PONTIANAK POST–Idul Adha menjadi momen istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia. Pada hari besar ini, umat Islam berlomba-lomba menunaikan ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan kepedulian kepada sesama.
Namun di balik suasana perayaan tersebut, ada kisah-kisah mengharukan dari masyarakat kecil yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, tetapi tetap memiliki tekad kuat untuk berkurban.
Beberapa di antaranya bahkan rela menabung bertahun-tahun demi bisa membeli hewan kurban. Mereka yang seharusnya menjadi penerima daging kurban justru berusaha menjadi pemberi. Kisah perjuangan pemulung ini dilansir dari laman idxchannel.com.
Baca Juga: Gus Ipul: Banyak Siswa Sekolah Rakyat Mantan Pengamen, Pengemis, dan Pemulung
Mak Yati, Menabung Tiga Tahun Demi Kambing Kurban
Salah satu kisah inspiratif datang dari Mak Yati, seorang pemulung yang tinggal di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.
Mak Yati hidup di sebuah gubuk sederhana berukuran 3x4 meter yang berada dekat tempat pembuangan sampah. Sehari-hari ia memulung sampah dari Tebet hingga Bukit Duri dengan penghasilan sekitar Rp25 ribu per hari.
Baca Juga: Jangan Salah Pilih, Ini Ketentuan Hewan Kurban yang Sah dalam Islam
Meski hidup serba kekurangan, Mak Yati memiliki keinginan besar untuk berkurban. Ia mengaku merasa malu jika terus menerus menerima daging kurban setiap tahun.
Karena itu, ia mulai menyisihkan sebagian kecil penghasilannya sedikit demi sedikit. Selama tiga tahun menabung, akhirnya uang yang terkumpul cukup untuk membeli dua ekor kambing bersama bantuan rekannya di kawasan Pancoran.
Kisah perjuangan Mak Yati sempat menarik perhatian banyak pihak hingga pemerintah memberikan bantuan program bedah rumah. Kini, Mak Yati diketahui telah pulang kampung dan menjalani kehidupan dengan bercocok tanam jagung.
Baca Juga: Mengapa Kurban Sangat Dianjurkan? Ini Penjelasan Hukum dan Keutamaannya
Nenek Sahnun Menabung Lima Tahun untuk Membeli Sapi
Kisah serupa datang dari Nenek Sahnun, seorang wanita berusia 62 tahun asal Lombok. Nenek Sahnun hidup sederhana dengan tidur di sebuah kios dekat Mall Mataram. Untuk bertahan hidup, ia memulung botol plastik setiap hari.
Dari hasil memulung sekitar dua karung botol plastik sehari, Nenek Sahnun perlahan mengumpulkan uang demi mewujudkan niat berkurban.
Baca Juga: Hukum Memotong Kuku dan Rambut Saat Kurban, Apakah Berlaku untuk Seluruh Keluarga?
Butuh waktu lima tahun hingga akhirnya uang sebesar Rp10 juta berhasil terkumpul untuk membeli seekor sapi kurban pada 2019 silam.
Panitia kurban bahkan disebut terkejut ketika menerima uang hasil tabungan Nenek Sahnun yang dikumpulkan dari jerih payah memulung.
Aep, Pemuda dengan Keterbatasan Bicara Ikut Berkurban
Baca Juga: Jelang Iduladha 2026, Dinas Peternakan Sambas Minta Panitia Kurban Laporkan Hewan Sembelihan
Kisah mengharukan lainnya datang dari Aep, seorang pemuda asal Bekasi yang bekerja sebagai pemulung.
Aep diketahui memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbicara dan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Namun hal itu tidak menghalangi niatnya untuk berkurban.
Setiap malam sejak pukul 9 malam hingga menjelang subuh, Aep memulung barang bekas di kawasan Taman Asri Dua, Teluk Pucung, Bekasi Utara.
Baca Juga: Cerita Inspiratif Jamaah Haji 2026, Ada yang Daftar Sejak Usia Satu Tahun
Hasil kerja kerasnya kemudian ditabung hingga cukup untuk membeli hewan kurban. Pada Juli 2021 lalu, Aep bahkan menyerahkan uang kurbannya dalam pecahan Rp2 ribuan.
Tekad Aep untuk tetap berkurban membuat banyak orang tersentuh. Kisahnya menjadi bukti ketulusan dan niat baik tidak ditentukan oleh keadaan ekonomi seseorang.
Keteguhan Hati yang Menginspirasi Banyak Orang
Baca Juga: Ismail atau Ishaq? Ini Fakta Perdebatan Anak Nabi Ibrahim dalam Kisah Kurban dan Jawaban Gus Dur
Kisah Mak Yati, Nenek Sahnun, dan Aep memperlihatkan ibadah kurban bukan sekadar tentang kemampuan finansial, tetapi juga tentang keikhlasan dan perjuangan.
Di tengah keterbatasan hidup, mereka tetap berusaha menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit demi bisa berbagi dengan sesama pada Hari Raya Idul Adha.
Perjuangan mereka pun menjadi inspirasi bahwa keteguhan hati dan niat baik mampu mengalahkan segala keterbatasan.
Editor : Silvina