Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Apa Lawan Kata Haus? Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Sudah Masuk KBBI

Miftahul Khair • Kamis, 10 Juli 2025 | 14:48 WIB
Ilustrasi minum air putih saat cuaca panas.
Ilustrasi minum air putih saat cuaca panas.

PONTIANAK POST - Mungkin selama ini kamu tak pernah memikirkan, apa sih sebenarnya lawan kata dari “haus”?

Jika “lapar” punya pasangan “kenyang”, mengapa “haus” seolah tidak memiliki padanan yang pas?

Nah, kini pertanyaan itu terjawab. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ternyata sudah menetapkan kata baru sebagai lawan dari “haus”, dan ini cukup unik, yakni palum.

Dalam percakapan sehari-hari, kita sering menggunakan kata “haus” tapi belum terbiasa dengan istilah yang mewakili kondisi sebaliknya.

Padahal, dalam konteks bahasa, penting untuk memiliki padanan kata yang seimbang agar komunikasi lebih tepat sasaran.

Itulah mengapa kehadiran “palum” menjadi pembaruan yang menarik dalam perkembangan kosakata Bahasa Indonesia.

Bukan hanya sekadar tambahan baru, tapi juga membuka wawasan bahwa banyak bahasa daerah yang belum tergali sepenuhnya potensinya untuk memperkaya bahasa nasional.

Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi daring yang dikelola oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, kata “palum” resmi ditambahkan pada Juli 2025.

Kata ini awalnya berasal dari bahasa Batak Pakpak yang digunakan di Sumatra Utara. Meski terdengar asing, penggunaannya sangat relevan dalam konteks modern.

Apa Itu "Palum" dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Arti Kata Palum

Menurut KBBI daring, “palum” adalah kata benda yang berarti sudah puas minum atau hilang rasa haus.

Jadi, ini digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang tidak haus lagi setelah minum.

 

Contoh penggunaan:

Ia berfungsi serupa dengan “kenyang” yang digunakan setelah makan. Kini, kita punya kata yang pas untuk menunjukkan kondisi pasca-minum.

Asal-Usul Palum

Kata “palum” bukan muncul begitu saja. Berdasarkan informasi dari KBBI edisi daring, istilah ini berasal dari bahasa Batak Pakpak, salah satu bahasa daerah yang digunakan di Sumatra Utara.

Kata ini pertama kali diusulkan sebagai entri resmi pada tahun 2024 oleh redaksi KBBI, dengan referensi dari Kamus Pakpak-Indonesia karya Tindi Radja Manik yang diterbitkan tahun 2002.

Artinya, ini sudah lama dikenal di lingkungan budaya tertentu, hanya saja belum terserap ke dalam bahasa Indonesia secara luas hingga kini.

Bagaimana Menggunakannya dalam Kehidupan Sehari-hari?

Kalau sebelumnya kita hanya bisa berkata, “sudah tidak haus”, kini kamu bisa menyampaikan hal yang sama dengan satu kata saja, yakni palum.

Misalnya:

Atau:

Dengan begitu, komunikasi terasa lebih ringkas dan alami.

Baca Juga: Disdikbud Pontianak Gelar Festival Tunas Bahasa Ibu untuk Lestarikan Bahasa Melayu

Mengapa Penting?

Keberadaan “palum” memberi warna baru dalam berbahasa. Ini menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia terus berkembang dan terbuka terhadap pengayaan dari bahasa-bahasa daerah

Selain itu, dengan adanya padanan kata untuk kondisi setelah minum, kita bisa berkomunikasi dengan lebih tepat dan ekspresif.

“Palum” juga bisa memperluas pemahaman tentang kekayaan bahasa lokal yang masih sangat luas.

Mungkin ke depan, akan lebih banyak kata-kata dari daerah yang akhirnya menjadi bagian dari bahasa nasional.

“Palum” juga menunjukkan bahwa bahasa Indonesia masih hidup dan terus tumbuh.

Penambahan kosakata baru dari bahasa daerah adalah salah satu langkah penting dalam pelestarian budaya sekaligus inovasi dalam berbahasa.

Ini juga bisa menjadi peluang bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan menghargai kekayaan bahasa di Nusantara. (mif)

Editor : Miftahul Khair
#Batak Pakpak #kata #lawan kata #KBBI #haus #palum