Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Begini Perekonomian Arab Sebelum Islam Datang dan Peran Kawanan Unta  

Silvina • Rabu, 13 Mei 2026 | 14:23 WIB
Ilustrasi perekonomian di Arab sebelum Islam Datang
Ilustrasi perekonomian di Arab sebelum Islam Datang

 

PONTIANAK POST–Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab khususnya di Kota Mekkah telah memiliki sistem ekonomi yang berkembang melalui perdagangan, peternakan, hingga pertanian.

Bangsa Arab saat itu menggantungkan hidup dari aktivitas ekonomi yang disesuaikan dengan kondisi wilayah tempat tinggal mereka.

Masyarakat Badui yang hidup berpindah-pindah di padang pasir lebih banyak mengandalkan peternakan, sedangkan masyarakat perkotaan seperti di Mekkah menjadikan perdagangan sebagai sumber utama penghidupan.

Baca Juga: Sejarah Kelam Jazirah Arab Sebelum Dakwah Nabi Muhammad Menyebar

Peternakan Menjadi Sumber Kehidupan Arab Badui

Diresume dari laman bacaanmadani.com, masyarakat Arab Badui hidup nomaden dengan menggiring ternak mereka ke wilayah yang memiliki padang rumput dan sumber air.

Hewan ternak seperti kambing dan unta menjadi sumber utama kebutuhan hidup mereka. Daging dan susu dikonsumsi sehari-hari, sedangkan bulu domba dimanfaatkan untuk membuat pakaian dan tenda.

Baca Juga: Penguatan Usaha Peternakan Berbasis Kebutuhan Lokal di Desa Periangan

Kekayaan seseorang pada masa itu juga diukur dari banyaknya hewan ternak yang dimiliki.Bahkan beberapa tokoh besar Islam pernah menjadi penggembala, termasuk Nabi Muhammad semasa kecil ketika tinggal bersama Bani Sa’ad.

Mekkah Menjadi Pusat Perdagangan Jazirah Arab

Berbeda dengan masyarakat Badui, penduduk Mekkah lebih banyak menggantungkan hidup dari aktivitas perdagangan.

Baca Juga: Baru Usai Touring Indonesia – Mekkah, Om Daeng Kembali Touring Ribuan Kilometer Jelajah Sulawesi Bersama Yamaha Xmax Techmax

Suku Quraisy dikenal sebagai penggerak utama perdagangan di Jazirah Arab. Mereka melakukan perjalanan dagang ke berbagai wilayah seperti Yaman dan Syam.

Allah Subhanahuwata’ala mengabadikan perjalanan dagang Quraisy dalam Al-Qur’an:

لإِيلاَفِ قُرَيْشٍ . إِيلاَفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَآءِ وَالصَّيْفِ

Baca Juga: Pendaftaran Seleksi Tenaga Pendukung PPIH Arab Saudi 2026 Resmi Dibuka, Berikut Jadwal dan Persyaratannya

Artinya: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS Quraisy: 1-2)

Perjalanan musim dingin dilakukan menuju Yaman, sedangkan perjalanan musim panas dilakukan ke Syam.

Kedudukan Mekkah sebagai kota suci membuat perdagangan mereka aman dari gangguan suku-suku lain. Selain itu, keberadaan Ka’bah juga menjadikan Mekkah ramai dikunjungi masyarakat Arab untuk berhaji setiap tahun.

Baca Juga: Warga Kayong Utara Dambakan Perbaikan Jalan Rusak demi Mendukung Aktivitas dan Perekonomian

Pasar Arab Jadi Pusat Peradaban dan Sastra

Bangsa Arab memiliki sejumlah pasar terkenal seperti Ukazh, Mijannah, dan Zul Majaz.

Pasar-pasar tersebut tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga pusat berkumpulnya para penyair, sastrawan, dan orator.

Baca Juga: Dari Kegiatan Lebaran Sastra-Silaturahim Literasi: Hangat Lewat Tradisi Saling Bercerita di Momen Lebaran

Di tempat itu mereka berlomba menunjukkan kemampuan sastra dan kefasihan bahasa Arab.

Kondisi ini membuat bahasa Arab Quraisy berkembang menjadi bahasa yang paling fasih, indah didengar, dan kaya makna dibanding dialek lainnya di Jazirah Arab.

Sistem Riba Sudah Menyebar di Jazirah Arab

Baca Juga: Dorong Penguatan Ekonomi Lokal, Pemkab Kubu Raya Tegaskan Komitmen Sukseskan Program MBG  

Meski perdagangan berkembang pesat, praktik riba juga telah menyebar luas di kalangan masyarakat Arab sebelum Islam.

Sistem tersebut dipengaruhi oleh pola perdagangan bangsa-bangsa lain yang berinteraksi dengan masyarakat Arab saat itu.

Islam kemudian datang membawa aturan ekonomi yang lebih adil dengan melarang praktik riba dan menekankan perdagangan yang jujur.

Baca Juga: Diperiksa KPK, Eks Menpora Ungkap Isi Pertemuan Jokowi dengan Pangeran MBS di Arab Saudi

Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَءَامَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ

Artinya: “Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS Quraisy: 4)

Baca Juga: Ekonomi Kalbar Tumbuh 6,14 Persen Tertinggi, Apakah Sudah Merata? Ini Faktanya

Unta Jadi Transportasi Andalan Perdagangan

Dalam aktivitas perdagangan jarak jauh, masyarakat Arab sangat mengandalkan unta sebagai alat transportasi utama.

Unta dijuluki sebagai “perahu padang pasir” karena mampu menempuh perjalanan jauh dan bertahan tanpa air dalam waktu lama.

Baca Juga: Jaringan Perdagangan Bayi Modus Adopsi Terbongkar, Pontianak dan Kubu Raya Jadi Simpul Pemalsuan Dokumen

Hewan tersebut digunakan untuk membawa berbagai barang dagangan dari satu negeri ke negeri lain di tengah kerasnya gurun pasir.

Pelajaran dari Peradaban Ekonomi Arab Sebelum Islam

Kondisi ekonomi masyarakat Mekkah sebelum Islam menunjukkan bangsa Arab telah memiliki sistem perdagangan dan peradaban yang cukup maju.

Baca Juga: Jejak Dupa dari Peradaban Kuno hingga Manfaat bagi Pikiran

Namun di balik kemajuan itu, masih terdapat praktik-praktik ekonomi yang belum sesuai dengan nilai keadilan.

Kehadiran Islam kemudian membawa perubahan besar, tidak hanya dalam akidah dan sosial masyarakat. Tetapi juga dalam membangun sistem ekonomi yang lebih beretika, jujur, dan berkeadilan.

Editor : Silvina
#hewan unta #arab #perdagangan #islam #perEkonomian