Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenang Tragedi Trisakti 1998, Saat Empat Mahasiswa Gugur Demi Reformasi

Silvina • Selasa, 12 Mei 2026 | 13:39 WIB
Salah satu memen peristiwa kelam Tragedi Trisakti  (DOK JAWA POS)
Salah satu memen peristiwa kelam Tragedi Trisakti (DOK JAWA POS)

 

PONTIANAK POST–Tanggal 12 Mei 1998 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah perjalanan reformasi Indonesia.

Pada hari itu, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak saat mengikuti aksi demonstrasi damai yang menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya.

Peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Trisakti tersebut menjadi titik penting lahirnya gerakan reformasi dan mengguncang kesadaran publik tentang situasi politik serta keamanan nasional saat itu.

Baca Juga: Kawat Berduri Sambut Aksi Demonstrasi Gubernur Kalimantan Timur

Empat mahasiswa yang gugur dalam tragedi tersebut ialah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka meninggal akibat luka tembak di bagian vital tubuh seperti kepala, dada, dan tenggorokan.

Latar Belakang Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti tidak bisa dilepaskan dari kondisi Indonesia pada masa krisis moneter Asia 1997–1998. Saat itu, ekonomi Indonesia mengalami keterpurukan hebat yang memicu lonjakan harga kebutuhan pokok, pengangguran, dan ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Orde Baru.

Baca Juga: Aksi Demo Mahasiswa di DPRD Memanas, Tuntut Soal KUHAP hingga Masalah Krusial di Kalbar

Gelombang demonstrasi mahasiswa pun terjadi di berbagai daerah, termasuk di Universitas Trisakti, Jakarta Barat.

Pada 12 Mei 1998, ribuan mahasiswa Trisakti menggelar aksi damai dan berencana melakukan long march menuju Gedung MPR/DPR untuk menyampaikan aspirasi reformasi.

Aksi Damai yang Awalnya Berjalan Tertib

Baca Juga: Tuntut Hak Karyawan, Aksi Damai Serikat Pekerja DAMRI Pontianak Dikawal Ketat Kepolisian

Dilansir dari laman kampus Trisakti, sekitar pukul 10.30 WIB, civitas akademika Universitas Trisakti berkumpul di pelataran kampus untuk menggelar mimbar bebas.

Aksi dimulai dengan penurunan bendera Merah Putih setengah tiang, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan mengheningkan cipta sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa.

Suasana aksi awalnya berlangsung tertib. Mahasiswa, dosen, hingga karyawan kampus bergantian menyampaikan orasi.

Baca Juga: MK Tolak Uji Materi Pasal KUHP soal Pemberitahuan Demo, Tegaskan Tak Semua Aksi Tanpa Izin Dipidana

Sekitar pukul 12.30 WIB, massa mulai bergerak menuju Gedung DPR/MPR melalui Jalan S. Parman. Namun, perjalanan mereka terhenti karena blokade aparat keamanan di depan Kantor Wali Kota Jakarta Barat.

Negosiasi Mahasiswa dan Aparat

Mahasiswa sempat melakukan negosiasi dengan aparat keamanan yang terdiri dari unsur kepolisian dan militer. Aparat meminta mahasiswa tidak melanjutkan long march dengan alasan menjaga ketertiban dan mencegah kemacetan.

Baca Juga: Pemkab Sintang Dorong Aparatur dan Masyarakat Pahami Perubahan KUHP dan KUHAP

Meski kecewa, mahasiswa tetap berusaha menjaga aksi berlangsung damai. Bahkan, sejumlah mahasiswi membagikan bunga mawar kepada aparat keamanan. Situasi sempat berlangsung tenang selama beberapa jam meski hujan turun deras.

Ketegangan Memuncak Menjelang Sore

Sekitar pukul 16.45 WIB, mahasiswa dan aparat mencapai kesepakatan untuk sama-sama mundur. Massa mahasiswa mulai kembali masuk ke area kampus secara tertib.

Baca Juga: Usai Kasus Pembakaran di Air Upas, Polisi Redam Ketegangan, Minta Warga Tak Sebar Rumor Belum Pasti

Namun, situasi berubah tegang setelah muncul seorang provokator yang memancing emosi mahasiswa. Ketegangan kembali meningkat ketika sebagian aparat disebut mengeluarkan kata-kata kasar kepada mahasiswa.

Tak lama kemudian, aparat mulai menembakkan gas air mata dan peluru ke arah massa mahasiswa.

Penembakan yang Menewaskan Mahasiswa

Baca Juga: Mantan Sekutu Trump Sebut Insiden Penembakan WHCD Jadi Alat Politik dan Pengalih Perhatian

Kepanikan tak terhindarkan. Mahasiswa berlarian menyelamatkan diri menuju area kampus Universitas Trisakti.

Namun, penembakan disebut terus berlangsung hingga ke dalam area kampus. Aparat keamanan juga melepaskan gas air mata dan melakukan pengejaran terhadap mahasiswa.

Beberapa saksi menyebut aparat membentuk formasi tembak di depan gerbang kampus dan mengarahkan senjata ke arah mahasiswa yang berlindung di dalam kampus.

Baca Juga: Prodi Terancam Ditutup, BRIN Tekankan Transformasi Kurikulum di Dunia Kampus

Akibat peristiwa tersebut, empat mahasiswa tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.Korban luka kemudian dievakuasi ke RS Sumber Waras untuk mendapatkan perawatan intensif.

Aparat Bantah Gunakan Peluru Tajam

Pada malam hari, aparat keamanan sempat membantah menggunakan peluru tajam dalam pengamanan aksi tersebut.

Baca Juga: Korban Peluru Nyasar di Gresik Mulai Sekolah Lagi, Trauma Masih Membekas

Namun, hasil autopsi menunjukkan para korban meninggal akibat tembakan peluru tajam.Tragedi ini memicu gelombang kemarahan publik dan aksi demonstrasi yang semakin besar di berbagai daerah.

Menjadi Titik Penting Reformasi 1998

Tragedi Trisakti menjadi simbol perjuangan mahasiswa dalam menuntut perubahan politik di Indonesia. Peristiwa tersebut juga menjadi salah satu pemicu runtuhnya pemerintahan Orde Baru yang telah berkuasa selama lebih dari tiga dekade.

Baca Juga: Sejarah Kebebasan Pers Indonesia, Dari Sensor Hingga Era Reformasi

Semangat reformasi yang diperjuangkan para mahasiswa kala itu terus dikenang sebagai bagian penting dalam sejarah demokrasi Indonesia.

Hingga kini, Tragedi Trisakti masih menjadi pengingat akan pentingnya menjaga demokrasi, kebebasan menyampaikan pendapat, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia di Indonesia.

Editor : Silvina
#tragedi trisakti #1998 #reformasi #aksi demo #mahasiswa