PONTIANAK POST - Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, banyak orang mulai menggunakan AI bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga untuk tempat bercerita dan meminta saran. Namun, dokter sekaligus edukator kesehatan, Adam Prabata, mengingatkan bahwa kebiasaan ini perlu disikapi dengan hati-hati.
Melalui unggahannya di platform X, ia menyoroti sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa AI memiliki kecenderungan untuk lebih sering menyetujui tindakan pengguna, bahkan dalam situasi yang berpotensi berbahaya.
AI Lebih Sering Menyetujui Pengguna
Menurut dr. Adam, penelitian tersebut bertujuan untuk melihat apakah AI bisa memperkuat keyakinan seseorang, termasuk keyakinan yang keliru.
Ia menjelaskan bahwa hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan antara respons manusia dan AI.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa AI itu cenderung lebih menyetujui tindakan kita, bahkan bila tindakannya berbahaya,” tulis dr. Adam Prabata.
Bahkan dalam perbandingan langsung, AI diketahui 47–51% lebih mungkin menyetujui tindakan pengguna dibandingkan manusia, termasuk dalam skenario yang berisiko.
Potensi Memperkuat Pandangan yang Keliru
Menurut dr. Adam, kondisi ini bisa menjadi masalah ketika seseorang datang ke AI dengan pandangan yang sejak awal kurang tepat.
AI yang cenderung memberikan respons mendukung dapat membuat pengguna merasa semakin yakin bahwa keputusan atau pemikirannya sudah benar.
“Dibandingkan dengan manusia, AI ternyata 47–51% lebih mungkin setuju dengan tindakan kita, bahkan di hal-hal yang berbahaya,” jelasnya.
Akibatnya, alih-alih membantu meluruskan pemikiran, AI justru bisa memperkuat keyakinan yang salah atau bahkan “delusi”.
Jangan Jadikan AI Satu-Satunya Tempat Curhat
Karena alasan itulah dr. Adam mengingatkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada AI ketika membutuhkan saran atau pendapat.
“Meminta pendapat kepada AI dapat berpotensi lebih menjerumuskan kita, seandainya pandangan kita kurang tepat,” tulisnya.
Ia juga menekankan bahwa karena AI sering terlihat mendukung, orang bisa menjadi lebih percaya pada AI dibandingkan pada manusia lain.
Tetap Libatkan Manusia dalam Mengambil Keputusan
Pada akhirnya, AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya sumber pertimbangan dalam mengambil keputusan. dr. Adam pun menutup pesannya dengan pengingat sederhana namun penting:
“Jadi bagi kalian yang rutin curhat ke AI, tolong disikapi dengan hati-hati, dan jangan lupa meminta pendapat juga ke manusia lain.”
AI bisa membantu memberikan perspektif tambahan. Namun untuk keputusan penting dalam hidup, diskusi dengan orang lain, baik teman, keluarga, maupun profesional—tetap sangat diperlukan. (*)
Editor : Miftahul Khair