PONTIANAK POST – Ketupat menjadi simbol yang tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Indonesia. Lebih dari sekadar hidangan khas, ketupat menyimpan nilai sejarah dan makna mendalam dalam proses dakwah Islam di Nusantara.
Tradisi ini diyakini berkembang seiring penyebaran Islam oleh para Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.
Ketupat sebagai Media Dakwah Kultural
Sejarawan terkemuka Indonesia, Taufik Abdullah, menjelaskan dakwah Islam di Nusantara memiliki karakter khas. Yakni mengakomodasi budaya lokal tanpa menghilangkan nilai dasar ajaran Islam.
Menurutnya, pendekatan kultural ini membuat Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat yang sebelumnya telah memiliki tradisi kuat.
“Islam di Indonesia berkembang melalui proses akulturasi budaya, bukan konfrontasi. Tradisi seperti ketupat menjadi bagian dari strategi dakwah yang halus,” ujarnya dalam berbagai kajian sejarah Islam Nusantara.
Asal Usul Ketupat dalam Tradisi Lebaran
Dalam catatan sejarah, Sunan Kalijaga disebut sebagai tokoh yang mempopulerkan ketupat sebagai bagian dari tradisi Lebaran. Ketupat kemudian tidak hanya menjadi makanan khas, tetapi juga sarana penyampaian pesan moral dan spiritual.
Melalui simbol-simbol sederhana yang dekat dengan masyarakat, ajaran Islam dapat dipahami tanpa harus mengubah budaya secara drastis.
Makna Filosofis Ketupat
Ketupat memiliki filosofi mendalam dalam tradisi Jawa. Istilah “kupat” diyakini berasal dari “ngaku lepat” yang berarti mengakui kesalahan.
Makna ini sejalan dengan esensi Idul Fitri sebagai momen untuk saling memaafkan. Anyaman ketupat yang rumit melambangkan kesalahan manusia, sedangkan isi beras putih di dalamnya menggambarkan hati yang telah bersih setelah menjalani Ramadan.
Tradisi Bakda Kupat dalam Masyarakat
Selain saat Lebaran, ketupat juga identik dengan tradisi “Bakda Kupat” yang dilakukan sekitar sepekan setelah Idul Fitri di berbagai daerah di Indonesia.
Momentum ini menjadi sarana mempererat silaturahmi sekaligus melestarikan nilai-nilai kebersamaan yang telah diwariskan sejak masa dakwah para wali.
Warisan Dakwah yang Tetap Relevan
Menurut Taufik Abdullah, tradisi seperti ketupat menunjukkan Islam di Nusantara berkembang secara damai dan inklusif. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya masih relevan hingga kini, terutama dalam menjaga harmoni sosial.
Ketupat tidak hanya menjadi simbol perayaan, tetapi juga pengingat akan pentingnya kejujuran, introspeksi diri, dan saling memaafkan.
Penutup
Sejarah ketupat Lebaran dalam dakwah Islam Nusantara menjadi bukti penyebaran Islam di Indonesia berlangsung melalui pendekatan budaya yang bijaksana.
Warisan ini tidak hanya memperkaya tradisi Lebaran, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Ketupat pun hadir bukan sekadar sebagai hidangan, melainkan simbol perjalanan dakwah yang penuh makna.
Editor : Silvina