankan pertanian dan memasok energi bersih serta obat-obatan.
Sayangnya, pegunungan berada di bawah ancaman perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan kontaminasi, sehingga meningkatkan risiko bagi manusia dan planet bumi.
Ketika iklim global terus menghangat, pencairan gletser di pegunungan mempengaruhi pasokan air tawar di hilir, dan masyarakat pegunungan – yang sebagian merupakan masyarakat termiskin di dunia – menghadapi perjuangan yang lebih besar untuk bertahan hidup.
Lereng yang curam berarti pembukaan hutan untuk pertanian, pemukiman atau infrastruktur dapat menyebabkan erosi tanah serta hilangnya habitat.
Erosi dan polusi merusak kualitas air yang mengalir di hilir dan produktivitas tanah.
Faktanya, lebih dari 311 juta masyarakat pedesaan pegunungan di negara-negara berkembang tinggal di wilayah yang mengalami degradasi lahan secara progresif, 178 juta di antaranya dianggap rentan terhadap kerawanan pangan.
Masalah ini mempengaruhi kita semua. Kita harus mengurangi jejak karbon dan menjaga kekayaan alam ini.
Hari Gunung Internasional, yang diperingati sejak 2003 melalui FAO, menciptakan kesadaran tentang pentingnya pegunungan bagi kehidupan, menyoroti peluang dan hambatan dalam pengembangan pegunungan dan membangun aliansi yang akan membawa perubahan positif bagi masyarakat dan lingkungan pegunungan di seluruh dunia. (ote)
Editor : Miftahul Khair