PONTIANAK POST–Hari Kebangkitan Nasional setiap 20 Mei selalu menjadi momentum penting untuk mengenang lahirnya semangat persatuan dan kesadaran bangsa Indonesia. Namun di tengah derasnya arus digitalisasi saat ini, makna kebangkitan nasional terasa semakin menarik untuk direnungkan kembali.
Tulisan reflektif karya Choirul Anam, penulis partikelir dari laman media besar di Indonesia, menggambarkan bagaimana semangat Budi Utomo tetap relevan di tengah perkembangan teknologi dan media sosial modern.
Dalam refleksinya, Choirul Anam menggambarkan suasana pagi 20 Mei yang dipenuhi notifikasi media sosial, pesan pekerjaan, hingga ucapan Hari Kebangkitan Nasional.
Baca Juga: Dari Budi Utomo hingga Indonesia Modern, Ini Sejarah Harkitnas
Di balik rutinitas digital tersebut, muncul pertanyaan mendalam tentang apakah masyarakat saat ini benar-benar masih memiliki semangat kebangkitan seperti generasi terdahulu.
Budi Utomo Jadi Simbol Kesadaran Bangsa
Budi Utomo lahir pada 20 Mei 1908 dari gagasan kaum terpelajar bumiputra yang dipelopori Soetomo dan Wahidin Soedirohoesodo.
Baca Juga: Ruang Aman Perempuan di Era Digital
Organisasi tersebut tidak hanya menjadi wadah perjuangan, tetapi juga simbol lahirnya kesadaran kolektif bahwa pendidikan, persatuan, dan ilmu pengetahuan dapat menjadi jalan menuju kemajuan bangsa.
Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui rapat organisasi dan surat kabar, kini ruang perjuangan telah bergeser ke media sosial dan dunia digital.
Dunia Digital Jadi Tantangan Baru
Baca Juga: Pemkab Mempawah Sosialisasikan PP Tunas dan Permen Komdigi untuk Lindungi Anak di Dunia Digital
Choirul Anam menilai perkembangan teknologi memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk berkembang melalui pendidikan dan akses informasi yang luas.
Namun di sisi lain, media sosial juga memunculkan tantangan baru seperti banjir informasi palsu, polarisasi opini, hingga kecanduan digital yang dapat memengaruhi cara berpikir masyarakat.
Fenomena tersebut membuat semangat kebangkitan nasional perlu dimaknai ulang sesuai perkembangan zaman.
Baca Juga: BRI Singkawang Peringati Harkitnas ke-117
Menurutnya, media sosial bisa menjadi alat perjuangan modern jika dimanfaatkan untuk menyebarkan pengetahuan, membangun solidaritas, dan memperkuat literasi masyarakat.
Pendidikan Tetap Jadi Kunci Kebangkitan
Salah satu nilai utama yang diwariskan Budi Utomo adalah pentingnya pendidikan sebagai fondasi perubahan bangsa.
Baca Juga: Apakah Besok Libur? Ini Penjelasan Hari Kebangkitan Nasional dan Daftar Tanggal Merah Mei 2026
Di era digital saat ini, kesempatan belajar terbuka semakin luas melalui internet, video edukasi, hingga pendidikan daring.
Namun tantangan terbesar bukan lagi soal akses, melainkan bagaimana masyarakat mampu memanfaatkan teknologi untuk berkembang dan meningkatkan kualitas diri.
Semangat belajar, berpikir kritis, dan membangun kesadaran sosial menjadi bentuk kebangkitan modern yang dinilai tetap relevan hingga sekarang.
Baca Juga: Pancasila, Kebangkitan Nasional, dan Refleksi Praktik Bernegara
Menjadi Budi Utomo Baru di Era Modern
Dalam refleksinya, Choirul Anam juga mengajak generasi muda untuk menjadi “Budi Utomo baru” di era digital.
Perjuangan masa kini tidak selalu hadir dalam bentuk aksi besar, tetapi juga melalui langkah sederhana seperti membuat konten edukatif, membangun komunitas literasi, hingga menyebarkan informasi positif di media sosial.
Baca Juga: Diskominfo Kalbar Tegaskan Keamanan Siber Jadi Pilar Utama SPBE di Era Pemerintahan Digital
Hari Kebangkitan Nasional menjadi pengingat bangsa besar tidak hanya dibangun dengan kekuatan teknologi, tetapi juga oleh generasi yang memiliki kepedulian sosial, kreativitas, dan semangat belajar yang tinggi.
Semangat yang diwariskan Budi Utomo lebih dari satu abad lalu dinilai tetap hidup dan relevan untuk menghadapi tantangan zaman modern.
Editor : Silvina