Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Berkendara di Gang Sempit, Uji Empati dan Kesadaran Sosial

Chairunnisya • Sabtu, 18 April 2026 | 19:08 WIB
Ilustrasi berkendara di gang sempit (AI)
Ilustrasi berkendara di gang sempit (AI)

PONTIANAK POST - Melintas di gang sempit seharusnya tidak sekadar soal keterampilan berkendara, tetapi juga soal empati. Idealnya, pengendara sepeda motor turun dan mematikan mesin. Namun, masih banyak yang tetap melaju tanpa mempertimbangkan kenyamanan dan keselamatan warga sekitar.

Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya, Nike Kusumawanti, menegaskan bahwa gang bukan sekadar jalur lalu lintas, melainkan ruang sosial tempat warga berinteraksi setiap hari.

“Ini bukan hanya soal boleh atau tidak, tetapi bagaimana kita memosisikan diri di tengah kehidupan bersama,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.

Menurut Nike, etika seharusnya dipahami sebagai kewajiban moral, bukan sekadar aturan tertulis. Meski tidak ada larangan formal, pengendara tetap dituntut memiliki kepekaan sosial.

Baca Juga: Puluhan Ajudan dan Sopir Pejabat Ikuti Bimtek, Tingkatkan Keterampilan dan Etika Berkendara

“Gang adalah ruang hidup banyak orang. Tidak etis jika dilalui dengan mesin menyala dan knalpot berisik,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kepekaan situasional. Gang yang sempit, jarak pandang terbatas, aktivitas warga padat, atau keberadaan anak-anak seharusnya menjadi sinyal bagi pengendara untuk turun dan menuntun motor.

“Jangan merasa ‘masih bisa’, padahal risikonya besar,” tegasnya.

Nike menyebut kebiasaan memaksa motor masuk gang sebagai bentuk habitus, istilah dari Pierre Bourdieu untuk kebiasaan yang dianggap wajar meski merugikan orang lain. Dalam kondisi tertentu, seperti jalan licin, berlubang, atau gang ramai, menuntun motor adalah pilihan paling aman.

Tak hanya itu, menuntun motor juga memiliki etika. Pengendara disarankan berjalan di sisi kanan motor, melangkah pelan, memberi prioritas kepada pejalan kaki, serta menyapa warga. Klakson, menurutnya, bukan alat untuk “mengusir” orang di depan.

Baca Juga: Polisi Tertibkan Knalpot Brong di Sekolah, Edukasi Pelajar Soal Keselamatan Berkendara

Etika ini semakin penting saat berhadapan dengan kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, atau warga yang membawa barang berat.
“Kalau melihat mereka, sebaiknya berhenti total dan matikan mesin hingga situasi aman,” ujarnya.

Sikap sederhana ini, lanjut Nike, berdampak besar terhadap kehidupan sosial. Kesediaan memberi jalan dan menunggu dapat memperkuat rasa saling percaya antarwarga. Sebaliknya, kebiasaan sepele seperti memaksa motor masuk gang bisa memicu gesekan hingga konflik.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak defensif saat ditegur. “Jangan mudah tersinggung. Dengarkan, minta maaf jika salah, dan berterima kasih. Teguran adalah bentuk kepedulian,” katanya.

Menurut Nike, kepekaan sosial yang dibangun dari hal kecil seperti ini akan membentuk masyarakat yang lebih sehat. Lingkungan kampung, termasuk gang sempit, adalah ruang belajar sosial yang nyata.

Baca Juga: Tips Berkendara Motor Saat Puasa Ramadan, Tetap Aman dan Fokus di Tengah Lalu Lintas Padat

“Dari situ kita belajar menghormati, mengalah, dan peduli. Menuntun motor bukan sekadar soal teknis, tetapi cara merawat kemanusiaan dalam kehidupan bertetangga,” pungkasnya. (*)

Editor : Uray Ronald
#gang sempit #pengendara #motor #etika #berkendara