PONTIANAK POST - Keong tidak selalu identik dengan ukuran kecil dan warna kusam. Di tangan para pegiat satwa eksotik, keong dan kerabatnya justru tampil unik, berukuran besar, serta memiliki peran penting bagi lingkungan.
Salah satu komunitas yang aktif mengedukasi masyarakat adalah Jumbo Keong Indonesia (JKI).
Pendiri JKI, Tony Wicaksono, menegaskan bahwa istilah “jumbo keong” bukan sekadar merujuk pada ukuran, tetapi juga identitas edukasi tentang satwa tersebut.
“Banyak orang salah paham. Yang kami maksud bukan sekadar keong berukuran besar, tapi Jumbo Keong sebagai identitas edukasi,” ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Salah satu primadona dalam dunia ini adalah kelomang darat. Hewan bercapit ini kerap disangka kepiting kecil, padahal memiliki karakter dan siklus hidup yang berbeda. Ukurannya pun bisa mengejutkan.
Baca Juga: Kucing: Hewan Peliharaan Paling Populer di Dunia
Jenis yang paling dikenal adalah Coenobita brevimanus, kelomang darat terbesar kedua di dunia setelah ketam kenari (Birgus latro).
Saat dewasa, ukurannya bisa mencapai sebesar kepalan tangan orang dewasa, dengan capit besar berwarna keunguan hingga kecokelatan.
Selain itu, terdapat pula jenis Coenobita violascens dan Coenobita rugosus. Meski berukuran lebih kecil, rugosus memiliki variasi warna yang menarik, mulai dari cokelat kemerahan hingga krem.
Di kalangan penghobi, beberapa varian bahkan dijuluki “blue berry” atau “lilac”.
Baca Juga: Jika Anda Tidur Bersama Hewan Peliharaan, Ini 7 Sifat Unik Menurut Psikologi
Kelomang jumbo umumnya berasal dari wilayah pesisir Indonesia. Mereka hidup di area peralihan antara laut dan darat, menjadikan pantai sebagai habitat utama. Namun, populasi di sejumlah daerah kini mulai terancam akibat eksploitasi berlebihan.
Tony menjelaskan, kelomang memiliki pertumbuhan yang lambat dan umur panjang. “Usianya bisa puluhan tahun, bahkan ada yang mencapai 40 sampai 80 tahun,” katanya.
Seperti krustasea lain, kelomang juga mengalami pergantian kulit.
Pada fase ini, tubuhnya menjadi sangat lunak dan rentan, sehingga mereka akan bersembunyi di dalam pasir atau celah kayu selama berminggu-minggu hingga cangkangnya kembali mengeras.
Dalam pemeliharaan, kelomang membutuhkan habitat yang menyerupai kondisi alaminya. Media pasir pantai dengan kedalaman cukup penting agar kelomang dapat bersembunyi saat ganti kulit. Air minum juga harus tersedia dan dijaga kebersihannya.
Baca Juga: Eksotisme Ikan Angel Marmut: Si 'Pesolek' Pemalu yang Wajib Masuk Koleksi
Kelomang bersifat nokturnal dan sensitif terhadap panas. Karena itu, hewan ini tidak membutuhkan lampu pemanas atau paparan sinar matahari langsung. “Dijemur justru bisa berbahaya,” tegas Tony.
Dari segi pakan, kelomang tergolong omnivora. Mereka dapat mengonsumsi berbagai jenis makanan, mulai dari buah-buahan, nasi, roti, hingga udang, ikan, dan daun kering. Asupan kalsium juga penting untuk menjaga kekuatan cangkang dan capit.
Kesalahan umum yang sering dilakukan pemula adalah kurang menjaga kebersihan, terutama air minum dan sisa makanan. Kondisi tersebut dapat memicu masalah kesehatan serius bagi kelomang.
Selain itu, kelomang tidak disarankan dipelihara bersama hewan lain. Bahkan, sesama kelomang pun memerlukan ruang yang cukup agar tidak saling berebut cangkang atau mencapit.
Baca Juga: Keunikan Ikan Mandarin Satwa Laut Eksotis dengan Corak Kaligrafi
Lebih dari sekadar hewan eksotik, kelomang memiliki peran ekologis yang penting. Mereka membantu membersihkan sisa-sisa organik di pesisir.
“Kalau kelomang habis, pantai bisa bau dan rusak. Mereka itu penjaga kebersihan alami,” kata Tony.
Melalui edukasi yang terus dilakukan, Jumbo Keong Indonesia berharap masyarakat tidak lagi memandang keong dan kelomang sebagai sekadar hewan unik atau mainan, melainkan makhluk hidup bernilai yang perlu dijaga kelestariannya. (*)
Editor : Chairunnisya