PONTIANAK POST - Kebiasaan menggunakan earphone saat belajar maupun bermain gim di kalangan pelajar dinilai berpotensi menimbulkan gangguan pendengaran yang berdampak pada penurunan prestasi akademik.
Dokter Spesialis THT Bedah Kepala Leher (THT-BKL) Erica Lukman mengungkapkan, gangguan pendengaran pada usia sekolah dapat menghambat kemampuan interaksi sosial siswa. Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor yang kerap dianggap sepele.
Salah satu penyebab yang umum terjadi adalah penumpukan kotoran telinga yang dapat memicu infeksi, baik akut maupun kronis. Kondisi ini sering tidak disadari hingga mulai mengganggu aktivitas anak. “Ada yang berisi cairan kental dan baru sadar ketika anak-anak sudah mulai terganggu,” sebutnya dilansir dari Kaltim Pos.
Baca Juga: Memahami Etika Orang Tua Pilih Senior Living sebagai Bentuk Kemandirian Lansia
Selain itu, paparan suara bising dari penggunaan gadget dengan earphone atau headset dalam waktu lama juga menjadi faktor risiko. Ia menekankan pentingnya mengatur volume suara agar tidak berlebihan.
“Efeknya dapat merusak sel-sel rambut di dalam telinga dan menimbulkan tuli saraf,” ungkapnya. Ia menegaskan, kerusakan tersebut bersifat permanen dan tidak dapat kembali normal jika sudah mencapai tingkat berat.
Untuk mencegah hal tersebut, Erica menyarankan agar penggunaan earphone dibatasi dengan volume maksimal di bawah 50 persen dan durasi tidak lebih dari 60 menit. Setelah itu, pengguna disarankan beristirahat sejenak sebelum kembali menggunakan perangkat.
Ia juga mengingatkan bahwa anak-anak sering tidak menyadari tingginya volume suara dan lamanya penggunaan earphone, sehingga pengawasan dari orang tua dan guru menjadi penting.
Sementara itu, bagi siswa yang terpapar kebisingan dalam kegiatan tertentu seperti praktik kerja lapangan, disarankan menggunakan alat pelindung pendengaran. “Berupa earplug atau earmuff agar bisa meredam suara bising,” pungkasnya. (*/bas)
Editor : Basilius Andreas Gas