Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jangan Emosi ke Kurir Saat Belanja Online Ini Cara Komplain yang Lebih Manusiawi

Chairunnisya • Jumat, 24 April 2026 | 12:58 WIB
Ilustrasi kurir dan konsumen (AI)
Ilustrasi kurir dan konsumen (AI)

PONTIANAK POST - Di tengah kemudahan belanja online, kehadiran kurir paket dan driver ojek online sudah jadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggal klik, barang datang. Praktis. Tapi, di balik layanan cepat itu, ada manusia yang bekerja keras di lapangan dan sering kali harus menghadapi perlakuan yang kurang menyenangkan.

Fenomena ini menjadi perhatian Certified Self Growth & Communication Coach, Anelies Praramadhani.

Ia menyoroti pentingnya etika konsumen dalam berinteraksi dengan kurir dan driver, terutama saat terjadi kendala dalam pengiriman.

Baca Juga: Pemerintah Makassar Diminta Boikot Ojek Online Asal Malaysia

Empati di Setiap Interaksi

Menurut Anelies, konsumen seharusnya mengedepankan empati dalam setiap interaksi.

‘’Etika kita sebagai konsumen terhadap driver atau kurir itu yang utama adalah empati dan memanusiakan manusia,’’ tegasnya.

Ia mengingatkan, para pekerja lapangan ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari cuaca ekstrem, tekanan waktu, hingga emosi konsumen atas hal yang sering kali berada di luar kendali mereka.

Ia juga menekankan bahwa peran kurir dan driver terbatas pada mengantarkan barang. Mereka bukan penjual, bukan pula pihak yang merancang sistem pengiriman.

Baca Juga: Tergerus Belanja Online, Aset Pasar Lantai Dua Pemkot Belum Termanfaatkan

Karena itu, konsumen diharapkan tidak langsung meluapkan emosi saat terjadi kesalahan.

’’Jangan langsung marah atau kecewa saat salah alamat,’’ katanya.

Komplain dengan Cara Tepat

Lalu, bagaimana jika konsumen memang mengalami kendala atau merasa dirugikan?

Anelies menegaskan bahwa komplain tetap boleh disampaikan, tetapi dengan cara yang tepat.

’’Sampaikan dengan kata-kata netral, sopan, dan fokus pada solusi. Misalnya: ‘Mohon maaf, ini paketnya tidak sesuai, bisa dibantu solusinya?’ Jangan langsung meledak-ledak,’’ ucapnya.

Baca Juga: Tips Belanja Sandal Melissa Saat Flash Sale Rp 12 Ribu di Momen 12.12 Blibli

Dengan komunikasi yang tenang, biasanya kurir atau driver juga lebih mudah membantu mencarikan solusi.

Misalnya, dengan mengarahkan konsumen untuk menghubungi layanan pelanggan atau membantu melaporkan masalah. ’’Ingat, reaksi kita mencerminkan kedewasaan dalam bersikap,’’ imbuhnya.

Batas antara Wajar dan Berlebihan

Anelies juga mengingatkan batas antara komplain yang wajar dan perilaku yang berlebihan. Komplain menjadi tidak wajar ketika konsumen mulai menyalahkan kurir atas hal di luar tugasnya, apalagi jika disertai makian atau kekerasan fisik. ’’Itu bukan lagi komplain, tapi pelanggaran hukum,’’ tegasnya.

Menurutnya, menghargai kurir dan driver adalah bentuk empati dasar sebagai sesama manusia. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, sama seperti profesi lainnya.

’’Kita tentu tidak ingin diperlakukan tidak sopan dalam bekerja. Begitu juga mereka. Mereka punya hak yang sama untuk dihargai,’’ ujarnya.

Baca Juga: Kronologi Pengagalan Tiga Karung Sabu di Sintang, Mobil Kurir Dikepung Warga

Kurid dan Driver Harus Profesional

Di sisi lain, Anelies juga memberikan pesan kepada para kurir dan driver agar tetap profesional saat menghadapi komplain.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah meminta maaf atas ketidaknyamanan, lalu membantu mencari solusi.

’’Jangan langsung defensif atau membentak balik. Respons seperti ’Saya cuma kurir, bukan urusan saya!’ itu justru bisa memperkeruh suasana,’’ ujarnya.

Ia menambahkan, jika menghadapi konsumen yang emosional, kurir sebaiknya tetap menjaga ketenangan.

 ’’Fokus saja pada regulasi diri. Jangan terpancing. Kalau sampai terjadi kekerasan, kurir juga punya hak untuk melapor,’’ tegas Anelies.

Baca Juga: Gondol Motor Beserta Paket, Maling Motor Kurir Diringkus Polres Landak

Di era serba cepat ini, konsumen memang memiliki hak untuk menyampaikan keluhan. Namun, hak tersebut bukan alasan untuk bersikap semena-mena.

Justru, semakin tinggi kesadaran etika dalam berinteraksi, semakin sehat pula ekosistem layanan pengantaran dan transportasi.

’’Jadilah konsumen yang beretika. Jangan cuma menuntut pelayanan prima, tapi juga berikan perlakuan yang manusiawi kepada mereka yang bekerja melayani kita,’’ ucapnya. (*)

Editor : Chairunnisya
#psikologi #kurir #belanja online #etika #ojek online