PONTIANAK POST – Ibadah kurban yang dikenal umat Islam saat ini ternyata memiliki sejarah panjang dalam perjalanan peradaban manusia. Banyak orang mengaitkan kurban dengan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, namun praktik tersebut sejatinya telah hadir sejak zaman Habil dan Qabil, putra Nabi Adam AS.
Hal itu diungkap Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas dalam Seminar Nasional Fikih Kurban sebagaimana dikutip dari laman Muhammadiyah.
Kurban Sudah Ada Sejak Zaman Nabi Adam
Baca Juga: Dosa Pertama Manusia; Pelajaran Agung dari Kisah Nabi Adam ‘Alaihissalam
Dalam sejarah umat manusia, praktik kurban ternyata sudah dilakukan sejak masa Habil dan Qabil. Pada masa itu, kurban menjadi bentuk persembahan kepada Tuhan sebagai simbol penghambaan manusia.
Tidak hanya dalam ajaran samawi, praktik kurban juga ditemukan pada agama-agama demonik seperti bangsa Yunani Kuno, Mesir Kuno, Kanaan, hingga masyarakat yang tinggal di pesisir Laut Tengah.
“Praktek kurban pada zaman sebelum Nabi Ibrahim dapat dikatakan dominan sebagai persembahan kepada tuhan atau dewa-dewa yang tidak memiliki perhatian terhadap manusia,” ujar Hamim.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Ini Ketentuan Hewan Kurban yang Sah dalam Islam
Kurban Manusia Pernah Terjadi dalam Sejarah
Pada masa lampau, kurban tidak hanya berupa hewan atau hasil pertanian. Sebagian masyarakat kuno bahkan melakukan kurban manusia sebagai bentuk persembahan kepada dewa-dewa yang mereka sembah.
Pemahaman tersebut kemudian diubah secara besar-besaran oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam. Melalui dakwahnya, Nabi Ibrahim memperkenalkan konsep agama etis, yakni ajaran yang menghadirkan Tuhan sebagai sosok yang penuh kasih dan menjunjung nilai moral kemanusiaan.
Baca Juga: Mengapa Kurban Sangat Dianjurkan? Ini Penjelasan Hukum dan Keutamaannya
Menurut Hamim, dakwah Nabi Ibrahim berhasil membentuk Millah Ibrahim yang kemudian menjadi dasar lahirnya agama-agama Ibrahimi seperti Islam, Yahudi, dan Kristen.
Nabi Ibrahim Mengakhiri Tradisi Kurban Manusia
Perubahan besar dalam sejarah kurban terjadi ketika Nabi Ibrahim mengganti praktik kurban manusia menjadi kurban hewan. Peristiwa itu dinilai sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah kemanusiaan.
Baca Juga: Ismail atau Ishaq? Ini Fakta Perdebatan Anak Nabi Ibrahim dalam Kisah Kurban dan Jawaban Gus Dur
Pergantian tersebut mengandung pesan mendalam agar manusia tidak lagi menjadikan sesama manusia sebagai korban persembahan.
“Dalam agama-agama Ibrahimi, kurban diubah dari kurban manusia ke kurban hewan,” tutur Hamim.
Makna Kurban Bukan Sekadar Persembahan
Baca Juga: Makna Kurban di Kodam Tanjungpura, Ajak Belajar Tak Terlalu Cinta Dunia
Meski demikian, seiring perjalanan waktu, sebagian masyarakat keturunan Nabi Ibrahim kembali meliputi praktik kurban dengan berbagai mitos.
Bangsa Arab keturunan Nabi Ismail misalnya, pernah meyakini darah dan daging kurban akan diterima langsung oleh Tuhan sebagai sesajen. Sementara di kalangan Yahudi, lembu dan kambing yang dibakar dianggap menghasilkan bau yang disenangi Tuhan.
Padahal dalam Islam, makna kurban sejatinya bukan terletak pada darah maupun daging hewan yang disembelih, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan manusia dalam menjalankan perintah Allah Subhanahuwata’ala.
Baca Juga: Jelang Iduladha, DPRD Kalbar Minta Pengawasan Hewan Kurban Diperketat dan Distribusi Dipermudah
Ibadah kurban pun akhirnya menjadi simbol pengorbanan, kepedulian sosial, dan bentuk pendekatan diri kepada Tuhan yang sarat nilai kemanusiaan.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina