PONTIANAK POST--Rasa empati bisa menjadi perekat hubungan. Juga sebagai bentuk kepedulian. Namun, di tangan yang salah, hal positif ini bisa berbalik menyerang Anda. Fenomena ini disebut Weaponized Empathy.
Dikutip dari HuffPost, menurut terapis pernikahan Caitlyn Oscarson, ini adalah pola menggunakan rasa kasih atau rasa bersalah untuk mengontrol perilaku orang lain, sering kali dengan mengorbankan batasan pribadi Anda.
Berikut adalah 9 tanda Anda sedang menjadi korban manipulasi empati menurut para ahli:
1. Sering Menguji Batasan Anda
Manipulator biasanya melakukan tes kecil untuk melihat sejauh mana Anda bisa ditekan. "Mereka akan mencoba meminta Anda melakukan sesuatu yang sebelumnya sudah Anda tolak," jelas terapis Natalie Moore.
Baca Juga: Cara Cerdas Melawan Bos Toksik dengan Strategi Malicious Compliance
2. Merasa Bersalah Saat Menetapkan Batasan
Anda merasa seperti orang jahat meskipun hanya menolak hal-hal yang wajar. Oscarson menyarankan agar Anda "berdamai" dengan sedikit rasa bersalah tersebut karena itu bukan tanda Anda salah.
3. Tekanan untuk Merespons Segera
Ada pola urgensi yang tidak wajar. Jika Anda didesak untuk mengabaikan prioritas Anda demi kebutuhan "darurat" mereka yang sebenarnya bisa menunggu, itu adalah sinyal bahaya.
4. Hubungan Terasa Satu Arah
Dukungan hanya mengalir dari Anda ke mereka. Saat Anda butuh sandaran, mereka tiba-tiba punya masalah yang "lebih besar" untuk dibahas.
Baca Juga: Ketika Perang Mengalahkan Empati Manusia
5. Anda Merasa Bertanggung Jawab Atas Emosi Mereka
"Anda bisa berempati tanpa harus merasa bertanggung jawab untuk membereskan masalah mereka," tegas Oscarson. Jangan biarkan reaksi negatif mereka membuat Anda takut menetapkan batasan.
6. Terus-menerus Meragukan Diri Sendiri
Manipulasi ini membuat Anda merasa egois hanya karena ingin mengurus diri sendiri. Padahal, ketidakpastian itu adalah hasil dari manipulasi halus, bukan cerminan karakter Anda.
7. Memuji Empati Anda untuk Memanfaatkan
Mereka mungkin memuji Anda sebagai "satu-satunya orang yang mengerti." Menurut Moore, pujian ini sering kali menjadi jerat agar Anda merasa harus terus "pasang badan" meski mereka menyakiti Anda.
Baca Juga: Sulit Lepas dari Toxic Relationship? Begini Cara Keluar dari Hubungan Tanpa Rasa Bersalah
8. Curhat Masalah Berat Terlalu Dini
Hati-hati dengan orang yang langsung membagikan trauma mendalam di awal hubungan. Ini sering kali dilakukan untuk membangun narasi "korban" agar Anda memberikan keringanan atas perilaku buruk mereka di masa depan.
9. Selalu Memposisikan Diri Sebagai Korban
Dunia selalu terlihat tidak adil bagi mereka. Dengan terus-menerus merasa menjadi korban, mereka bisa memeras empati Anda tanpa pernah harus bertanggung jawab atas kesalahan mereka sendiri.
Cara Menghadapinya
Jadilah jelas dan singkat saat menetapkan batasan. Hindari memberi penjelasan berlebih atau alasan yang panjang. Ingat, empati adalah kualitas luar biasa, namun Anda berhak memberikan empati tersebut kepada diri sendiri terlebih dahulu. (*)
Editor : Chairunnisya