PONTIANAK POST–Nama Indonesia yang kini menjadi identitas bangsa ternyata memiliki sejarah panjang sebelum resmi mengakar dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Nama tersebut lahir dari perjalanan pemikiran para ilmuwan, tokoh pergerakan, hingga kaum muda yang memperjuangkan persatuan lintas suku, agama, dan identitas primordial di Nusantara.
Dilansir dari berbagai sumber dan sejumlah catatan sejarah, istilah Indonesia mulai dikenal pada pertengahan abad ke-19 ketika wilayah Nusantara masih berada di bawah kolonialisme Belanda dengan nama Hindia-Belanda.
Nama Indonesia Pertama Kali Diperkenalkan Tahun 1850
Baca Juga: Menelusuri Jejak Migran Indonesia di Belanda yang Kini Jadi Masyarakat Multikultural
Sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, menyebut nama Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh James Richardson Logan pada tahun 1850 melalui jurnal “Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia”.
Logan merupakan editor berkebangsaan Skotlandia yang tinggal di Penang, wilayah yang saat itu termasuk kawasan Straits Settlement.
Nama Indonesia digunakan untuk menyebut wilayah Kepulauan Hindia atau Hindia-Belanda yang saat itu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia.
Baca Juga: Farizi Siap Majukan Karang Taruna Kalbar, Tegaskan Peran Pemuda sebagai Penggerak Perubahan Daerah
Bangsa Eropa kala itu mengenal dua istilah wilayah Hindia, yakni Hindia Barat dan Hindia Timur.Hindia Barat merujuk pada kawasan Karibia yang ditemukan Christopher Columbus, sementara Hindia Timur mengacu pada Kepulauan Nusantara yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah.
Nusantara Disebut Persimpangan Peradaban Dunia
Wilayah Nusantara juga dikenal sebagai titik pertemuan budaya India dan Tiongkok. Ilmuwan asal Prancis, Dennis Lombard, bahkan menyebut Nusantara sebagai: “Carrefour de civilization” Artinya: persimpangan peradaban.
Selain Logan, tokoh lain yang ikut memperkenalkan istilah Indonesia ialah Earl George Samuel Windsor melalui karya ilmiah tahun 1850.
Ia mengusulkan dua nama bagi penduduk Kepulauan Melayu, yakni Indunesia dan Malayunesia Nama Indonesia kemudian semakin populer setelah ilmuwan Jerman Adolf Bastian menerbitkan buku berjudul: “Indonesien; Oder Die Inseln Des Malayischen Archipel*
Buku lima jilid yang terbit tahun 1884 itu memuat penelitian Bastian selama berada di Nusantara pada 1864-1880.
Baca Juga: Langit Nusantara dan Pertaruhan Strategis di Indo-Pasifik
Indonesia Menjadi Identitas Politik Kebangsaan
Nama Indonesia tidak lagi sekadar istilah geografis ketika mulai digunakan sebagai identitas politik oleh tokoh pergerakan nasional.
Tiga tokoh besar yakni Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan dr. Tjipto Mangunkusumo menjadi pelopor gagasan kebangsaan modern melalui organisasi Indische Partij.
Gerakan tersebut menanamkan kesadaran seluruh orang kelahiran Hindia memiliki identitas bersama tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Kesadaran kebangsaan itu kemudian berkembang melalui berbagai organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam yang dipimpin HOS Tjokroaminoto.
Sumpah Pemuda Menjadi Tonggak Persatuan Indonesia
Menjelang lahirnya Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan para pemuda semakin menguat.Pada tahun 1927, Wage Rudolf Supratman bersama Yo Kim Tjan merekam lagu Indonesia Raya yang kemudian diperbanyak di Inggris.
Baca Juga: Sumpah Pemuda: Saatnya Reformasi Kebijakan Kepemudaan
Setahun kemudian, Kongres Pemuda II digelar di Jakarta dan menjadi tonggak sejarah lahirnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Kongres tersebut dibuka di Gedung Jong Katholieke Bond dan ditutup di rumah Sie Kong Liong di Jalan Kramat Raya 106 yang kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda.
Di tempat itulah lahir ikrar bersejarah:
“Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.”
Baca Juga: Merayakan Sumpah Pemuda dengan Kreativitas: Sentuh Hati Anak Muda Lewat Andai Ibu Bisa Terbang
“Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.”
“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Sumpah Pemuda kemudian menjadi fondasi utama lahirnya identitas bangsa modern Indonesia yang menyatukan beragam suku, bahasa, budaya, dan agama dalam satu nama: Indonesia.
Editor : Silvina