Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mengenal Gajah Borneo: Populasi Tinggal Puluhan Ekor, Satwa Langka yang Kehilangan Habitat di Pulau Kalimantan

Aristono Edi Kiswantoro • Jumat, 29 Mei 2026 | 01:03 WIB
Gajah Borneo atau Elephas maximus borneensis. (FOTO: WWF Indonesia)
Gajah Borneo atau Elephas maximus borneensis. (FOTO: WWF Indonesia)

 

PONTIANAK POST - Di balik lebatnya hutan tropis Kalimantan, hidup spesies gajah terkecil di Asia yang kini berada di ambang kepunahan. Satwa itu dikenal sebagai Gajah Borneo atau gajah kerdil Kalimantan dengan tinggi tubuh maksimal sekitar 2,5 meter.

Populasi Gajah Borneo di Indonesia diperkirakan hanya tersisa sekitar 30 hingga 80 individu. Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding populasi di Sabah, Malaysia, yang mencapai 1.500 hingga 2.000 individu.

WWF-Indonesia menyebut Gajah Borneo menjadi salah satu spesies penting di kawasan Heart of Borneo atau Jantung Kalimantan, bentang hutan lintas negara yang menjadi rumah berbagai satwa langka.

Meski bertubuh lebih kecil dibanding Gajah Sumatera, Gajah Borneo membutuhkan habitat sangat luas untuk bertahan hidup. Dalam sehari, satwa ini dapat berjalan sejauh 7 hingga 13 kilometer untuk mencari makan, air, dan tempat berlindung.

Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Indonesia 2007–2017 dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menyebut gajah merupakan satwa dengan pola hidup berkelompok dan memiliki daerah jelajah luas yang bergantung pada ketersediaan pakan serta kondisi habitat.

“Kelompok gajah bergerak dari satu wilayah ke wilayah yang lain, dan memiliki daerah jelajah yang terdeterminasi mengikuti ketersediaan makanan, tempat berlindung, dan berkembang biak,” tulis dokumen tersebut.

Ancaman terbesar Gajah Borneo saat ini adalah hilangnya habitat akibat deforestasi, perkebunan sawit, pertambangan, dan pembangunan infrastruktur.

Dokumen konservasi pemerintah mencatat laju kerusakan hutan Indonesia pada periode 1985 hingga 1997 mencapai sekitar 1 juta hektare per tahun dan meningkat menjadi 1,7 juta hektare pada akhir 1990-an.

Sebagian besar habitat gajah berada di luar kawasan konservasi. Analisis pemerintah menunjukkan sekitar 85 persen populasi gajah hidup di luar kawasan lindung sehingga sangat rentan terdampak pembukaan lahan dan pembangunan.

Fragmentasi habitat membuat jalur jelajah gajah terputus. Hutan yang dulu menjadi tempat gajah mencari makan kini berubah menjadi perkebunan sawit, permukiman, dan kawasan industri.

Menyusutnya habitat membuat konflik manusia dan gajah semakin sering terjadi. Kawanan gajah yang kehilangan ruang hidup mulai memasuki kebun dan lahan warga untuk mencari makan.

Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Indonesia menyebut konflik manusia dan gajah menjadi ancaman serius bagi kedua belah pihak.

“Konflik dapat berakhir dengan korban di kedua belah pihak tetapi umumnya korban kematian gajah akibat konflik lebih banyak terjadi,” tulis dokumen tersebut.

Di Kalimantan Utara, tim mitigasi konflik bahkan harus menggiring gajah kembali ke hutan menggunakan meriam karbit agar tidak merusak perkebunan masyarakat.

Dalam dokumen konservasi pemerintah, populasi gajah Sumatera diperkirakan telah turun sekitar 35 persen sejak 1992. Sementara itu, populasi Gajah Borneo di Indonesia dinilai sangat rentan karena jumlahnya kecil dan habitatnya terfragmentasi.

Pemerintah menyebut kemampuan reproduksi gajah yang lambat membuat spesies ini sangat rentan terhadap kepunahan. Gajah betina hanya melahirkan satu anak dengan masa kehamilan sekitar 21 bulan dan jarak antar kelahiran sekitar empat tahun.

Dengan kondisi tersebut, kehilangan satu individu saja dapat memengaruhi keberlangsungan populasi jangka panjang.

Selain konflik dan hilangnya habitat, perburuan gading ilegal juga menjadi ancaman serius bagi populasi gajah di Indonesia.

Dokumen konservasi mencatat di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan terdapat 12 pemburu dan pengepul gading yang diduga telah memperdagangkan 1.260 kilogram gading sejak 2003. Jumlah itu diperkirakan setara dengan kematian 47 ekor gajah.

Sementara di Way Kambas, perdagangan 1.785 kilogram gading diperkirakan berkaitan dengan kematian sekitar 52 ekor gajah.

Keberadaan Gajah Borneo bukan sekadar simbol satwa liar Kalimantan. Satwa ini memiliki peran penting menjaga regenerasi hutan tropis melalui penyebaran biji tanaman dan pembukaan jalur alami di dalam hutan.

Karena itu, hilangnya Gajah Borneo dikhawatirkan ikut merusak keseimbangan ekosistem hutan Kalimantan yang menjadi salah satu paru-paru dunia.

Visi konservasi gajah Indonesia sendiri menegaskan harapan agar “manusia hidup berdampingan dengan gajah secara harmonis”.

Fakta Keterangan
Nama ilmiah Elephas maximus borneensis
Julukan Gajah kerdil Kalimantan
Status konservasi Terancam punah
Populasi di Indonesia Sekitar 30–80 individu
Habitat Kalimantan Utara dan Sabah
Ancaman utama Deforestasi, sawit, konflik manusia-gajah
Kebutuhan jelajah 7–13 km per hari
Sebaran habitat Mayoritas di luar kawasan konservasi
Upaya konservasi Koridor habitat, mitigasi konflik, survei populasi

Pemerintah dan pegiat konservasi kini mendorong pembangunan yang lebih memperhatikan ruang hidup satwa liar. Strategi konservasi menekankan pentingnya koridor habitat, restorasi hutan, serta integrasi jalur jelajah gajah dalam tata ruang pembangunan.

Penampakan Gajah Kalimantan atau Gajah Borneo di Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto WWF Indonesia - wwf.id)
Penampakan Gajah Kalimantan atau Gajah Borneo di Nunukan, Kalimantan Utara. (Foto WWF Indonesia - wwf.id)

 

Jika hutan terus menyusut tanpa perlindungan serius, Gajah Borneo bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga berisiko hilang selamanya dari alam Indonesia. **

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#elephas maximus borneensis #populasi #kalimantan #Borneo #gajah