PONTIANAK POST–Indonesia sejak lama dikenal sebagai bangsa maritim yang tangguh. Jauh sebelum era modern, nenek moyang bangsa ini telah menguasai jalur pelayaran dan perdagangan rempah-rempah hingga ke berbagai penjuru dunia.
Pada abad ke-16, Nusantara menjadi pusat perdagangan rempah dunia. Komoditas seperti cengkih, lada, dan pala menjadi barang bernilai tinggi yang diburu banyak negara. Fakta geografis dan pengalaman historis menunjukkan masyarakat Nusantara kala itu memiliki kemampuan pelayaran yang maju.
Salah satu bukti sejarah maritim yang cukup terkenal adalah penemuan jambangan keramik berisi cengkih di situs kuno kota Terqa, Efrat Tengah, Syria. Temuan tersebut diperkirakan berasal dari tahun 1721 sebelum masehi dan menjadi bukti rempah-rempah Nusantara telah dikenal dunia sejak ribuan tahun lalu.
Baca Juga: Kenali Jenis Rempah yang Sebaiknya Dipakai Segar atau Dikeringkan
Tak hanya itu, jejak budaya bahari juga ditemukan dalam lukisan perahu di dinding gua di Muna, Sulawesi Tenggara. Lukisan yang diperkirakan berusia puluhan ribu tahun sebelum masehi itu memperlihatkan bahwa masyarakat Nusantara telah mengenal pelayaran sejak zaman prasejarah.
Relief Borobudur hingga Galangan Kapal Kuno Jadi Bukti Sejarah
Dilansir dari laman Mongabay, di pulau Jawa kejayaan budaya maritim Indonesia juga tergambar melalui relief di Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-9. Relief tersebut memperlihatkan teknologi pembuatan kapal samudra berukuran besar yang menunjukkan tingginya kemampuan pelayaran masyarakat saat itu.
Baca Juga: Benarkah Candi Borobudur Warisan Nabi Sulaiman? Ini Ulasannya
Selain itu, tim arkeologi Universitas Indonesia juga menemukan situs galangan kapal kuno di Desa Lambur 1, Kecamatan Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi. Situs tersebut diperkirakan berusia sekitar 700 tahun.
Temuan-temuan tersebut semakin menegaskan peradaban maritim Nusantara merupakan salah satu yang tertua di kawasan Asia Tenggara. Dengan begitu bangsa nusantara sudah dikenal dengan bangsa yang tangguh dalam merajai ekspedisi laut untuk perdagangan.
Jalur Rempah Dinilai Perlu Diangkat Kembali
Baca Juga: Suhu Tinggi Saat Memasak Ternyata Bisa Mengurangi Khasiat Rempah Dapur
Besarnya pengaruh rempah-rempah Nusantara pada masa lalu bahkan mampu memengaruhi politik, ekonomi, hingga budaya dunia. Karena itu, Indonesia dinilai perlu kembali mengambil peran penting dengan mengangkat sejarah jalur rempah sebagai bagian dari jejak perniagaan global.
Warisan budaya maritim tersebut dinilai bisa menjadi modal besar untuk membangun kembali tradisi kemaritiman Indonesia. Tidak hanya sekadar mengingat sejarah, tetapi juga mengkaji serta memaknainya secara serius.
Terlebih, sejumlah negara saat ini juga mulai mengembangkan konsep perdagangan dan sejarah maritim serupa, salah satunya China dengan jalur sutra maritimnya.
Baca Juga: Bumbu Instan Memang Praktis, Tapi Rempah Segar Tetap Tak Tergantikan
Karena itu, narasi tentang jejak kemaritiman dan jalur rempah perlu terus diperkuat melalui literasi, pendidikan, hingga pameran budaya.
“Pemerintah harus memberi perhatian lebih ke rempah-rempah nusantara. Sebab, Indonesia sudah memiliki sejarah yang panjang dalam kemaritiman,” lanjut sumber dari Mongabay.
Kolonialisme dan Daratisasi Dinilai Mengubah Identitas Maritim
Baca Juga: Abdul Kadir Raden Tumenggung Setia Pahlawan, Pemersatu Dayak-Melayu dan Penentang Kolonial
Di balik kejayaan rempah-rempah, sejarah juga mencatat kekayaan tersebut menjadi salah satu alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Nusantara.
Seiring waktu, kolonialisme dinilai berperan besar dalam menenggelamkan kehidupan bangsa maritim yang sebelumnya menguasai perdagangan laut.
Arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Retno Purwanti, mengatakan kejayaan rempah-rempah juga mulai surut akibat revolusi industri dan menurunnya permintaan pasar Eropa pada abad ke-19.
Baca Juga: Kecombrang, Rempah Harum dengan Potensi Antibakteri dan Antimikroba Alami
“Awal-awal abad ke-19 lada sudah tidak menjadi komoditi utama di Indonesia karena harganya jatuh. Sehingga masyarakat mulai mengganti tanaman lada dengan kopi, teh atau karet yang lebih menguntungkan dari sisi industri,” ujarnya.
Retno juga menilai kolonialisme membentuk pola “daratisasi” yang membuat kesadaran masyarakat terhadap budaya maritim perlahan memudar. Hal itu terlihat dari perubahan orientasi kehidupan masyarakat terhadap sungai.
Jika dahulu rumah-rumah di bantaran sungai menghadap ke sungai sebagai pusat aktivitas, kini banyak yang justru membelakanginya. Kondisi tersebut dianggap sebagai tanda semakin hilangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ekosistem sungai dan budaya bahari Indonesia.
Editor : Silvina